Teori dan Praktik: Ekonomi Big Bang AI karya Asep Rohmandar

Teori dan Praktik: Ekonomi Big Bang AI karya Asep Rohmandar

Untuk menjawab permintaan diskusi yang secara logis dan praktis, mari kita uraikan teori yang ditawarkan Asep Rohmandar dan bagaimana penerapannya bisa dilakukan di lapangan.

1. Teori Ekonomi Big Bang AI
- Paradigma Baru: AI bukan sekadar teknologi, tetapi instrumen pemerataan ekonomi.  
- Hipotesis Utama: Semakin tinggi AI readiness (kesiapan adopsi AI), semakin rendah ketimpangan pendapatan (rasio Gini).  
- Kerangka Konseptual:  
  - AI-inclusive growth theory → pertumbuhan ekonomi berbasis partisipasi digital.  
  - AI dividend redistribution → keuntungan dari AI harus dibagikan ke sektor mikro.  
  - AI Cooperative Economy Model (AI-CEM) → koperasi berbasis AI sebagai wadah pemerataan.  

2. Praktik Implementasi
- Pendidikan & Literasi Digital  
  - Program pelatihan AI untuk masyarakat bawah.  
  - Integrasi kurikulum digital di sekolah menengah dan madrasah.  

- Kebijakan Publik  
  - Subsidi teknologi untuk UMKM agar bisa mengakses AI.  
  - Regulasi redistribusi keuntungan perusahaan berbasis AI ke sektor sosial.  

- Ekonomi Mikro  
  - Pendirian koperasi digital berbasis AI (AI-CEM) untuk mengelola data, produksi, dan distribusi.  
  - Platform AI lokal untuk membantu petani, nelayan, dan pengrajin meningkatkan produktivitas.  

- Ekonomi Makro  
  - Integrasi AI dalam sistem fiskal untuk transparansi pajak dan distribusi subsidi.  
  - Penerapan AI governance untuk menghindari monopoli teknologi oleh segelintir elite.  

3. Contoh Aplikasi Nyata
- Pertanian: AI digunakan untuk prediksi cuaca dan hasil panen, lalu koperasi AI mendistribusikan keuntungan secara adil.  
- Kesehatan: AI membantu diagnosis cepat di daerah terpencil, dengan biaya ditanggung koperasi digital.  
- UMKM: AI dipakai untuk analisis pasar dan pemasaran digital, sehingga usaha kecil bisa bersaing dengan perusahaan besar.  

4. Kesimpulan
Secara teori, Asep Rohmandar menekankan bahwa AI harus menjadi instrumen pemerataan, bukan sekadar alat produksi.  
Secara praktis, hal ini bisa diwujudkan melalui pendidikan digital, kebijakan redistribusi, koperasi berbasis AI, dan penerapan teknologi di sektor mikro.  

Dengan pendekatan ini, Big Bang AI bukan hanya revolusi teknologi, tetapi juga revolusi sosial-ekonomi yang berorientasi pada keadilan dan kesejahteraan inklusif.  

Bandung, 1 Maret 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skenario Anggaran PBB yang Inklusif untuk Mewujudkan Tatanan Dunia Baru dan Sustainable Development Goals 2030 serta Post-SDGs yang Berkeadilan

Esai: Teori dan Praktik Ekonomi Teonomik-Humanistik

Mencari Filosofis dari Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara