Jurnal: SIMU POLARA Jurnal Ilmu Politik

Jurnal: SIMU  POLARA Jurnal Ilmu Politik, Vol. 1, No. 2,  Mei- Juni 2026                                                                                        Diterima: 9 April 2026
Direvisi:  14  April 2026
Disetujui: 1 Mei 2026                                                                                                          Peta Politik Global dalam Skenario Konflik Terbuka AS-Israel vs Iran: Sebuah Analisis Geopolitik

Penulis Oleh:  Asep Rohmandar                    Tim Analisis Geopolitik Global dan Presiden Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda, Nusantara, Indonesia
Email : rohmandarasep54@gmail.com

ABSTRAK

Penelitian ini menyajikan analisis skenario (scenario analysis) mengenai peta politik global dalam situasi hipotetis terjadinya konflik terbuka skala penuh antara koalisi Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Dengan menggunakan data geopolitik aktual hingga awal 2026, kajian ini memproyeksikan dinamika konflik yang mungkin terjadi, mencakup dimensi militer, politik internal Iran, peran aktor regional (Arab Saudi, Turki, negara-negara Teluk), keterlibatan kekuatan besar (Rusia dan China), serta dampak ekonomi global melalui gangguan rantai pasok energi. Metodologi yang digunakan adalah analisis skenario kualitatif dengan pendekatan sistemik, mengintegrasikan variabel kekuatan militer, ketahanan rezim, jaringan proxy, diplomasi energi, dan koalisi internasional. Hasil analisis menunjukkan bahwa konflik terbuka antara AS-Israel dan Iran berpotensi melampaui eskalasi lokal menjadi krisis global yang multidimensional, dengan dampak paling signifikan pada stabilitas kawasan Timur Tengah, keteraturan tatanan global berbasis aturan, serta ketahanan energi dan pangan dunia. Kajian ini menyimpulkan bahwa dalam skenario konflik tersebut, tidak ada pihak yang dapat meraih kemenangan absolut, dan peta politik global pascakonflik akan ditandai oleh pergeseran kekuatan multipolar yang lebih terfragmentasi.

Kata Kunci: geopolitik, Timur Tengah, AS-Israel-Iran, keamanan energi, analisis skenario, tatanan global


Abstract

This study presents a scenario analysis of the global political landscape in a hypothetical situation of a full-scale open conflict between the United States–Israel coalition and Iran. Using actual geopolitical data up to early 2026, the study projects possible conflict dynamics, encompassing military dimensions, Iran’s internal politics, the role of regional actors (Saudi Arabia, Turkey, Gulf states), the involvement of major powers (Russia and China), as well as global economic impacts through disruptions in energy supply chains. The methodology employed is qualitative scenario analysis with a systemic approach, integrating variables such as military strength, regime resilience, proxy networks, energy diplomacy, and international coalitions. The results indicate that an open conflict between the US–Israel and Iran has the potential to escalate beyond local confrontation into a multidimensional global crisis, with the most significant impacts on Middle Eastern stability, the rule-based global order, and global energy and food security. The study concludes that in such a conflict scenario, no party can achieve an absolute victory, and the post-conflict global political map will be marked by a more fragmented shift toward multipolar power.

Keywords  
Geopolitics, Middle East, US–Israel–Iran, energy security, scenario analysis, global order

DOI: https://doi.org/10.3124/simu.v1i1.2026


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Timur Tengah telah lama menjadi episentrum ketegangan geopolitik global. Di antara sekian banyak poros konflik di kawasan ini, hubungan antara Iran di satu sisi dan Amerika Serikat serta Israel di sisi lain merupakan salah satu garis patahan (fault line) yang paling berbahaya. Sejak Revolusi Islam 1979, permusuhan antara Tehran dan Washington telah membentuk dinamika kekuasaan di Asia Barat, sementara konflik proksi antara Iran dan Israel telah berlangsung selama beberapa dekade melalui medan pertempuran di Lebanon, Suriah, Gaza, dan Yaman.

Namun, belum pernah terjadi konflik bersenjata terbuka skala penuh antara ketiga negara tersebut. Semua ketegangan yang terjadi selama ini masih berada dalam ranah perang proksi, serangan tersembunyi, sabotase, dan perang siber. Pertanyaan mendasar yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Bagaimana peta politik global akan berubah jika konflik proksi yang sudah berlangsung lama ini meledak menjadi perang konvensional terbuka antara AS-Israel dan Iran?

Tujuan dan Signifikansi Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengidentifikasi variabel-variabel kunci yang akan menentukan dinamika konflik dalam skenario perang terbuka AS-Israel vs Iran.
2. Menganalisis bagaimana berbagai aktor regional (Arab Saudi, Turki, negara-negara Teluk, Yaman, Lebanon, Irak, Suriah) dan global (Rusia, China, Uni Eropa, NATO) akan merespons dan memposisikan diri.
3. Memetakan dampak ekonomi global dari konflik tersebut, khususnya terhadap keamanan energi, rantai pasok, dan stabilitas keuangan internasional.
4. Menyusun proyeksi tentang tatanan geopolitik pascakonflik dan implikasi jangka panjangnya terhadap tata kelola global.

Signifikansi penelitian ini terletak pada upayanya untuk mengisi kekosongan analitis dalam literatur tentang konflik AS-Israel vs Iran, yang sebagian besar masih bersifat historis-retrospektif atau terlalu fokus pada dimensi ketegangan yang sudah ada tanpa mengeksplorasi skenario eskalasi penuh secara sistematis.

Metodologi dan Kerangka Analisis

Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis skenario (scenario analysis) yang dikombinasikan dengan kerangka geopolitik sistemik. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan masa depan tanpa harus terikat pada prediksi deterministik. Data yang digunakan berasal dari sumber-sumber terbuka (open-source intelligence/OSINT) terpercaya seperti laporan lembaga think tank internasional (Chatham House, IISS, CSIS, RUSI), data intelijen terbuka, publikasi media global (BBC, Reuters, Al Jazeera, The Guardian, Asia Times), serta analisis dari lembaga keuangan internasional (IMF, World Bank, Deloitte).

Kerangka analisis yang digunakan mencakup lima dimensi utama:

Dimensi Indikator Utama
Militer-Stratejik Keseimbangan kekuatan, kapabilitas rudal dan drone, sistem pertahanan udara, postur nuklir
Politik Internal Stabilitas rezim, suksesi kepemimpinan, kohesi elite, perlawanan sipil
Regional-Jaringan Kekuatan poros perlawanan (Axis of Resistance), posisi negara-negara Teluk, keterlibatan Turki
Global-Kekuatan Besar Posisi Rusia dan China, kesatuan NATO, respons Uni Eropa, peran PBB
Ekonomi-Energi Gangguan Selat Hormuz, harga minyak global, inflasi, rantai pasok pangan

Sistematika Penulisan

Artikel ini disusun dalam enam bagian utama. Bagian pertama membahas asumsi dasar dan pemicu konflik. Bagian kedua menguraikan peta kekuatan militer dan kapabilitas strategis masing-masing pihak. Bagian ketiga menganalisis respons dan posisi aktor-aktor regional. Bagian keempat mengkaji dinamika kekuatan besar. Bagian kelima memproyeksikan dampak ekonomi global. Bagian keenam menyajikan kesimpulan dan proyeksi pasca-konflik.


