Peran dan Pemikiran Tokoh Pendidikan di Sundaland: Suatu Perspektif Komprehensif
Peran dan Pemikiran Tokoh Pendidikan di Sundaland: Suatu Perspektif Komprehensif
Oleh: Penulis MPMSN
Pendahuluan: Ngabdi ka Lembur Ngaliwatan Atikan
Sejak masa Sundaland—yakni paparan benua yang menjadi cikal bakal peradaban Sunda di Nusantara—pendidikan telah menjadi pilar utama upaya kolektif masyarakat. Kendati institusi pendidikan modern dalam bentuk sekolah-sekolah ala Barat dan model pesantren ala Islam hanya mulai bermunculan pada masa-masa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, pemikiran-pemikiran yang muncul dari lapisan masyarakat Sunda telah meninggalkan sumbangan penting bagi khazanah pendidikan nasional.
Artikel ini hendak menelusuri jejak pemikiran tokoh-tokoh pendidikan yang lahir dan atau berkarya di Sundaland (Tatar Sunda/Jawa Barat) serta relevansinya bagi pendidikan kontemporer di Indonesia. Penulusuran ini didasarkan pada studi dokumentasi dan berbagai sumber rujukan yang tersedia secara daring maupun daring, serta pengamatan terhadap dinamika pendidikan di wilayah Sunda hingga dekade 2020-an.
Bagian I: Warisan Klasik Abad ke-19—Suara Perempuan dari Tanah Sunda
Kisah peradaban pendidikan Sunda tidak bisa dilepaskan dari peran perempuan pejuang yang membuka jalan bagi emansipasi melalui sekolah-sekolah bagi kaum hawa.
Dewi Sartika: Sekolah Perempuan Pertama di Hindia Belanda
Raden Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884) adalah pahlawan nasional Indonesia yang mendirikan Sekolah Isteri di Bandung pada 1904. Sekolah ini kemudian berganti nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri. Sartika mencita-citakan pendidikan bagi perempuan agar mereka mampu menjadi mitra sejajar laki-laki dalam membangun bangsa. Pada 1920-an, sekolah yang ia rintis telah memiliki cabang di berbagai kota di Priangan dan menjadi inspirasi bagi pergerakan perempuan di Indonesia. Kendati banyak catatan sejarah yang menyebut namanya, perlu juga diingat bahwa dalam catatan-catatan sejarah, Dewi Sartika mendapatkan dukungan kuat dari Lasminingrat—seorang tokoh intelektual Sunda penggerak pendidikan perempuan sekaligus intelektual perempuan pertama Indonesia.
Raden Ayu Lasminingrat: Pendidik, Penulis, dan Aktivis Perempuan
Raden Ayu Lasminingrat (1854-1948) adalah bangsawan Sunda kelahiran Garut. Ia bukan sekadar perempuan bangsawan yang hidup di masa kolonial; ia adalah pemikir, penulis, penggerak, dan pendidik yang membuka jalan bagi pendidikan perempuan di tanah Sunda pada penghujung abad ke-19. Melalui Yayasan Kebajikan Perempuan yang didirikannya di Garut pada 1907, Lasminingrat secara aktif memberdayakan perempuan Sunda melalui keterampilan membaca, menulis, serta pengetahuan agama dan adat-istiadat. Selain itu, Lasminingrat juga dikenal sebagai pelopor kesusastraan Sunda karena banyak menerjemahkan dan menulis buku bacaan untuk anak-anak dan perempuan.
Keduanya—Dewi Sartika dan Lasminingrat—adalah tokoh sentral yang menginisiasi pendidikan modern bagi perempuan Sunda, mengintegrasikan nilai-nilai lokal dan agama dalam kurikulum mereka. Warisan mereka menjadi fondasi bagi tumbuhnya sekolah-sekolah perempuan di berbagai wilayah Sunda hingga kini.
