Melipatgandakan Eksistensi Penggunaan Bahasa Sunda di Era Society 5.0 dan Era AI Generatif

Melipatgandakan Eksistensi Penggunaan Bahasa Sunda di Era Society 5.0 dan Era AI Generatif

Oleh Asep Rohmandar                                                                                          Pendahuluan

Bahasa Sunda, sebagai salah satu bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak kedua di Indonesia setelah bahasa Jawa, saat ini menghadapi tantangan eksistensial yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di tengah arus globalisasi, dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing, serta perubahan pola komunikasi di era digital, bahasa Sunda mengalami penurunan jumlah penutur yang signifikan, terutama di kalangan generasi muda. Data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan bahwa dari total 718 bahasa daerah di Indonesia, hanya sekitar 25 persen yang berkategori aman, sementara 75 persen sisanya mengalami kemunduran, kritis, hingga nyaris punah. Bahasa Sunda, meskipun masih dalam kategori aman, “rentan mengalami pergeseran atau kemunduran karena generasi mudanya tidak lagi tergerak untuk menggunakan bahasa Sunda”. Berdasarkan kajian vitalitas, penutur bahasa Sunda memang masih banyak, tetapi didominasi oleh usia 40 tahun ke atas.

Namun, di balik tantangan tersebut, era Society 5.0 dan perkembangan AI generatif membuka peluang baru yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Society 5.0—sebuah konsep masyarakat yang berpusat pada manusia di mana teknologi digital dan AI berintegrasi secara harmonis dalam kehidupan sehari-hari—justru dapat menjadi katalis bagi revitalisasi bahasa daerah. Artikel ini akan mengupas secara komprehensif strategi melipatgandakan eksistensi bahasa Sunda melalui pemanfaatan teknologi digital dan AI generatif, serta menyoroti tantangan dan peluang yang menyertainya.

Tantangan Eksistensi Bahasa Sunda di Era Digital

Pergeseran Penggunaan Bahasa di Kalangan Generasi Muda

Fenomena paling mengkhawatirkan dalam pelestarian bahasa Sunda adalah pergeseran sikap generasi muda. Banyak anak muda Sunda saat ini lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa “menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari terkadang diidentikkan dengan keterbelakangan,” sehingga “timbul rasa gengsi pada orang Sunda untuk menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari”. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan pun mengakui bahwa “sekarang banyak anak yang merasa malu memakai bahasa daerah karena dianggap tidak keren”.

Dominasi Media Digital dan Budaya Populer Global

Media digital dan platform sosial seperti YouTube, TikTok, dan Instagram telah membentuk pola bahasa baru di kalangan anak muda. Tayangan digital lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa asing, sementara konten berbahasa Sunda—jika pun ada—sering kali mengangkat gaya bahasa yang jenaka dan bebas, “kurang mencerminkan nilai-nilai budaya Sunda”. Derasnya arus budaya populer seperti K-Pop dan media sosial menjadi tantangan berat bagi bahasa dan sastra daerah.

Selain itu, aksara Sunda menghadapi ancaman yang lebih spesifik. Huruf-huruf Sunda “kalah cepat dari papan ketik dan kalah praktis dari font bawaan perangkat digital”. Tanpa upaya pelestarian yang konsisten, aksara Sunda berisiko “hanya menjadi ornamen dinding atau materi ujian tanpa fungsi keseharian”.

Kompleksitas Struktur Bahasa

Bahasa Sunda memiliki sistem undak-usuk (tingkatan bahasa) yang kompleks, yang membedakan penggunaan bahasa berdasarkan status sosial dan situasi komunikasi. Namun, kemajuan teknologi digital justru menyebabkan “sejumlah anggota masyarakat Sunda kurang memperhatikan undak-usuk basa Sunda ketika berkomunikasi, bahkan tidak menegur dan mengoreksi ketika penggunaan bahasa Sunda tidak sesuai dengan kaidah undak-usuk basa”. Kompleksitas ini menjadi salah satu faktor pragmatis yang menyebabkan generasi milenial enggan menggunakan bahasa Sunda.

Digitalisasi sebagai Strategi Pelestarian Bahasa Sunda

Di tengah tantangan tersebut, digitalisasi hadir sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi digital mempercepat pergeseran bahasa; di sisi lain, ia menyediakan instrumen yang ampuh untuk pelestarian. Sebuah studi scoping review mengidentifikasi tiga strategi utama pelestarian bahasa Sunda di era digital: “(a) pengembangan konten digital yang menarik dan sesuai budaya Sunda, (b) pengembangan media yang mudah digunakan secara mandiri, dan (c) penggunaan media yang menyenangkan dalam pembelajaran bahasa”.

Platform Pembelajaran Digital

Berbagai platform pembelajaran digital telah dikembangkan untuk memfasilitasi pembelajaran bahasa dan aksara Sunda. SundaDigi, sebuah inisiatif yang dikembangkan oleh Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda (PDP-BS) Universitas Padjadjaran di bawah kepemimpinan Profesor Ganjar Kurnia, merupakan salah satu contoh paling komprehensif. Platform digital ini memiliki 13 fitur utama, termasuk Tanya PR Bahasa Sunda, pelajaran bahasa, tata bahasa praktis, kamus, aksara Sunda, dan berbagai konten budaya lainnya. SundaDigi hadir “sebagai respons terhadap tantangan pelestarian kebudayaan Sunda di era digital”.