TINJAUAN PUSTAKA: KETEGANGAN AS-IRAN DALAM PERSPEKTIF HISTORIS

Untuk memahami bagaimana konflik terbuka antara AS-Israel dan Iran akan berkembang, penting untuk meninjau dinamika ketegangan yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Secara historis, permusuhan antara Amerika Serikat dan Iran dimulai setelah Revolusi 1979 dan penyanderaan staf kedutaan AS di Tehran. Sejak saat itu, Washington telah menerapkan berbagai kebijakan sanksi dan tekanan ekonomi terhadap Iran.

Salah satu titik krusial dalam hubungan AS-Iran adalah penarikan Amerika Serikat dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) atau "kesepakatan nuklir Iran" pada tahun 2018 di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Keputusan ini diikuti dengan penerapan kebijakan "tekanan maksimum" (maximum pressure) yang memperketat sanksi ekonomi terhadap Iran.

Sejak saat itu, Iran secara bertahap meningkatkan pengayaan uraniumnya melampaui batas-batas yang ditetapkan dalam JCPOA. Berdasarkan data IAEA, pada pertengahan 2025 Iran telah mengakumulasi sekitar 972 pon uranium yang diperkaya hingga kemurnian 60%, meningkat tajam dari 605,8 pon pada Februari 2025 dan 267,9 pon setahun sebelumnya. Data IAEA juga menunjukkan bahwa 92,5 pon pada tingkat pengayaan ini cukup untuk membuat satu bom nuklir jika diperkaya lebih lanjut hingga kemurnian 90% yang setara senjata.

Hubungan Iran dengan Israel, di sisi lain, memiliki dinamika yang berbeda. Konflik antara kedua negara sebagian besar terjadi melalui perang proksi di Lebanon (melalui Hizbullah), Suriah (melalui milisi pro-Iran), Gaza (melalui Hamas), dan Yaman (melalui Houthi). Israel secara konsisten menyatakan bahwa Iran merupakan ancaman eksistensial, terutama karena program nuklir Iran dan dukungan Tehran terhadap kelompok-kelompok yang memusuhi Israel.

Namun, konflik terbuka langsung antara kedua negara belum pernah terjadi. Serangan udara Israel terhadap fasilitas-fasilitas Iran di Suriah, serta dugaan sabotase terhadap program nuklir Iran, telah terjadi, tetapi semua itu masih dalam ranah "perang bayangan" (shadow war). Dalam skenario yang dianalisis dalam penelitian ini, kami mengasumsikan bahwa "perang bayangan" tersebut telah melampaui titik tidak bisa kembali (point of no return) dan berubah menjadi konflik konvensional terbuka.


PEMBAHASAN

A. Dinamika Konflik: Dari Eskalasi Bertahap Menuju Titik Kritis

Skenario konflik terbuka antara AS-Israel dan Iran tidak akan terjadi secara tiba-tiba. Pengalaman historis dalam manajemen konflik internasional menunjukkan bahwa periode ketenangan di antara perang sering digunakan untuk membangun kembali kapabilitas militer atau memodifikasi rencana strategis, terutama ketika para pihak belum siap untuk perang panjang pada saat tertentu. Konflik besar biasanya berkembang melalui fase eskalasi bertahap sebelum mencapai intensitas penuh.

Dalam skenario yang kami analisis, eskalasi dapat dipicu oleh salah satu atau kombinasi dari pemicu berikut:

1. Ambang batas nuklir Iran: Jika Iran mendekati atau mencapai kemampuan untuk memproduksi senjata nuklir, baik Israel maupun AS mungkin memandang tindakan pre-emptif sebagai satu-satunya pilihan yang tersisa.
2. Serangan besar-besaran terhadap kepentingan AS atau Israel: Suatu serangan yang menimbulkan korban jiwa besar di antara personel militer AS atau warga sipil Israel, yang secara kredibel dapat dilacak ke Iran, dapat memicu respons militer besar-besaran.
3. Perubahan rezim internal di Iran: Keruntuhan mendadak rezim Islam di Tehran, diikuti oleh kekosongan kekuasaan atau perang saudara, dapat mendorong intervensi asing baik untuk "menstabilkan" situasi maupun untuk mencegah jatuhnya aset strategis ke tangan kelompok tertentu.
4. Kesalahan perhitungan strategis: Sejarah penuh dengan contoh di mana eskalasi yang tidak terkendali terjadi akibat kesalahan perhitungan oleh satu pihak tentang bagaimana pihak lain akan merespons.

Dalam skenario yang dikembangkan, kami mengasumsikan bahwa eskalasi terjadi melalui akumulasi ketegangan yang tidak dapat lagi dikelola melalui jalur diplomatik. Pendekatan yang diambil oleh berbagai pihak dalam konflik semacam itu akan sangat dipengaruhi oleh persepsi mereka tentang apa yang "dipertaruhkan" (what is at stake).

Bagi AS dan Israel, yang dipertaruhkan adalah kredibilitas sekuritas mereka di kawasan, kemampuan untuk mencegah proliferasi nuklir, dan dominasi strategis jangka panjang di Timur Tengah. Bagi Iran, yang dipertaruhkan adalah kelangsungan hidup rezim itu sendiri, yang telah berkuasa selama lebih dari empat dekade dan membangun legitimasinya di atas platform resistensi terhadap dominasi asing.


B. Peta Kekuatan Militer: Asimetri dan Kesenjangan Strategis

Dalam setiap analisis konflik potensial antara AS-Israel dan Iran, pertanyaan fundamental yang muncul adalah tentang keseimbangan kekuatan militer. Apakah Iran memiliki kapasitas untuk secara meyakinkan mempertahankan diri, apalagi menyerang, melawan kekuatan militer gabungan AS dan Israel? Jawabannya terletak pada bagaimana kita mendefinisikan "kemenangan" dan "kekalahan" dalam konflik asimetris.

Kapabilitas Militer Iran

Iran telah mengembangkan doktrin pertahanan yang secara sadar memprioritaskan pengembangan rudal dan drone di atas kekuatan udara dan darat konvensional. Strategi ini didasarkan pada kesadaran bahwa Iran tidak akan pernah bisa menyaingi superioritas udara AS dan Israel dalam jangka pendek hingga menengah.

Rudal dan Drone: Ujung Tombak Strategis

Di jantung persenjataan strategis Iran adalah rudal balistik dan jelajahnya. Iran secara konsisten meningkatkan akurasi, jangkauan, dan daya hancur rudal-rudalnya melalui pembelajaran dari pengalaman pertempuran nyata daripada sekadar latihan militer. Jangkauan rudal-rudal Iran yang melampaui 989 km—bahkan ada pengembangan rudal jelajah supersonik hingga 2.000 km—memberikan kemampuan untuk mencapai target-target strategis di Israel dan basis-basis AS di kawasan Teluk.

Iran juga telah menginvestasikan sumber daya signifikan dalam pengembangan drone, yang terbukti menjadi alat yang efektif dalam perang asimetris. Pada Januari 2025, Angkatan Darat Iran memasukkan 1.000 drone canggih ke dalam layanan, termasuk model strategis, siluman, dan anti-benteng dengan jangkauan melampaui 2.000 km. Drone-drone ini memiliki visibilitas rendah dan kapasitas muatan yang signifikan.

Dari perspektif Iran, pengembangan rudal dan drone menawarkan keuntungan ganda. Pertama, mereka relatif murah dibandingkan dengan sistem senjata konvensional, memungkinkan Iran untuk membangun persediaan yang besar dengan biaya yang relatif rendah. Kedua, mereka menawarkan kemampuan untuk menjangkau target di seluruh kawasan tanpa harus mengembangkan kekuatan udara konvensional yang mahal dan rentan. Ketiga, rudal dan drone sulit untuk diintersep sepenuhnya, terutama jika diluncurkan dalam jumlah besar secara bersamaan.

