Kelaparan di Afrika: Sebuah Paradoks Global di Tengah Gelombang Militarisasi Dunia
Kelaparan di Afrika: Sebuah Paradoks Global di Tengah Gelombang Militarisasi Dunia
I. Pendahuluan: Krisis Kemanusiaan yang Terabaikan
Sementara dunia memasuki tahun 2026, Afrika Tengah dan Barat menghadapi krisis kelaparan yang mengancam 55 juta jiwa. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan kegagalan fundamental peradaban global kita. Di saat yang sama, belanja militer dunia mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah: $2,7 triliun pada tahun 2024, dengan proyeksi dapat mencapai $4,7 hingga $6,6 triliun pada tahun 2035.
Paradoks ini mengungkap prioritas yang keliru dari komunitas internasional. Dunia memiliki sumber daya yang cukup untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem—namun memilih mengalokasikannya untuk instrumen perang.
II. Disparitas yang Mencengangkan
1. Biaya Mengakhiri Kemiskinan vs. Belanja Militer
Penelitian terkini dari Center for Effective Global Action (CEGA) menunjukkan bahwa mengentaskan kemiskinan ekstrem global membutuhkan sekitar $318 miliar per tahun—atau hanya 0,3% dari GDP global. Jumlah ini dapat menyelamatkan hampir 700 juta orang dari garis kemiskinan $2,15 per hari.
Bandingkan dengan belanja militer global tahun 2024 yang mencapai $2,7 triliun. Artinya, dunia menghabiskan hampir 9 kali lipat lebih banyak untuk alat-alat perang daripada yang dibutuhkan untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dengan tegas menyatakan: "Dunia menghabiskan jauh lebih banyak untuk berperang daripada membangun perdamaian." Belanja militer tahun 2024 setara dengan 750 kali anggaran reguler PBB, dan hampir 13 kali lipat dari total bantuan pembangunan yang diberikan oleh negara-negara OECD.
2. Pilihan Prioritas yang Fatal
Mari kita pahami implikasi konkret dari pilihan ini:
Dengan $2,7 triliun yang dihabiskan untuk militer pada 2024, dunia bisa:
- Mengakhiri kemiskinan ekstrem global ($318 miliar)
- Menyediakan pendidikan untuk semua anak di negara berpenghasilan rendah dan menengah
- Mengeliminasi malnutrisi anak secara global
- Mendanai adaptasi perubahan iklim di negara berkembang
- Mencapai Sustainable Development Goals (SDGs)
- Dan masih menyisakan lebih dari $2 triliun
Namun realitasnya? Hanya satu dari lima target SDG yang berada di jalur pencapaian yang benar. Lebih dari 3,8 miliar orang—hampir separuh populasi dunia—tidak memiliki perlindungan sosial sama sekali.
III. Konteks Afrika: Ketika Bantuan Dipotong, Senjata Terus Mengalir
Afrika menjadi korban paling tragis dari prioritas global yang keliru ini. Saat 55 juta orang di Afrika Tengah dan Barat menghadapi krisis kelaparan tingkat "krisis", bantuan kemanusiaan justru mengalami pemotongan drastis—terutama dari Amerika Serikat dan negara donor utama lainnya.
Ironisnya, pemotongan bantuan ini terjadi bersamaan dengan eskalasi belanja pertahanan global. Empat negara Afrika—Nigeria, Mali, Burkina Faso, dan Niger—berjuang mengatasi kelaparan massal, sementara negara-negara maju berlomba meningkatkan anggaran militer mereka.
Dampak Konkret Pemotongan Bantuan
Ketika bantuan pangan dipangkas, konsekuensinya langsung dan mematikan:
- Anak-anak mengalami malnutrisi akut yang mengancam nyawa
- Ibu hamil dan menyusui kehilangan akses ke nutrisi esensial
- Keluarga terpaksa menjual aset produktif mereka, menciptakan siklus kemiskinan yang berkelanjutan
- Konflik memperebutkan sumber daya yang semakin langka meningkat
- Generasi masa depan kehilangan kesempatan berkembang karena stunting dan keterbatasan kognitif
IV. Negara-negara Maju: Investasi Triliunan untuk Instrumen Kematian
1. Profil Belanja Militer 2024
a. Amerika Serikat memimpin dengan belanja $997 miliar (37% dari total global), meningkat 5,7% dari tahun sebelumnya. Ini setara dengan 3,4% dari GDP-nya. Jumlah ini hampir 9 kali lipat dari yang diperlukan untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem global selama tiga tahun berturut-turut.