Bagian II: Pemikiran Abad ke-20—Dari Kweekschool hingga Boedi Oetomo dan Pesantren
Masuknya abad ke-20 membawa gelombang baru pemikiran kritis di kalangan terdidik Sunda. Meskipun lebih dikenal sebagai aktivis politik, pemikiran mereka tentang pendidikan sangat mendalam.
Oto Iskandar di Nata: Aktivis dan Pendidik Kerakyatan
Raden Oto Iskandar di Nata (atau Otto Iskandardinata) lahir di Bojongsoang, Bandung, pada 1897. Ia menempuh pendidikan dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Bandung dan melanjutkan ke Kweekschool (Sekolah Guru) di kota yang sama hingga lulus pada 1917. Setelah menamatkan pendidikan, ia sempat mengabdikan diri sebagai guru di HIS Banjarnegara.
Pemikiran pendidikan Oto tidak terlepas dari gerakan Boedi Oetomo yang didirikannya bersama para mahasiswa STOVIA di Jakarta. Namun yang lebih khas, Oto turut bergiat di Paguyuban Pasundan—organisasi budaya Sunda yang aktif menyelenggarakan pendidikan non-formal dan sekolah-sekolah swasta bagi pribumi di tengah hegemoni kolonial. Kiprah Oto menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya pendidikan merdeka dari belenggu kolonial telah mengakar di kalangan terpelajar Sunda, bahkan sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.
Ki Hadjar Dewantara dan Taman Siswa: Relevansinya bagi Sunda
Meskipun Ki Hadjar Dewantara (RM Soewardi Suryaningrat) lahir dan besar di Yogyakarta, pemikirannya tentang "Pendidikan sebagai Pencerdasan Bangsa dan Pembebasan" sangat mempengaruhi corak pendidikan di Sunda. Pendirian Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta menjadi rujukan bagi para pengelola sekolah-swasta di Priangan. Gagasan utamanya adalah pendidikan yang inklusif, bagi segala bangsa tanpa diskriminasi serta sistem "Tri Pusat Pendidikan" (keluarga, sekolah, dan masyarakat). Filsafat "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani" ("Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberikan dorongan") hingga kini menjadi landasan utama paradigma pendidikan nasional.
K.H. Ahmad Sanusi: Ulama, Pendidik, dan Pejuang
K.H. Ahmad Sanusi lahir di Sukabumi pada 1888. Ia adalah ulama besar Sunda yang mendirikan organisasi pendidikan dan ekonomi bernama Al-Ittahadul Islamiyah (AII) di Cikembar, Sukabumi. Selain menjadi anggota BPUPKI, ia dikenal gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui jalan pendidikan, sosial, dan politik. Pemikiran Ahmad Sanusi menawarkan model integrasi antara pendidikan Islam klasik (pesantren) dengan kebutuhan modernitas, serta menulis tafsir Al-Qur'an dalam bahasa Sunda agar masyarakat Sunda dapat mengakses ajaran Islam dengan lebih kontekstual.
Bagian III: Para Pemikir dan Pendidik Sunda Kontemporer (1960-an–2020-an)
Pasca kemerdekaan, pemikiran pendidikan di Tatar Sunda semakin matang dan terdiversifikasi, baik dalam ranah akademis maupun praktis.
Ajip Rosidi: Budayawan, Sastrawan, dan Penggerak Pelestarian Budaya Sunda
Ajip Rosidi (lahir di Jatiwangi, Majalengka, 1938) adalah sastrawan, budayawan, serta pendiri Yayasan Rancage dan Pusat Studi Sunda. Ia dikenal sangat kritis terhadap ancaman globalisasi terhadap budaya dan bahasa Sunda, seraya mendorong pemerintah dan masyarakat untuk aktif melestarikan sastra dan bahasa Sunda. Pemikirannya tentang pendidikan berakar pada keyakinan bahwa "jika orang Sunda sendiri tidak peduli terhadap budaya dan bahasa Sunda, maka tidak ada hari depan bagi budaya Sunda". Melalui Yayasan Rancage, Ajip menganugerahkan Hadiah Sastra Rancage bagi penulis yang berkarya dalam bahasa daerah (Sunda, Jawa, Bali, Lampung), sebuah langkah konkret untuk menghidupkan kembali sastra daerah di tengah gempuran arus global.