Konsep "Decentralized Mosaic Defence"

Salah satu perkembangan paling signifikan dalam doktrin pertahanan Iran adalah adopsi "Decentralized Mosaic Defence" (Pertahanan Mosaik Terdesentralisasi). Konsep ini melibatkan restrukturisasi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menjadi unit-unit otonom yang lebih kecil dan memberikan kemandirian taktis kepada komandan mereka. Pendekatan ini dirancang untuk memastikan bahwa Iran dapat terus berperang dan menekan pemberontakan internal bahkan jika pusat komando di Tehran terputus atau hancur.

Strategi mosaik ini juga memungkinkan Iran untuk mengadopsi pendekatan "pertahanan mendalam" di mana kemampuan tempur didistribusikan ke seluruh negeri, dipindahkan ke fasilitas bawah tanah, dan diduplikasi di berbagai lokasi. Ini membuat upaya untuk melumpuhkan kemampuan militer Iran melalui serangan pre-emptif menjadi jauh lebih sulit.

Keterbatasan Konvensional

Namun, terlepas dari kemajuan dalam rudal dan drone, Iran tetap memiliki keterbatasan konvensional yang signifikan. Angkatan udaranya sebagian besar terdiri dari pesawat-pesawat buatan AS dari era sebelum revolusi 1979, dilengkapi dengan sejumlah kecil pesawat Rusia dan hasil upgrade lokal. Sistem pertahanan udaranya, meskipun telah ditingkatkan, tetap rentan terhadap serangan yang dikoordinasikan dengan baik oleh kekuatan teknologi superior seperti AS dan Israel.

Iran juga tidak memiliki kemampuan proyeksi kekuatan yang signifikan di luar wilayah langsungnya. Sementara rudal dan drone dapat menjangkau target di seluruh kawasan, Iran tidak memiliki kapasitas untuk memproyeksikan dan mempertahankan kehadiran militer konvensional yang signifikan di luar perbatasannya.

Kapabilitas AS dan Israel

Di sisi lain, AS dan Israel memiliki keunggulan teknologi yang signifikan. AS, dengan armada kapal induknya, pesawat siluman F-35 dan B-2, serta sistem komando, kontrol, komunikasi, komputer, intelijen, pengawasan, dan pengintaian (C4ISR) yang canggih, memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan presisi di seluruh Iran.

Israel, dengan kekuatan udara canggih dan intelijen yang sangat baik, juga memiliki kemampuan untuk menyerang target-target strategis di Iran, seperti yang telah didemonstrasikan dalam dugaan operasi melawan fasilitas nuklir Iran di masa lalu. Kerja sama intelijen dan militer yang erat antara AS dan Israel akan semakin meningkatkan efektivitas operasi gabungan.

Namun, baik AS maupun Israel memiliki kerentanan mereka sendiri. Bagi AS, keterlibatan dalam konflik besar lainnya di Timur Tengah akan membebani sumber daya militernya yang sudah terkuras oleh dekade perang di Irak dan Afganistan, serta komitmennya untuk mendukung Ukraina dalam perang melawan Rusia. Bagi Israel, jarak geografis ke Iran (sekitar 1.000 km) berarti bahwa operasi udara skala besar akan membutuhkan pengisian bahan bakar di udara yang ekstensif dan mungkin dukungan dari negara-negara tetangga.

Perbandingan Kekuatan Militer

Tabel berikut menyajikan perbandingan indikatif kapabilitas militer ketiga pihak:

Indikator AS Israel Iran
Anggaran pertahanan (estimasi) ~$900+ miliar ~$25 miliar ~$20 miliar (termasuk IRGC)
Personel aktif ~1,4 juta ~170.000 ~610.000
Pesawat tempur ~2.500+ ~350+ ~200+ (sebagian besar usang)
Kapal perang (termasuk kapal induk) ~300+ (11 kapal induk) ~65 (0 kapal induk) ~100+ (0 kapal induk)
Rudal balistik Ya (terbatas/strategis) Ya (terbatas) Ya (ekstensif)
Drone Ya (ekstensif) Ya (ekstensif) Ya (ekstensif, produksi massal)
Senjata nuklir Ya (~5.000 hulu ledak) Diyakini memiliki (~200-400) Tidak (negara threshold)

Catatan: Angka-angka di atas adalah estimasi dari berbagai sumber terbuka dan bersifat indikatif.

Seperti yang ditunjukkan oleh tabel di atas, dalam hal kekuatan konvensional murni, AS dan Israel memiliki keunggulan yang luar biasa. Namun, dalam perang asimetris di mana Iran dapat menggunakan rudal dan drone untuk menyerang target-target strategis, sementara AS dan Israel kesulitan untuk melumpuhkan sepenuhnya kemampuan Iran, keunggulan ini mungkin tidak akan menentukan hasil akhir.

Dilema Serangan Pre-emptif

Salah satu tantangan terbesar bagi AS dan Israel dalam setiap konflik potensial dengan Iran adalah dilema serangan pre-emptif. Untuk menetralisir ancaman rudal dan drone Iran secara efektif, AS dan Israel harus menghancurkan ribuan target yang tersebar di seluruh Iran, banyak di antaranya ditempatkan di fasilitas bawah tanah atau lokasi sipil.

Namun, serangan pre-emptif skala besar akan hampir pasti memicu respons rudal besar-besaran dari Iran terhadap target-target di kawasan, termasuk basis-basis AS, sekutu regional AS, dan mungkin Israel sendiri. Ini akan segera mengubah konflik dari "serangan pre-emptif" menjadi "perang total", dengan konsekuensi yang tidak dapat diprediksi.


C. Dinamika Politik Internal Iran: Antara Kohesi dan Fragmentasi

Salah satu variabel paling krusial yang akan menentukan jalannya konflik adalah stabilitas politik internal Iran. Rezim Islam di Tehran telah menunjukkan ketahanan yang luar biasa selama lebih dari empat dekade, bertahan dari perang (Irak-Iran 1980-1988), sanksi ekonomi yang melumpuhkan, protes massal (2009, 2019, 2022), dan pembunuhan bertarget terhadap para ilmuwan dan komandan seniornya. Namun, skenario perang total dengan AS dan Israel akan memberikan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada kohesi internal rezim.

Kepemimpinan dan Suksesi

Salah satu kerentanan terbesar rezim Iran adalah masalah suksesi kepemimpinan. Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989, telah berusia lanjut dan kesehatannya dilaporkan menurun. Meskipun Dewan Ahli secara resmi bertanggung jawab untuk memilih pemimpin berikutnya, proses suksesi di Iran selalu diselimuti intrik di balik layar dan potensi perebutan kekuasaan.

Dalam skenario konflik terbuka, kematian atau ketidakmampuan Khamenei dapat memicu krisis suksesi yang mendalam. Faksi-faksi yang bersaing dalam rezim—prinsipil (konservatif garis keras), reformis (moderat), dan faksi teknokrat-militer (terutama IRGC)—mungkin memiliki pandangan yang berbeda tentang bagaimana melanjutkan perang dan apakah akan mencari jalan keluar diplomatik.

