Membongkar Alam Pikiran Asep Rohmandar Tentang Think Globally, Act Locally, Committed Nationally, Faired for All
Membongkar Alam Pikiran Asep Rohmandar Tentang Think Globally, Act Locally, Committed Nationally, Faired for All. Oleh : Tim Redaksi MPMSN Info Pendahuluan
Di tengah gelombang krisis global yang saling terkait—mulai dari perubahan iklim hingga ketimpangan ekonomi—dunia sedang berjuang untuk menemukan model pembangunan yang benar-benar berkelanjutan. Di tengah pencarian ini, seorang pemikir dari Indonesia, Asep Rohmandar, menawarkan sebuah perspektif yang segar. Sebagai presiden Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara, ia mengusung sebuah filosofi yang komprehensif: Think Globally, Act Locally, Committed Nationally, Faired for All. Filosofi ini bukanlah sekadar slogan, melainkan sebuah kerangka pikir yang merangkai dimensi global, lokal, nasional, dan keadilan menjadi satu kesatuan yang utuh.
Dengan latar belakang sebagai seorang pemikir modern modern (polymath) yang mengintegrasikan sains, teknologi, dan spiritualitas, Asep Rohmandar melihat bahwa kebijakan berkelanjutan harus lahir dari fondasi berpikir yang melampaui batas-batas disiplin ilmu. Dia secara konsisten menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai lokal, nalar ilmiah, dan spiritualitas keilmuan untuk membangun peradaban pendidikan dan pemikiran yang merdeka, kritis, dan berkeadilan. Artikel ini akan mengupas secara komprehensif bagaimana kerangka pikir "Think Globally, Act Locally, Committed Nationally, Faired for All" menjadi teori, filosofi, dan model sistem praktik dalam mewujudkan kebijakan yang berkelanjutan.
I. Teori dan Filosofi: Membongkar Bias Sistemik Menuju Paradigma Baru
Filosofi Asep Rohmandar dimulai dengan sebuah kritik tajam terhadap cara pandang konvensional. Baginya, pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan kebijakan publik sering kali terjebak dalam dua kutub ekstrem: lokalisme sempit yang mengabaikan konteks global, atau globalisme yang mengikis identitas lokal. Filosofi "Think Globally, Act Locally, Committed Nationally, Faired for All" adalah antitesis dari kedua jebakan tersebut.
Secara konseptual, Asep merincikannya sebagai berikut:
1. Think Globally (Berpikir Global): Tahap ini adalah tentang mindset. Ia menekankan bahwa cara berpikir dan standar yang digunakan haruslah setara dengan standar global. Ini bukan berarti mengadopsi nilai-nilai asing secara membabi buta, melainkan memiliki kesadaran penuh akan isu-isu global, tren, dan tantangan yang ada.
2. Act Locally (Bertindak Lokal): Global mindset harus diimplementasikan ke dalam tindakan yang kontekstual. Solusi harus lahir dari pemahaman yang mendalam tentang realitas sosial, budaya, dan ekonomi di tingkat lokal. Dengan kata lain, solusi global tidak akan pernah efektif jika tidak diterjemahkan ke dalam bahasa lokal.
3. Committed Nationally (Berkomitmen Nasional): Fase ini menjadi perekat yang unik. Tidak cukup hanya berpikir global dan bertindak lokal, setiap langkah harus sejalan dengan komitmen terhadap kepentingan nasional. Ini mencegah fragmentasi dan memastikan bahwa aksi lokal berkontribusi pada kohesi dan tujuan bersama sebagai sebuah bangsa.
4. Faired for All (Berkeadilan untuk Semua): Inilah tujuan akhir dari seluruh proses. Setiap kebijakan, setiap tindakan, harus dipastikan menciptakan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali. Prinsip inilah yang membedakan kerangka ini dari sekadar efektivitas atau efisiensi semata.
Dengan merangkai keempat tahap ini, Asep Rohmandar tidak hanya menawarkan sebuah filosofi, tetapi juga sebuah teori perubahan. Teori ini menyatakan bahwa transformasi paradigma pengembangan SDM/SDI harus dimulai dari pola pikir global, yang kemudian diimplementasikan secara lokal, diikat oleh komitmen nasional, dan dipastikan menghasilkan keadilan bagi semua.
II. Model Sistem Praktik: Menurunkan Filosofi ke Dalam Aksi
Filosofi di atas bukanlah konsep abstrak. Asep Rohmandar secara cermat menurunkannya ke dalam model-model praktis yang dapat diterapkan, terutama dalam kebijakan berkelanjutan.
A. Transformasi dari "Ekonomia" ke "Aekonomia"
Model ini adalah fondasi dari seluruh sistem praktiknya. Asep berargumen bahwa paradigma pembangunan manusia harus berevolusi dari "ekonomia" yang berorientasi profit, menuju "aekonomia" yang berorientasi pada pengembangan modal manusia seutuhnya.
a. Ekonomia tradisional hanya fokus pada produktivitas dan efisiensi ekonomi, sebuah pendekatan yang terbukti menciptakan ketimpangan dan kerusakan ekologis.
b. Aekonomia, di sisi lain, mengintegrasikan pengembangan karakter, spiritualitas, dan harkat martabat manusia.