A. Chaedar Alwasilah: Penggagas Etnopedagogi dan Literasi Berbasis Lokalitas
Adeng Chaedar Alwasilah (alm.) adalah guru besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung yang secara konsisten menelurkan gagasan-gagasan visioner tentang pendidikan berbasis budaya lokal.
Alwasilah mencetuskan teori "etnopedagogi"—yakni praktik pendidikan yang mengakar pada nilai-nilai lokal suatu kelompok masyarakat tertentu. Menurutnya, "masyarakat adat secara keseluruhan telah mampu menyelenggarakan pendidikan yang tangguh dan bisa menangkal ekses negatif dari budaya global". Dengan kata lain, bangsa ini tidak perlu terus-menerus mengimpor model pendidikan dari Barat secara mentah; melainkan dapat merekonstruksi dan memperkaya praktik pendidikan yang sudah hidup di masyarakat. Pandangan Alwasilah ini sejalan dengan semangat Gugur Gunung masyarakat Sunda, di mana proses pembelajaran terjadi melalui peniruan, partisipasi, dan tanggung jawab kolektif.
Iskandarwassid: Akademisi, Sastrawan, dan Pengembang Pendidikan Bahasa Sunda
Prof. Dr. H. Iskandarwassid, M.Pd. adalah guru besar di Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Suryakancana, Cianjur. Lebih dari itu, ia dikenal sebagai sastrawan Sunda yang aktif meneliti dan mengembangkan pembelajaran bahasa serta sastra Sunda. Pemikirannya tentang "Hakikat Pembelajaran Sastra" dan kajiannya tentang naskah-naskah kuno Sunda (Babad, Kawung) memperlihatkan upaya untuk mengangkat kembali kearifan lokal Sunda ke dalam ruang-ruang akademis dan praktik pendidikan di sekolah.
Dede Rosyada: Pemikir Pendidikan Demokratis dan Integratif
Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A. (lahir 1957) adalah guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan pernah menjabat sebagai Rektor UIN Jakarta. Pemikiran utamanya adalah "Paradigma Pendidikan Demokratis" yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam penyelenggaraan pendidikan. Rosyada juga terus mengembangkan model deep learning dan integrasi teknologi dalam Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya yang relevan bagi Generasi Z di era digital. Meski ia tidak secara eksplisit berbicara soal "pendidikan Sunda", latar belakang kelahiran Jawa Barat dan peran sentralnya dalam institusi pendidikan di wilayah ini menjadikannya tokoh pendidikan kontemporer yang sangat berpengaruh.
Bagian IV: Redefinisi Peran Guru dan Pemimpin Pendidikan di Era Globalisasi
Pada dekade 2020-an, Tatar Sunda menghadapi tantangan pendidikan baru yang tidak kalah berat, antara lain:
· Pergeseran peran guru dari "sumber utama informasi" menjadi "fasilitator dan pembimbing".
· Maraknya platform digital dan kecerdasan buatan, yang menuntut guru untuk mampu mengembangkan kreativitas, kolaborasi, dan pemecahan masalah di ruang kelas.
· Semakin lemahnya penguasaan bahasa dan budaya Sunda di kalangan generasi muda, yang berakibat pada krisis identitas kultural.
Para tokoh pendidikan kontemporer dari dan di Sunda terus menggaungkan pentingnya revitalisasi bahasa dan budaya Sunda di tengah arus globalisasi. Kolaborasi antara akademisi (Iskandarwassid, Alwasilah), aktivis budaya (Ajip Rosidi), dan praktisi pendidikan (berbagai kepala sekolah dan guru di paguyuban adat, pesantren, dan sekolah-sekolah inklusif di Jawa Barat) mencerminkan usaha kolektif untuk mengawal warisan leluhur. Salah satu bentuknya adalah pengembangan buku cerita anak berbasis kearifan lokal Sunda serta program literasi budaya di sekolah-sekolah dasar. Tujuannya adalah menumbuhkan kegemaran membaca sekaligus memperkuat identitas budaya Sunda melalui sastra dan nilai-nilai luhur.