Dalam skenario terburuk bagi Iran, ketidakmampuan untuk mencapai konsensus tentang suksesi dapat menyebabkan fragmentasi lebih lanjut, dengan berbagai faksi dan komandan IRGC mengambil sikap independen, beberapa mungkin bahkan mencoba untuk membuat kesepakuan terpisah dengan musuh.

Perlawanan Sipil dan Oposisi

Pertanyaan lain adalah bagaimana penduduk Iran akan merespons perang dengan AS dan Israel. Secara historis, ancaman eksternal cenderung menyatukan penduduk di belakang rezim, setidaknya dalam jangka pendek. Serangan Irak ke Iran pada 1980, misalnya, memicu gelombang patriotisme yang mengkonsolidasikan dukungan untuk rezim yang baru lahir.

Namun, Iran 2026 berbeda secara fundamental dari Iran 1980. Setelah bertahun-tahun sanksi ekonomi yang melumpuhkan, korupsi, salah urus, dan penindasan politik, banyak orang Iran sangat tidak puas dengan rezim tersebut. Protes massal pada 2019, 2022, dan seterusnya menunjukkan bahwa ketidakpuasan ini dapat meledak menjadi gerakan protes yang luas jika diberikan kesempatan.

Dalam skenario konflik, dua skenario yang berlawanan mungkin terjadi:

1. Efek "bendera berkumpul" (rally-round-the-flag): Serangan asing mungkin memicu gelombang patriotisme yang, setidaknya untuk sementara, menyatukan penduduk di belakang rezim dan menekan ketidakpuasan internal. Ini adalah respons umum terhadap ancaman eksternal dalam banyak masyarakat.
2. Efek "bumerang": Sebaliknya, perang mungkin dilihat oleh banyak orang Iran sebagai hasil langsung dari kebijakan rezim yang agresif dan petualang. Dalam skenario ini, rezim mungkin menghadapi perlawanan dari dalam yang dipicu oleh penderitaan perang—kelangkaan pangan, pemadaman listrik, korban sipil—dikombinasikan dengan ketidakpuasan yang sudah ada sebelumnya.

Realitasnya mungkin terletak di antara kedua ekstrem ini. Segmen-segmen tertentu dari populasi—terutama mereka yang sudah secara aktif menentang rezim—mungkin berusaha untuk mengeksploitasi kekacauan perang untuk memajukan agenda mereka sendiri. Yang lain, bahkan mereka yang secara pribadi membenci rezim, mungkin tetap mendukung upaya perang karena tidak ada alternatif yang layak.

Peran Oposisi Monarki dan Kelompok Etnis

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah peran gerakan oposisi, terutama pendukung monarki yang dipimpin oleh Reza Pahlavi (putra Shah terakhir Iran). Gerakan ini, yang sebagian besar berbasis di diaspora tetapi dengan dukungan terbatas di dalam negeri, mungkin berusaha untuk memposisikan diri sebagai alternatif pemerintahan pasca-rezim.

Demikian pula, kelompok-kelompok etnis di perbatasan Iran—terutama Kurdi, Baluchi, Arab, dan Azerbaijan—mungkin melihat konflik sebagai kesempatan untuk memajukan aspirasi otonomi atau kemerdekaan mereka sendiri, terutama jika otoritas pusat di Tehran melemah.

Dalam skenario konflik berkepanjangan, fragmentasi Iran di sepanjang garis etnis atau faksional adalah kemungkinan nyata yang akan memiliki implikasi besar bagi stabilitas kawasan jangka panjang.


D. Peta Politik Regional: Proksi, Sekutu, dan Spektrum Respons

Salah satu karakteristik paling unik dari konflik potensial antara AS-Israel dan Iran adalah dimensi regionalnya yang kompleks. Iran, selama beberapa dekade, telah membangun jaringan aliansi dan proksi yang luas di seluruh Timur Tengah, yang sering disebut sebagai "Axis of Resistance" (Poros Perlawanan). Jaringan ini, yang mencakup aktor negara dan non-negara, memberikan Iran kemampuan untuk memproyeksikan pengaruh dan melancarkan operasi di seluruh kawasan tanpa harus secara langsung mengerahkan pasukannya sendiri.

Namun, pada saat yang sama, Iran juga menghadapi oposisi dari beberapa negara regional, terutama Arab Saudi dan sekutu Teluknya, yang memandang ekspansi pengaruh Iran sebagai ancaman langsung terhadap keamanan dan kepentingan mereka.

Axis of Resistance: Kekuatan dan Kerentanan

Axis of Resistance secara longgar mencakup berbagai kelompok dan rezim yang didukung Iran: Hizbullah di Lebanon, Hamas dan Jihad Islam Palestina di Gaza (meskipun hubungan dengan Hamas kompleks dan berfluktuasi), milisi Syiah di Irak (terutama Pasukan Mobilisasi Populer/Hashd al-Shaabi), rezim Bashar al-Assad di Suriah, dan gerakan Houthi di Yaman.

Namun, penting untuk dicatat bahwa poros ini bukanlah aliansi monolitik yang dikendalikan sepenuhnya oleh Iran. Setiap anggota memiliki agenda, prioritas, dan konstituennya sendiri. Hubungan mereka dengan Iran juga bervariasi, mulai dari hubungan klien-pelindung yang erat (seperti dengan Hizbullah) hingga kemitraan yang lebih longgar dan oportunistik.

Lebih jauh lagi, poros ini telah menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir. Kampanye militer Israel yang ekstensif di Gaza setelah 7 Oktober 2023, eskalasi konflik di Lebanon selatan, dan ketegangan lainnya telah secara signifikan melemahkan beberapa anggota poros.

Karena itu, respons Axis of Resistance terhadap konflik terbuka antara AS-Israel dan Iran kemungkinan akan bervariasi. Beberapa anggota, terutama Hizbullah dan milisi Irak, hampir pasti akan terlibat secara aktif di pihak Iran, meluncurkan roket dan drone ke Israel dan menargetkan kepentingan AS di Irak dan Suriah. Lainnya, seperti Houthi di Yaman, mungkin memberikan dukungan simbolis atau melancarkan serangan terbatas terhadap pengiriman di Laut Merah. Namun, ada batasan untuk apa yang dapat dilakukan setiap anggota tanpa membahayakan kelangsungan hidup mereka sendiri.

Arab Saudi dan Negara-negara Teluk: Antara Ketakutan dan Peluang

Posisi negara-negara Teluk, terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), dalam konflik AS-Israel vs Iran adalah salah satu yang paling kompleks dan penuh nuansa.

Di satu sisi, Riyadh dan Abu Dhabi secara fundamental memusuhi Iran. Mereka memandang Tehran sebagai ancaman regional utama, yang mendukung kelompok-kelompok subversif di seluruh kawasan, mengancam keamanan pelayaran di Teluk, dan secara ideologis menentang monarki Teluk yang pro-Barat. Dalam konflik terbuka antara AS-Israel dan Iran, negara-negara Teluk mungkin melihat kesempatan untuk secara permanen mengurangi ancaman Iran.

Di sisi lain, negara-negara Teluk juga memiliki kepentingan yang signifikan dalam menghindari konflik regional yang lebih luas. Ekonomi mereka sangat bergantung pada stabilitas dan perdagangan, dan perang akan mengganggu rantai pasok global, menekan harga minyak, dan berpotensi memicu ketidakstabilan internal. Lebih jauh lagi, ada kekhawatiran bahwa konflik akan memperkuat Iran dalam jangka panjang dengan menyatukan penduduknya di belakang rezim atau, sebaliknya, bahwa rezim Iran akan runtuh, menciptakan kekosongan kekuasaan dan potensi perang saudara yang dapat menyebar ke seluruh kawasan.