b. China menempati posisi kedua dengan $314 miliar, naik 7% dari 2023—kenaikan tahun ke-33 berturut-turut. Selama dekade terakhir, belanja militer China meningkat 59%.
c. Rusia meningkatkan belanja militernya 38% menjadi $149 miliar, di tengah konflik Ukraina.
d. Negara-negara NATO secara kolektif menyumbang 55% dari belanja militer global. Mereka kini bergerak dari target 2% GDP menjadi 3,5% bahkan 5% GDP untuk pertahanan—sebuah eskalasi yang akan menambah beban triliunan dollar dalam dekade mendatang.
2. Eropa: Prioritas Senjata di Atas Kesejahteraan
Negara-negara Uni Eropa mencapai belanja militer agregat $370 miliar pada 2024, meningkat 17%—tingkat tertinggi sejak akhir Perang Dingin. Jerman sendiri meningkatkan belanja militernya 28%, menjadikannya investor militer terbesar di Eropa untuk pertama kalinya sejak reunifikasi.
Komisi Eropa telah memfasilitasi penggunaan program sipil untuk proyek militer, termasuk program lingkungan LIFE, dana transportasi dan regional, bahkan mendorong aktor keuangan swasta dan European Investment Bank untuk berinvestasi di perusahaan senjata.
Rencana tambahan €800 miliar untuk belanja militer dalam empat tahun ke depan akan, cepat atau lambat, menggerus anggaran kesehatan, pendidikan, pensiun, dan upaya melawan perubahan iklim .
V. Kutipan Peringatan Global: Suara-suara yang Harus Didengar
1. António Guterres, Sekretaris Jenderal PBB
"Bukti sudah jelas: belanja militer yang berlebihan tidak menjamin perdamaian. Seringkali justru merongrong perdamaian—memicu perlombaan senjata, memperdalam ketidakpercayaan, dan mengalihkan sumber daya dari fondasi stabilitas yang sesungguhnya."
"Menyeimbangkan kembali prioritas global bukan pilihan—ini imperatif untuk kelangsungan hidup umanitas."
2. Izumi Nakamitsu, Kepala Urusan Perlucutan Senjata PBB
"Saat ini dunia menghabiskan jauh lebih banyak untuk mesin perang daripada untuk membangun fondasi perdamaian yang berkelanjutan. Kita harus bertanya pada diri sendiri: keamanan seperti apa yang kita ciptakan dengan pilihan ini?"
3. Haoliang Xu, Wakil Kepala UNDP
"Ketika kehidupan masyarakat membaik, ketika mereka memiliki akses ke pendidikan, layanan kesehatan, peluang ekonomi, dan ketika mereka dapat hidup dengan bermartabat dan penentuan nasib sendiri, kita akan memiliki masyarakat yang lebih damai dan dunia yang lebih damai."
4. Laëtitia Sedou, Advokat Eropa untuk Perdamaian
"Antara eksaserbasi perlombaan senjata global dan pertahanan hegemoni yang diperebutkan, militarisasi Uni Eropa juga mengancam perdamaian dan keamanan warganya. Rencana belanja militer tambahan akan mengurangi pengeluaran publik untuk layanan esensial."
5. Jordi Calvo, Koordinator Centre Delàs
"Komitmen terhadap militarisasi oleh kekuatan-kekuatan besar, bersama dengan ketidakpastian politik internasional, menjauhkan peluang perdamaian dalam beberapa konflik bersenjata utama dan meningkatkan kemungkinan memilih solusi militer di wilayah dengan ketegangan laten."
V. Konsekuensi Trade-off: Apa yang Dunia Korbankan
1. Kesehatan
Analisis statistik menunjukkan bahwa di negara berpenghasilan rendah dan menengah, setiap kenaikan 1% dalam belanja militer sebagai bagian dari GDP dikaitkan dengan pengurangan hampir setara dalam pengeluaran kesehatan.
Pada 2024, Official Development Assistance (ODA) dari negara-negara OECD mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam enam tahun. AS memangkas USAID secara drastis, sementara Inggris memotong ODA dari 0,5% menjadi 0,3% dari GNI—dengan secara eksplisit mengalihkan selisihnya ke belanja militer.
2. Pendidikan
Sumber daya yang dialokasikan untuk senjata adalah sumber daya yang tidak diinvestasikan dalam sistem pendidikan. Jutaan anak di negara berkembang tidak memiliki akses ke pendidikan dasar, sementara negara-negara maju meningkatkan anggaran untuk jet tempur dan sistem rudal.