Di tingkat mikro, para guru di Tatar Sunda menerapkan konsep pembelajaran berbasis kearifan lokal, misalnya dengan mengintegrasikan nilai-nilai "Tri Tangtu di Buana" (harmoni manusia dengan alam dan pencipta) serta "Tresno Jalmi lan Gusti" ke dalam setiap mata pelajaran, tidak hanya pelajaran muatan lokal. Penerapan etnopedagogi semakin masif dilakukan di sekolah-sekolah yang berada di wilayah adat Sunda dan Baduy.
Epilog: Dari Jejak Leluhur Menuju Masa Depan yang Berakar
Perjalanan panjang pendidikan di Sundaland, dari masa perintisan sekolah perempuan abad ke-19 (Dewi Sartika, Lasminingrat), gerakan nasionalis dan pesantren abad ke-20 (Oto Iskandar di Nata, Ki Hadjar Dewantara, Ahmad Sanusi), hingga para intelektual dan budayawan kontemporer (Ajip Rosidi, A. Chaedar Alwasilah, Iskandarwassid, Dede Rosyada, dan lainnya), memperlihatkan satu benang merah yang tidak terputus: penghormatan mendalam terhadap nilai-nilai lokal (bahasa, budaya, adat) sekaligus tidak menutup diri terhadap modernitas.
Mereka semua adalah penerjemah sekaligus penjaga jati diri Sunda dalam bingkai pendidikan. Di satu sisi, mereka menerjemahkan warisan leluhur ke dalam istilah dan praktik yang dapat dipahami oleh generasi baru; di sisi lain, mereka menjadi garda terdepan yang memastikan bahwa jati diri Sunda tidak tergerus arus globalisasi dan sterilisasi pendidikan yang cenderung mengabaikan akar budaya.
Ke depan, tantangan tetap besar. Namun, dengan terus mempelajari dan mengamalkan warisan pemikiran para tokoh ini, kita—sebagai pendidik, orang tua, maupun anggota masyarakat—dapat terus mengembangkan model pendidikan yang berakar pada budaya lokal, namun tetap terbuka kepada nilai-nilai universal. Sebagaimana dinasihatkan oleh Alwasilah, masyarakat Sunda (dan Indonesia pada umumnya) sudah memiliki "modal sosial" yang besar, yaitu etnopedagogi dan kearifan lokal yang tangguh. Tugas kita sekarang adalah: menggali, mengaktualisasikan, dan menularkan kembali modal itu ke dalam sistem pendidikan formal, non-formal, dan informal. Inilah jalan kita untuk menjaga peradaban Sunda tetap hidup, tidak sekadar menjadi catatan sejarah, melainkan denyut nadi yang menggerakkan masa depan bangsa.
Referensi Terpilih
· Kompas: "Raden Ayu Lasminingrat, Tokoh Intelektual Perempuan Pertama Indonesia" (2023).
· Nisa.co.id: "Lasminingrat: Intelektual Sunda Penggerak Pendidikan".
· Wikipedia Indonesia: "INS Kayutanam", "Mohammad Sjafei", "Oto Iskandar di Nata".
· Tribun Jabar: "Selamat Jalan, Prof Dr H Chaedar Alwasilah".
· Pikiran Rakyat: "Ajip Rosidi tentang Budaya Sunda", "Mengenal Dekat Oto Iskandardinata".
· Garuda Kemdikbud: Jurnal dan artikel tentang kearifan lokal Sunda.
· Repositori UIN Jakarta: Profil dan karya Dede Rosyada.
· Detik News: "K.H. Ahmad Sanusi".
· Berbagai sumber tentang etnopedagogi, Tri Tangtu di Buana, dan praktik pendidikan berbasis budaya Sunda (Kompasiana, Pikiran Rakyat, Kabar Priangan, 2023-2026)..
Komentar
Posting Komentar