Respons paling mungkin dari negara-negara Teluk dalam skenario konflik adalah dukungan yang hati-hati terhadap AS dan Israel—mungkin melalui penyediaan akses pangkalan, intelijen, dan bantuan logistik—sambil secara publik menjaga jarak untuk menghindari menjadi target langsung pembalasan Iran. Beberapa negara mungkin juga berusaha untuk memainkan peran mediasi, terutama jika konflik berkepanjangan dan mulai berdampak signifikan pada ekonomi mereka.

Arab Saudi sendiri telah melakukan rekonsiliasi dengan Iran melalui kesepakatan yang ditengahi China pada Maret 2023. Namun, rekonsiliasi ini tetap rapuh. Arab Saudi sengaja menghindari eskalasi untuk mencegah runtuhnya hubungan, tetapi itu tidak menghilangkan kerapuhan struktural hubungan tersebut. Dalam konflik terbuka antara AS-Israel dan Iran, rekonsiliasi ini akan diuji secara serius.

Turki: Keseimbangan Kompleks

Turki, di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan, telah memainkan peran yang semakin aktif di Timur Tengah, sering kali mengejar kebijakan luar negeri yang independen dan terkadang konfrontatif terhadap AS dan sekutu-sekutunya. Dalam konflik potensial antara AS-Israel dan Iran, Ankara akan menghadapi keseimbangan yang kompleks.

Di satu sisi, Turki memiliki hubungan yang tegang dengan Iran di beberapa bidang, termasuk persaingan atas pengaruh di Irak, Suriah, dan Kaukasus, serta dukungan Iran terhadap rezim Assad yang ditentang Turki. Namun, di sisi lain, Turki juga memiliki hubungan ekonomi yang signifikan dengan Iran, terutama dalam perdagangan gas dan energi.

Lebih penting lagi, Turki adalah anggota NATO, dan secara teoritis berkewajiban untuk membela sekutu NATO-nya jika diserang. Namun, jika konflik dimulai dengan serangan AS-Israel terhadap Iran—bukan sebaliknya—Turki mungkin merasa tidak berkewajiban untuk terlibat. Ankara kemungkinan akan berusaha untuk tetap netral, menawarkan bantuan kemanusiaan dan mungkin mediasi, sambil menghindari keterlibatan langsung dalam permusuhan.

Yaman, Lebanon, Irak, dan Suriah: Medan Pertempuran Proksi

Skenario konflik terbuka antara AS-Israel dan Iran hampir pasti akan memicu eskalasi di medan proksi yang sudah ada di seluruh kawasan. Di Yaman, gerakan Houthi, yang didukung Iran, mungkin meningkatkan serangan mereka terhadap Arab Saudi dan UEA, serta terhadap pelayaran di Laut Merah. Ini akan semakin mengganggu perdagangan global dan menekan negara-negara Teluk.

Di Lebanon, Hizbullah, yang merupakan kekuatan militer non-negara terkuat di kawasan, mungkin meluncurkan serangan roket besar-besaran terhadap Israel, membuka front utara yang signifikan. Ini akan memaksa Israel untuk bertempur di dua front (utara melawan Hizbullah dan timur/selatan melawan Hamas), sementara juga berurusan langsung dengan Iran.

Di Irak, milisi Syiah yang didukung Iran kemungkinan akan menargetkan kepentingan AS, termasuk kedutaan besar AS di Baghdad dan zona hijau, serta basis-basis AS di seluruh negeri. Ini akan membahayakan misi AS di Irak dan berpotensi memaksa penarikan pasukan.

Di Suriah, Iran dan proksi-proksinya mungkin menggunakan wilayah Suriah sebagai landasan peluncuran untuk serangan terhadap Israel dan untuk mengancam kepentingan AS di Suriah timur. Namun, kehadiran Rusia di Suriah (lihat bagian berikutnya) mungkin membatasi ruang gerak AS dan Israel.


E. Kekuatan Besar: Rusia, China, dan Tatanan Global

Dalam skenario konflik antara AS-Israel dan Iran, respons dan keterlibatan kekuatan besar lainnya—khususnya Rusia dan China—akan menjadi faktor penentu yang signifikan. Kedua negara ini memiliki kepentingan yang kompleks dan terkadang bertentangan di Timur Tengah dan dalam hubungan mereka dengan AS dan Iran.

Rusia: Kemitraan Strategis dengan Batasan

Rusia dan Iran telah mengembangkan hubungan yang semakin erat dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh oposisi bersama terhadap dominasi AS dan sanksi Barat. Kedua negara telah menandatangani perjanjian kemitraan strategis dan telah meningkatkan kerja sama di bidang militer, energi, dan politik.

Namun, hubungan Rusia-Iran bukanlah aliansi tanpa batas. Kedua negara memiliki kepentingan yang berbeda dan terkadang bertentangan di Timur Tengah. Di Suriah, misalnya, sementara Rusia dan Iran sama-sama mendukung rezim Assad, mereka memiliki pandangan yang berbeda tentang bagaimana pasca-konflik Suriah harus diatur.

Dalam skenario konflik antara AS-Israel dan Iran, Rusia kemungkinan akan mengambil sikap ambivalen. Di satu sisi, Moscow akan secara retoris mendukung Iran dan mengutuk agresi AS-Israel. Di sisi lain, Rusia tidak mungkin secara militer terlibat di pihak Iran. Ada beberapa alasan untuk ini.

Pertama, Rusia saat ini sedang berperang di Ukraina dan tidak memiliki kapasitas militer atau politis untuk membuka front kedua di Timur Tengah. Sumber daya militernya terkuras, dan ekonominya berada di bawah sanksi Barat yang berat.

Kedua, Rusia memiliki hubungan yang signifikan dengan Israel, termasuk komunitas diaspora Rusia yang besar di Israel dan hubungan ekonomi yang substansial. Kremlin juga menghargai hubungannya dengan negara-negara Teluk, terutama Arab Saudi dan UEA, yang merupakan mitra ekonomi penting.

Ketiga, Rusia mungkin melihat konflik yang berkepanjangan antara AS dan Iran sebagai sesuatu yang menguntungkan, mengalihkan perhatian dan sumber daya AS dari Ukraina dan Eropa Timur. Dalam skenario ini, Moscow mungkin akan duduk diam dan membiarkan lawan-lawannya saling melemahkan.

Dengan demikian, dukungan Rusia terhadap Iran kemungkinan besar akan terbatas pada bantuan diplomatik (seperti penggunaan hak veto di Dewan Keamanan PBB untuk memblokir resolusi yang merugikan Iran) dan mungkin bantuan intelijen serta pasokan senjata yang hati-hati (terutama sistem rudal dan drone), tetapi bukan keterlibatan militer langsung.

China: Pragmatisme Ekonomi di Atas Ideologi

China, seperti Rusia, memiliki hubungan yang kompleks dengan Iran. Beijing adalah mitra ekonomi utama Iran, pembeli utama minyak Iran, dan investor potensial dalam infrastruktur Iran. China juga, bersama dengan Rusia, telah bekerja sama dengan Iran dalam berbagai forum multilateral seperti Shanghai Cooperation Organisation (SCO) dan BRICS.