3. Iklim dan Lingkungan
Dana yang diperlukan untuk adaptasi perubahan iklim di negara berkembang—yang menjadi korban terbesar krisis iklim meskipun kontribusi emisi mereka minimal—terus kurang. Namun negara-negara maju dengan mudah menemukan triliunan untuk membeli senjata.
4. Perlindungan Sosial
Menjamin lantai keamanan sosial dasar di negara berpenghasikan rendah dan menengah membutuhkan tambahan $1,4 triliun per tahun. Jumlah ini hanya separuh dari belanja militer global 2024. Namun 3,8 miliar orang, termasuk 1,4 miliar anak, masih hidup tanpa perlindungan sosial sama sekali.
VI. Ukraina: Simbol Kontradiksi Global
Ukraina menyajikan ilustrasi paling dramatis tentang prioritas terbalik dunia. Negara ini memiliki beban militer tertinggi di dunia—34,5% dari GDP-nya —karena mempertahankan diri dari agresi. Belanja militernya pada 2024 hampir 10 kali lipat level 2021.
Namun pertanyaannya bukan tentang hak Ukraina untuk membela diri—itu tidak terbantahkan. Pertanyaannya adalah: mengapa dunia yang dapat menemukan ratusan miliar dollar untuk mengirim senjata ke zona konflik, tidak dapat menemukan $318 miliar untuk mengangkat 700 juta orang dari kemiskinan ekstrem?
Mengapa komunitas internasional dapat dengan cepat memobilisasi dukungan militer masif, tetapi terus gagal memberikan komitmen serupa untuk kelaparan di Afrika, malnutrisi anak global, atau krisis iklim?
VII. Logika Militarisasi yang Keliru
1. Mitos "Keamanan Melalui Kekuatan"
Negara-negara maju beroperasi dengan asumsi yang cacat: bahwa meningkatkan persenjataan menciptakan keamanan. Namun data menunjukkan sebaliknya.
Meskipun belanja militer global meningkat selama 10 tahun berturut-turut, keamanan global justru terus memburuk . Jumlah konflik bersenjata, perpindahan paksa, dan kekerasan bersenjata berada di level tertinggi dalam beberapa dekade.
Dari perang di Ukraina hingga genosida di Gaza, dari konflik di Sudan hingga Myanmar, dari Republik Demokratik Kongo hingga Yaman—dunia menyaksikan penggunaan senjata dalam perang dan konflik bersenjata yang meningkat tajam, bukan menurun.
2. Siklus Perlombaan Senjata
Ketika satu negara meningkatkan belanja militer, negara lain merasa terancam dan merespons dengan kenaikan serupa. Ini menciptakan spiral perlombaan senjata yang:
- Memboroskan sumber daya produktif
- Meningkatkan ketegangan regional
- Mengalihkan investasi dari pembangunan berkelanjutan
- Meningkatkan risiko konflik yang justru ingin dihindari
Seperti yang dinyatakan oleh Sekretaris Jenderal PBB, belanja militer yang berlebihan "seringkali merongrong [perdamaian]—memicu perlombaan senjata, memperdalam ketidakpercayaan, dan mengalihkan sumber daya dari fondasi stabilitas yang sesungguhnya."
VIII. Siapa yang Diuntungkan?
1. Industri Persenjataan: Pemenang Tunggal
Sementara jutaan orang kelaparan, industri persenjataan global meraup keuntungan rekor. Tiga dari empat produsen senjata terbesar di dunia berbasis di negara-negara NATO. Target belanja pertahanan yang terus meningkat—dari 2% menjadi 3,5% bahkan 5% GDP—adalah impian terindah bagi perusahaan-perusahaan senjata.