Dengan paradigma ini, SDM yang dikembangkan tidak hanya skilled tetapi juga berkarakter mulia; tidak hanya produktif tetapi juga berkontribusi pada kemanusiaan. Model ini adalah sintesis antara efisiensi ekonomi dan efektivitas pendidikan.
B. Model IPOI Re MPKD Re: Siklus Regenerasi Berkelanjutan
Untuk mengoperasionalkan "Aekonomia", Asep memperkenalkan model IPOI Re MPKD Re, yang merupakan akronim dari Input-Process-Output-Impact yang terus diperbaharui (Re-generated) dan Masukan–Proses–Keluaran–Dampak yang diperbaharui.
Model ini menolak pandangan bahwa pengembangan kapasitas adalah proses linear. Sebaliknya, ia mengajarkan sebuah siklus regeneratif yang berkelanjutan. Setiap output dari satu siklus menjadi input untuk siklus berikutnya. Proses pembelajaran, evaluasi, dan perbaikan tidak pernah berhenti. Ini adalah wujud dari filosofi perbaikan berkelanjutan (continuous improvement) yang melahirkan SDM adaptif dan tangguh (resilient) dalam menghadapi perubahan.
III. Aplikasi Filosofi dalam Kebijakan Berkelanjutan yang Konkret
Bagaimana kerangka teori dan model praktik ini diterjemahkan ke dalam kebijakan nyata? Asep Rohmandar memberikan contoh yang jelas melalui penelitian-penelitiannya.
A. Kebijakan Ekonomi Inklusif untuk Asia
Dalam karyanya yang berjudul "Economic Development and Inclusive Policy in Asia", Asep mengaplikasikan filosofinya secara langsung. Ia berargumen bahwa pertumbuhan ekonomi Asia yang luar biasa tidak berarti apa-apa jika tidak disertai dengan inklusivitas.
Penelitiannya mengidentifikasi bahwa kebijakan pembangunan inklusif yang sukses memiliki karakteristik yang sama: kerangka kelembagaan yang kuat, tata kelola yang transparan, program perlindungan sosial yang tepat sasaran, dan investasi dalam pengembangan modal manusia. Ia secara spesifik menyoroti bagaimana integrasi program keuangan mikro, program bantuan tunai bersyarat, dan proyek pembangunan berbasis komunitas telah terbukti efektif dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem sekaligus mendorong kewirausahaan.
Lebih lanjut, kebijakan berkelanjutan versi Asep tidak bisa dipisahkan dari isu lingkungan. Penelitiannya mengeksplorasi model "pertumbuhan hijau yang inklusif", di mana proyek energi terbarukan menciptakan lapangan kerja lokal, inisiatif pertanian berkelanjutan meningkatkan ketahanan pangan, dan kerangka ekonomi sirkular menghasilkan peluang ekonomi sambil melindungi sumber daya alam.
B. Filosofi sebagai Landasan Kebijakan Fiskal
Dengan memegang teguh prinsip "keadilan untuk semua", Asep juga mengkritisi kebijakan fiskal dan jaring pengaman sosial di negara-negara ASEAN. Ia membongkar ketegangan antara keberlanjutan utang dan perlindungan sosial, berargumen bahwa pemerintah tidak bisa hanya fokus pada konsolidasi fiskal. Sebaliknya, diperlukan mobilisasi pendapatan strategis dan realokasi pengeluaran progresif untuk memastikan bahwa kelompok paling rentan tidak terpinggirkan.
Kesimpulan
Pemikiran Asep Rohmandar menawarkan sebuah alternatif yang kuat di tengah kebingungan paradigma pembangunan saat ini. Filosofinya yang dirangkum dalam "Think Globally, Act Locally, Committed Nationally, Faired for All" bukanlah sekadar modifikasi dari slogan lama, melainkan sebuah bangunan teoretis yang lengkap. Dengan landasan filosofi ini, ia mengembangkan model-model praktis seperti transformasi "Ekonomia ke Aekonomia" dan siklus regeneratif "IPOI Re MPKD Re" untuk menciptakan kebijakan yang benar-benar berkelanjutan.
Warisan intelektual Asep Rohmandar adalah pengingat bahwa solusi untuk masalah global yang kompleks tidak datang dari pendekatan yang terfragmentasi. Solusi tersebut lahir dari integrasi yang sadar antara skala global, aksi lokal, komitmen nasional, dan keadilan universal—sebuah resep holistik untuk masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan bagi semua.
Referensi
1. Rohmandar, A. (2025). 10 Pesan Penting tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Insani.
2. Rohmandar, A. (2025). Visi dan Misi Asep Rohmandar sebagai penulis dan peneliti.
3. Rohmandar, A. (2025). Economic Development and Inclusive Policy in Asia.
4. Rohmandar, A. (2025). Profil Asep Rohmandar: Presiden Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara.
Komentar
Posting Komentar