Namun, hubungan China-Iran juga memiliki batasan yang signifikan. Pertama dan terpenting, China memiliki hubungan ekonomi yang jauh lebih besar dengan negara-negara Teluk (terutama Arab Saudi dan UEA) dan dengan Israel daripada dengan Iran. Beijing adalah mitra dagang terbesar bagi banyak negara di kawasan, dan stabilitas serta keamanan kawasan secara keseluruhan adalah kepentingan vital China.

Kedua, China secara tradisional menghindari keterlibatan dalam konflik di luar kawasan terdekatnya. Beijing lebih memilih untuk mempromosikan solusi diplomatik dan ekonomi daripada intervensi militer, dan tidak memiliki kapasitas atau keinginan untuk memproyeksikan kekuatan militer yang signifikan ke Timur Tengah.

Ketiga, China sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah, terutama dari negara-negara Teluk. Setiap gangguan pada keamanan dan stabilitas kawasan akan berdampak langsung pada keamanan energi China, yang merupakan kepentingan nasional yang vital.

Dalam skenario konflik antara AS-Israel dan Iran, China kemungkinan akan mengambil sikap yang sangat hati-hati dan pragmatis. Beijing akan secara retoris menyerukan de-eskalasi dan solusi diplomatik, sambil secara diam-diam bekerja untuk melindungi kepentingan ekonominya di kawasan. China mungkin akan terus membeli minyak dari Iran selama memungkinkan, tetapi tidak akan mengambil langkah-langkah yang secara signifikan meningkatkan ketegangan dengan AS atau sekutu-sekutu AS di kawasan.

Terdapat juga kemungkinan bahwa China akan berusaha untuk memainkan peran mediasi, seperti yang dilakukannya dalam rekonsiliasi Saudi-Iran 2023. Beijing memiliki hubungan dengan semua pihak yang terlibat—AS, Iran, Israel, dan negara-negara Teluk—dan mungkin melihat konflik sebagai kesempatan untuk meningkatkan statusnya sebagai kekuatan global yang bertanggung jawab.

NATO dan Uni Eropa: Keterbatasan dan Divergensi

Respons NATO dan Uni Eropa terhadap konflik AS-Israel vs Iran akan dibatasi oleh beberapa faktor. Pertama, sementara AS adalah anggota NATO, Iran tidak menyerang wilayah NATO. Serangan AS-Israel terhadap Iran akan dilihat oleh banyak anggota NATO sebagai tindakan ofensif, bukan defensif, yang tidak memicu kewajiban pertahanan kolektif berdasarkan Pasal 5 Piagam NATO.

Kedua, negara-negara Eropa memiliki kepentingan ekonomi yang signifikan di Timur Tengah dan tidak ingin melihat konflik yang lebih luas. Mereka juga memiliki hubungan diplomatik dengan Iran, yang dipertahankan selama bertahun-tahun dengan susah payah, dan mungkin enggan untuk memutuskannya.

Ketiga, Uni Eropa secara tradisional lebih memilih pendekatan diplomatik dan multilateral terhadap krisis internasional daripada pendekatan militer unilateral. Brussels kemungkinan akan menyerukan gencatan senjata dan kembali ke negosiasi, sambil mungkin menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran atau Israel tergantung pada siapa yang dianggap memulai eskalasi.

Dengan demikian, sementara negara-negara Eropa mungkin secara retoris mendukung AS dan Israel dan memberikan bantuan diplomatik dan ekonomi, mereka tidak mungkin terlibat secara militer dalam konflik tersebut. Beberapa negara Eropa mungkin bahkan mengambil sikap yang lebih kritis terhadap AS dan Israel, terutama jika konflik mengakibatkan korban sipil yang signifikan atau melanggar hukum internasional.


F. Dampak Ekonomi Global: Guncangan Sistemik dan Konsekuensi Berantai

Salah satu konsekuensi paling signifikan dan langsung dari konflik terbuka antara AS-Israel dan Iran adalah dampaknya terhadap ekonomi global, terutama melalui gangguan pada pasokan energi dan rantai pasok global. Iran, yang terletak di sepanjang Selat Hormuz—salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia—memiliki kemampuan yang unik untuk mengganggu perdagangan energi global.

Selat Hormuz: Titik Cekam Strategis

Selat Hormuz, yang lebarnya hanya sekitar 29 mil laut pada titik tersempitnya, adalah jalur air yang menghubungkan negara-negara penghasil minyak di Teluk dengan konsumen global. Sekitar 20 juta barel per hari minyak mentah dan produk minyak bumi melintasi selat ini pada 2025, terhitung sekitar seperempat dari perdagangan minyak laut global dan mendekati seperlima dari konsumsi minyak global.

Selain minyak, sekitar 112 miliar meter kubik gas alam cair (LNG) dari Qatar dan Uni Emirat Arab juga melintasi selat ini pada 2025. Tidak seperti minyak, tidak ada rute alternatif untuk ekspor LNG dari Qatar dan Emirat ke negara-negara di luar kawasan.

Dalam skenario konflik, Iran dapat dengan cepat menutup Selat Hormuz untuk pelayaran, menggunakan kombinasi ranjau laut, kapal cepat, rudal anti-kapal, dan drone. Blokade semacam itu akan menjadi guncangan pasokan energi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern.

Proyeksi Dampak Ekonomi

Dampak ekonomi dari blokade Selat Hormuz akan sangat besar dan berlapis-lapis. Penelitian ini mengidentifikasi tiga skenario dampak berdasarkan durasi konflik, mengikuti kerangka yang dikembangkan oleh analis ekonomi internasional.

Skenario I: Konflik Singkat (3-4 Minggu)

Dalam skenario ini, konflik berlangsung relatif singkat (sekitar 3-4 minggu), dan meskipun aliran melalui Selat Hormuz sangat terganggu, tidak ada kerusakan infrastruktur energi yang meluas dan tidak dapat diperbaiki, dan pelepasan dari cadangan strategis membantu menahan kepanikan.

Dalam skenario ini, harga minyak Brent diperkirakan akan berada di kisaran $95-115 per barel, dengan episode singkat $120-130 jika target energi baru terkena atau insiden maritim tambahan terjadi. Di tingkat makroekonomi, konflik selama tiga hingga empat minggu kemungkinan akan berarti peningkatan tambahan inflasi global pada 2026 sekitar 0,1-0,3 poin persentase dan pengurangan laju pertumbuhan global 0,1-0,3 poin persentase. Efeknya tidak akan cukup lama untuk menghasilkan resesi global, tetapi akan cukup kuat untuk mendorong bank-bank sentral ke arah yang lebih hati-hati dan menunda pemotongan suku bunga.

Skenario II: Konflik Berkepanjangan (3+ Bulan)

Dalam skenario ini, konflik berhenti menjadi sekadar guncangan pasar dan mulai berubah menjadi guncangan makroekonomi global. Diasumsikan bahwa Selat Hormuz tetap ditutup untuk waktu yang lama, infrastruktur energi di Teluk mengalami kerusakan yang meluas, dan cadangan strategis tidak lagi dianggap sebagai solusi tetapi hanya sebagai penyangga sementara.

Harga minyak dapat melonjak hingga $150 per barel atau lebih, dan harga gas alam akan mengikuti. Guncangan harga energi ini akan memicu inflasi yang meluas, memaksa bank-bank sentral untuk menaikkan suku bunga secara signifikan, dan mungkin mendorong ekonomi global ke dalam resesi. Krisis pangan juga mungkin terjadi, karena sekitar 20-30% ekspor pupuk global melewati Selat Hormuz. Dengan penutupan pabrik LNG, produksi urea (pupuk nitrogen yang diproduksi dari LNG) telah terpengaruh secara negatif.