2. Biaya untuk Kemanusiaan
Namun bagi umat manusia, eskalasi militarisasi ini adalah bencana. Setiap dollar yang dihabiskan untuk rudal adalah dollar yang tidak digunakan untuk:
- Makanan bagi anak-anak yang kelaparan
- Vaksin untuk mencegah penyakit yang dapat dicegah
- Sekolah untuk mendidik generasi masa depan
- Infrastruktur untuk pembangunan ekonomi
- Teknologi hijau untuk menyelamatkan planet
3. Solusi Alternatif: Menuju Keamanan Bersama
4. Konsep Keamanan Sejati
Keamanan sejati tidak datang dari gudang senjata yang penuh, tetapi dari:
- Keadilan ekonomi: Ketika orang memiliki kesempatan untuk kehidupan yang bermartabat, konflik berkurang
- Pendidikan universal : Pendidikan adalah investasi perdamaian jangka panjang
- Kesehatan untuk semua : Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang stabil
- Kesetaraan dan inklusi : Ketika kesenjangan berkurang, ketegangan sosial mereda
- Keberlanjutan lingkungan : Krisis iklim adalah ancaman keamanan terbesar—bukan yang dapat diatasi dengan senjata
5. Apa yang Dapat Dilakukan dengan $2,7 Triliun?
Jika dunia mengalokasikan ulang bahkan seperempat dari belanja militer 2024 ($675 miliar), kita dapat:
1. Mengakhiri kemiskinan ekstrem global ($318 miliar) ✓
2. Menyediakan pendidikan dasar universal di negara berkembang ($39 miliar) ✓
3. Memberikan akses air bersih dan sanitasi untuk semua ($114 miliar) ✓
4. Mengeliminasi kelaparan global ($267 miliar untuk program pangan berkelanjutan) ✓
Dan masih menyisakan puluhan miliar untuk investasi dalam energi terbarukan, adaptasi iklim, dan pembangunan berkelanjutan.
6. Panggilan untuk Perubahan Paradigma
Sekretaris Jenderal PBB merekomendasikan:
1. Debat Tahunan Majelis Umum khusus untuk meninjau belanja militer global dan kemajuan SDGs hingga 2030
2. Mengintegrasikan perlucutan senjata dalam diskusi pembangunan berkelanjutan
3. Transparansi dan akuntabilitas seputar belanja militer untuk membangun kepercayaan antar negara
4. Mengalihkan bahkan sebagian kecil dari belanja militer untuk menutup kesenjangan vital dalam pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial
IX. Kesimpulan: Pilihan Moral Peradaban
Dunia berada di persimpangan jalan. Kita memiliki pilihan:
a. Jalur Pertama : Melanjutkan eskalasi militarisasi, menginvestasikan triliunan dalam alat-alat pembunuhan massal, sambil membiarkan jutaan orang—terutama di Afrika—mati kelaparan. Jalur ini dijamin menciptakan dunia yang lebih tidak aman, tidak adil, dan tidak berkelanjutan.
b. Jalur Kedua : Menyeimbangkan kembali prioritas global, mengalihkan sumber daya dari instrumen perang ke fondasi perdamaian sejati—keadilan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan keberlanjutan. Jalur ini menawarkan harapan untuk masa depan yang lebih aman dan bermartabat bagi semua.
Paradoks kelaparan Afrika di tengah belanja militer triliunan dollar adalah ujian moral bagi peradaban kita . Ini bukan tentang ketidakmampuan—dunia memiliki sumber daya yang cukup. Ini tentang pilihan prioritas .
Ketika sejarah menilai era kita, apa yang akan dicatat? Bahwa kita memilih senjata daripada roti? Bahwa kita mengutamakan instrumen kematian daripada kehidupan? Atau bahwa kita akhirnya menemukan kebijaksanaan untuk menempatkan kemanusiaan di atas militarisme?
Fakta keras ini harus menjadi peringatan global : Setiap anak yang mati kelaparan di Afrika sementara triliunan dollar dihabiskan untuk senjata adalah tuduhan terhadap prioritas kolektif kita. Setiap keluarga yang jatuh ke dalam kemiskinan saat anggaran pertahanan melonjak adalah pengingat akan kegagalan kepemimpinan global kita.
Dunia tidak kekurangan sumber daya untuk mengakhiri kelaparan dan kemiskinan. Dunia kekurangan kemauan politik untuk memprioritaskan kehidupan manusia daripada mesin perang.
Pertanyaan untuk kita semua : Sampai kapan kita akan menerima status quo yang tidak bermoral ini? Kapan kemanusiaan akan mengklaim kembali kendali atas nasibnya sendiri dan memilih investasi dalam kehidupan, bukan kematian?
Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan bukan hanya nasib 55 juta orang yang kelaparan di Afrika, tetapi masa depan peradaban manusia itu sendiri.
"Dunia menghabiskan jauh lebih banyak untuk berperang daripada membangun perdamaian. Mengubah prioritas global bukan pilihan—ini imperatif untuk kelangsungan hidup umanitas." — António Guterres, Sekretaris Jenderal PBB
Komentar
Posting Komentar