Skenario III: Perang Regional Penuh (6+ Bulan)

Dalam skenario terburuk, konflik meluas melampaui Iran dan Selat Hormuz, melibatkan front tambahan di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman, dan mungkin juga melibatkan keterlibatan langsung atau tidak langsung dari kekuatan besar seperti Rusia atau China.

Dalam skenario ini, infrastruktur minyak dan gas di seluruh kawasan Teluk mungkin menjadi sasaran, mematikan produksi di Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Qatar untuk waktu yang lama. Ekonomi global akan menghadapi guncangan pasokan energi yang bahkan lebih parah daripada krisis minyak 1973, dengan harga minyak berpotensi melampaui $200 per barel. Resesi global yang mendalam dan berkepanjangan hampir pasti terjadi, dengan konsekuensi sosial dan politik yang parah di banyak negara.

Respons Kebijakan dan Adaptasi

Menghadapi guncangan energi skala besar seperti yang dijelaskan di atas, negara-negara konsumen energi akan dipaksa untuk merespons dengan cepat. Respons-respons potensial meliputi:

1. Pelepasan cadangan strategis: AS, negara-negara Eropa, Jepang, Korea Selatan, China, dan India memiliki cadangan minyak strategis yang dapat dilepaskan untuk menstabilkan pasar. Namun, cadangan ini terbatas dan tidak dapat menggantikan aliran 20 juta barel per hari untuk waktu yang lama.
2. Peningkatan produksi di tempat lain: Negara-negara penghasil minyak di luar Teluk, terutama AS (shale oil), Kanada, Brasil, dan mungkin Rusia, dapat meningkatkan produksi untuk mengimbangi sebagian kehilangan dari Teluk. Namun, peningkatan produksi ini membutuhkan waktu dan investasi, dan mungkin tidak cukup untuk sepenuhnya menggantikan kehilangan.
3. Permintaan dan konservasi: Pemerintah dapat memberlakukan langkah-langkah konservasi energi, seperti pembatasan kecepatan, larangan mengemudi pada hari-hari tertentu, dan program efisiensi energi. Namun, langkah-langkah ini tidak populer dan mungkin hanya memberikan pengurangan permintaan yang terbatas.
4. Diversifikasi energi jangka panjang: Dalam jangka panjang, krisis ini kemungkinan akan mempercepat upaya diversifikasi energi di banyak negara, termasuk investasi dalam energi terbarukan, tenaga nuklir, dan efisiensi energi. Namun, ini adalah respons jangka panjang yang tidak akan membantu dalam jangka pendek.


G. Skenario Akhir Konflik: Jalan Menuju Penyelesaian

Setiap analisis konflik harus mempertimbangkan bagaimana konflik itu mungkin berakhir. Perang biasanya berakhir dengan dua cara: (1) salah satu pihak menghadapi kekalahan dan menerimanya; atau (2) kedua pihak mencapai titik kelelahan dan menyadari bahwa keuntungan di masa depan lebih kecil daripada kerugian yang sedang berlangsung.

Dalam konteks perang AS-Israel vs Iran, skenario pertama—kemenangan militer yang jelas bagi satu pihak—tampaknya tidak mungkin. Iran terlalu besar, terlalu tangguh, dan terlalu didukung untuk dikalahkan sepenuhnya oleh kekuatan udara dan laut saja, bahkan jika kekuatan itu berasal dari AS dan Israel. Sebaliknya, AS dan Israel terlalu kuat untuk dikalahkan oleh Iran di medan perang konvensional.

Dengan demikian, skenario yang lebih mungkin adalah skenario kedua: konflik berakhir karena kelelahan bersama dan kesadaran bahwa kelanjutan perang tidak menguntungkan bagi siapa pun. Namun, mencapai titik ini mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, dan selama itu, penderitaan manusia dan ekonomi akan sangat besar.

Mediasi dan Diplomasi

Dalam skenario seperti itu, mediasi oleh pihak ketiga akan menjadi sangat penting untuk mengakhiri konflik. Pihak ketiga potensial meliputi:

1. China: Sebagai kekuatan besar yang memiliki hubungan dengan semua pihak, China mungkin dalam posisi yang unik untuk memainkan peran mediasi. Beijing telah mendemonstrasikan kapasitas mediasinya dalam kesepakatan Saudi-Iran 2023.
2. Rusia: Meskipun memiliki hubungan dekat dengan Iran, hubungan Rusia dengan AS dan Israel saat ini tegang, yang mungkin membatasi efektivitasnya sebagai mediator.
3. Negara-negara Eropa: Terutama Prancis, Jerman, dan Inggris, yang memiliki hubungan diplomatik dengan Iran dan merupakan sekutu AS. Mereka juga memiliki kepentingan ekonomi yang signifikan di kawasan.
4. Negara-negara Teluk: Terutama Oman dan Qatar, yang secara tradisional memainkan peran sebagai mediator regional dan memiliki hubungan baik dengan semua pihak.
5. Perserikatan Bangsa-Bangsa: Melalui Sekretaris Jenderal PBB dan Dewan Keamanan, meskipun efektivitas PBB mungkin dibatasi oleh veto dari anggota tetap Dewan Keamanan.


KESIMPULAN

Penelitian ini telah menganalisis secara komprehensif peta politik global dalam skenario konflik terbuka antara AS-Israel melawan Iran. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, beberapa temuan utama dapat ditarik sebagai kesimpulan.

Pertama, konflik terbuka antara AS-Israel dan Iran akan memiliki karakteristik yang sangat berbeda dari konflik-konflik sebelumnya di Timur Tengah. Ini bukan akan menjadi perang pengeboman cepat seperti Operasi Desert Storm, atau perang pendudukan seperti di Irak dan Afganistan. Sebaliknya, ini akan menjadi konflik yang panjang, berdarah, dan multi-front yang akan menguji batas-batas kekuatan militer, ekonomi, dan politik semua pihak yang terlibat.

Kedua, Iran telah membangun kapasitas pertahanan yang tangguh, terutama melalui pengembangan rudal dan drone, serta strategi pertahanan mosaik yang terdesentralisasi. Kapasitas-kapasitas ini akan membuat setiap upaya untuk melumpuhkan Iran secara militer menjadi sangat sulit dan mahal.

Ketiga, jaringan proksi Iran di seluruh kawasan—Axis of Resistance—akan menjadi kekuatan pengganda yang signifikan, membuka front tambahan melawan Israel dan kepentingan AS di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman. Namun, poros ini juga memiliki kerentanannya sendiri, dan tidak semua anggotanya akan merespons dengan cara yang sama.

Keempat, respons negara-negara regional, terutama Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya, akan sangat kompleks. Sementara mereka secara fundamental memusuhi Iran, mereka juga memiliki kepentingan yang signifikan dalam menghindari konflik regional yang lebih luas. Respons yang paling mungkin adalah dukungan hati-hati terhadap AS dan Israel di belakang layar, sambil menjaga jarak di depan publik.

Kelima, kekuatan besar seperti Rusia dan China akan mengambil sikap yang hati-hati dan pragmatis. Keduanya tidak akan terlibat secara militer di pihak Iran, tetapi mungkin memberikan dukungan diplomatik dan ekonomi yang terbatas. Bagi China khususnya, kepentingan ekonomi yang besar dengan negara-negara Teluk dan Israel akan membatasi ruang geraknya.

Keenam, dampak ekonomi dari konflik akan sangat besar. Blokade Selat Hormuz oleh Iran akan mengganggu sekitar 20% pasokan minyak global dan 20-30% pasokan LNG, menyebabkan lonjakan harga energi yang akan memicu inflasi global, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan mungkin mendorong ekonomi global ke dalam resesi. Krisis pangan juga mungkin terjadi karena gangguan pada pasokan pupuk.

Ketujuh, dan yang terpenting, tidak ada pihak yang dapat meraih "kemenangan" dalam pengertian tradisional dalam konflik semacam ini. AS dan Israel tidak dapat "mengalahkan" Iran dalam pengertian mengakhiri rezim atau melucuti senjata Iran sepenuhnya, setidaknya tidak tanpa invasi darat skala penuh yang akan sangat mahal dan berisiko. Iran juga tidak dapat "mengalahkan" AS dan Israel secara militer. Akhir yang paling mungkin adalah gencatan senjata yang dinegosiasikan setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun konflik, yang meninggalkan sebagian besar masalah yang mendasari tidak terselesaikan.


REKOMENDASI DAN PROYEKSI KE DEPAN

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, penelitian ini merekomendasikan beberapa langkah untuk berbagai pemangku kepentingan:

Bagi Pembuat Kebijakan AS dan Israel:

Pertama, Hindari asumsi bahwa kekuatan udara saja dapat mencapai tujuan strategis di Iran. Persiapan untuk kemungkinan konflik yang berkepanjangan dan multi-front sangat penting.
Kedua, Kembangkan strategi "exit" yang jelas dan rencana pasca-konflik sebelum memulai operasi militer.
Kedua, Bangun koalisi regional yang lebih kuat dan transparan untuk berbagi beban dan risiko konflik.
Ketiga, Investasikan dalam pertahanan rudal dan drone, serta dalam kemampuan untuk melindungi infrastruktur kritis dari serangan siber dan fisik.

Bagi Pembuat Kebijakan Iran:

Pertama, Hindari eskalasi yang tidak perlu dan pertahankan saluran komunikasi dengan AS dan Israel, bahkan di tengah ketegangan.
Kedua, Kembangkan ekonomi yang lebih tangguh dan kurang bergantung pada ekspor minyak, untuk mengurangi kerentanan terhadap sanksi dan blokade.
Ketiga, Investasikan dalam perlindungan infrastruktur kritis dan dalam kemampuan untuk mempertahankan kohesi internal di tengah tekanan eksternal.
Keempat, Pertimbangkan untuk kembali ke meja perundingan nuklir, karena senjata nuklir—bahkan jika dapat dikembangkan—mungkin tidak memberikan keamanan yang diinginkan dan malah dapat memicu konflik yang ingin dihindari.

Bagi Pemangku Kepentingan Regional (Arab Saudi, UEA, Turki, dll.):

Pertama, Kembangkan kebijakan luar negeri yang independen dan seimbang, yang tidak sepenuhnya bergantung pada AS atau bersaing dengan Iran.
Kedua, Investasikan dalam diversifikasi ekonomi untuk mengurangi kerentanan terhadap guncangan harga energi dan gangguan perdagangan.
Ketiga, Kembangkan kapasitas mediasi regional untuk membantu menyelesaikan konflik sebelum meluas.
Keempat, Bangun ketahanan terhadap serangan siber, drone, dan rudal, yang kemungkinan akan menjadi bagian dari setiap konflik masa depan.

Bagi Kekuatan Besar (Rusia, China, Uni Eropa):

Pertama, Gunakan pengaruh diplomatik dan ekonomi untuk mencegah eskalasi dan mempromosikan solusi diplomatik.
Kedua, Kembangkan kapasitas mediasi yang kredibel dan bersedia untuk terlibat secara konstruktif dengan semua pihak.
Ketiga, Investasikan dalam diversifikasi energi dan keamanan rantai pasok untuk mengurangi kerentanan terhadap gangguan di Timur Tengah.
Keempat, Bekerja sama untuk memperkuat tatanan global berbasis aturan dan mencegah konflik regional meluas menjadi perang besar.



DAFTAR PUSTAKA

BBC News. (2026, April 1). Israel's perpetual war with Iran may be hard to win with military might alone. https://www.bbc.com

Chatham House. (2025, March 6). The shape-shifting 'axis of resistance': How Iran and its networks adapt to external pressures (Research Paper). https://www.chathamhouse.org

Deloitte Global Economics Research Center. (2026, March 18). The Middle East conflict begins to cast a shadow on the global economy. https://www.deloitte.com

Evrensel Daily. (2026, March 25). US and Israel ignite the fuse: Region on the brink of the abyss. https://www.evrensel.net

Geo.tv. (2025, December 29). Iran's military capabilities in 2025: Detailed assessment of missiles, drones, naval power. https://www.geo.tv

Gulf House. (2025, December 15). Statements Are Not Enough: Is It Time for Saudi-Iranian Rapprochement to Stand on Its Own? https://gulfhouse.org

Hindustan Times. (2026, March 27). Iran nuclear program: What remains after Israeli and US strikes in 2025 and 2026?. https://www.hindustantimes.com

Institute for Defence Studies and Analyses (IDSA). (2026, April 2). US-Israel-Iran War: Boots on the Ground? https://idsa.in

Iran International. (2025, August 12). Allies in name only? China's money flows around Iran and Russia. https://www.iranintl.com

K.C. Singh. (2026, March 13). Can US-Israel & Iran Find Middle Ground? Deccan Chronicle.

MP-IDSA. (2026, April 2). US-Israel-Iran War: Boots on the Ground? https://idsa.in

PRS Group. (2026, March 5). Is the Iranian Blockade Creating a Permanent Systemic Shock to Global Oil Prices? https://www.prsgroup.com

Raval, S. S. (2026, January 12). Iran 2026: The Point of No Return. The Daily Guardian.

Tehran Times. (2025, November 30). Saudi deputy FM holds talks in Tehran as Iran calls for stronger regional coordination. https://www.tehrantimes.com

WhoWhatWhy. (2026, March 25). From Blitzkrieg to War of Attrition: What the US-Israel-Iran Conflict Reveals. https://whowhatwhy.org

Yerepouni News. (2026, February 24). Russia supplying Iran new missile might for a US war. https://www.yerepouni-news.com

alquds.com. (2026, March 8). From the Twelve-Day War to the February War: The Gradual Path of US-Israeli Aggression Against Iran. https://www.alquds.com

asia times. (2026, March 18). What does a war win look like for US, Israel and Iran?. https://asiatimes.com


Conflict of Interest Statement: Penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan dalam penelitian ini.


Funding: Penelitian ini didanai secara mandiri oleh  para penulis.

Ethical Approval: Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Lokal. 

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Redaksi SIMU Polara Jurnal Ilmu Politik (publikasi.simujurnal.com) atas kesempatan publikasi ini.


© 2026 POLARA: Jurnal Ilmu Politik. Artikel ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skenario Anggaran PBB yang Inklusif untuk Mewujudkan Tatanan Dunia Baru dan Sustainable Development Goals 2030 serta Post-SDGs yang Berkeadilan

Esai: Teori dan Praktik Ekonomi Teonomik-Humanistik

Paradoks Terbesar Kesepakatan Resiprokal As dan Tarif Global — Negara yang Berkorban Lebih Banyak, Justru Dirugikan