Selain itu, aplikasi mobile seperti Nyunda dikembangkan untuk mengubah huruf Latin menjadi huruf Sunda, menyediakan materi pembelajaran, serta fitur kuis dan kumpulan puisi Sunda. Aplikasi game seperti Kabisa membuktikan bahwa “budaya lokal bisa dikemas secara modern, interaktif, dan menarik sehingga tidak lagi dianggap membosankan”. Pengembangan media pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) juga mulai diterapkan untuk memperkenalkan bahasa dan aksara Sunda kepada siswa sekolah dasar.

Media Sosial sebagai Wahana Kreatif

Media sosial telah menjadi instrumen penting dalam menyebarkan konten kreatif berbahasa Sunda. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube digunakan untuk menyebarkan konten seperti Rebo Nyunda dan parodi Bahasa Sunda. Program Kamis Nyunda, di mana satu hari dalam sepekan digunakan untuk melestarikan bahasa ibu dengan mewajibkan siswa dan guru menggunakan pakaian adat serta bahasa Sunda di lingkungan sekolah, telah diterapkan di berbagai institusi pendidikan di Jawa Barat. Program ini tidak hanya berfungsi sebagai pelestarian bahasa, tetapi juga sebagai pembinaan literasi budaya.

Dokumentasi Digital dan Penelitian

Upaya dokumentasi digital juga menjadi pilar penting. SundaDigi berfungsi sebagai arsip digital dan platform pembelajaran yang komprehensif. Universitas Padjadjaran melalui Pusat Budaya Sunda Unpad (perubahan dari PDP-BS yang berdiri sejak 2019) secara aktif mendokumentasikan berbagai aspek budaya Sunda, termasuk tradisi, adat istiadat, sastra lisan, dan seni pertunjukan. Unpad juga mengembangkan sistem aksara fonetik Sunda digital agar “lebih adaptif dan mudah digunakan oleh generasi modern pada papan ketik gawai”.

AI Generatif: Terobosan Baru untuk Bahasa Sunda

Perkembangan AI generatif dan Large Language Model (LLM) membuka dimensi baru dalam pelestarian dan pengembangan bahasa Sunda. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, bahasa Sunda memiliki potensi untuk terintegrasi secara native ke dalam ekosistem teknologi kecerdasan buatan.

Large Language Model Multibahasa

Peluncuran Sahabat-AI, sebuah LLM open-source kolaborasi antara GoTo Group dan Indosat Ooredoo Hutchison, menjadi tonggak sejarah penting. Model dengan kapasitas 70 miliar parameter ini dirancang khusus untuk Bahasa Indonesia dan bahasa daerah, termasuk Bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Batak. Sahabat-AI diklaim sebagai “LLM bahasa Indonesia yang terbaik dari segi performance” dibandingkan model open-source global lainnya.

Yang lebih penting, Sahabat-AI “telah dirancang selaras dengan tujuan kedaulatan digital Indonesia” dengan seluruh data dan infrastruktur GPU disimpan di Indonesia. Seperti yang dinyatakan oleh Vikram Sinha, CEO Indosat: “Sahabat AI bukan hanya mengenai GoTo dan Indosat. Ini adalah mengenai gotong royong, universitas, perusahaan media. Kami semuanya melatih data, dan kami ingin memastikan bahwa kami melindungi budaya sejarah”.

Model AI lain juga mulai mendukung bahasa Sunda. Qwen3 dari Alibaba mendukung 119 bahasa dan dialek, termasuk dialek Sunda. Model seperti Llama-SEA-LION-v3 dan Gemma2-9B-cpt-sahabatai juga telah di-fine-tuning untuk bahasa Sunda.

Aplikasi Spesifik AI untuk Bahasa Sunda

Lebih dari sekadar dukungan dalam model besar, berbagai aplikasi spesifik AI untuk bahasa Sunda mulai dikembangkan:

1. Text-to-Speech (TTS) Bahasa Sunda: Penelitian mengembangkan sistem TTS berbasis arsitektur VITS untuk menghasilkan ucapan sintetis dalam bahasa Sunda dialek barat secara alami dan ekspresif.
2. Sistem Question Answering: Penelitian mengimplementasikan sistem tanya-jawab dalam bahasa Sunda yang dirancang untuk menggali dan melestarikan informasi mendalam tentang budaya Sunda.
3. Automatic Speech Recognition (ASR): Penelitian tentang pengenalan ucapan otomatis untuk bahasa Sunda dan Jawa melalui pendekatan generative fusion decoding.
4. Pembangkit Cerita: Penelitian menguji kemampuan LLM dalam menghasilkan narasi yang bernuansa budaya untuk bahasa Sunda dan Jawa.

Nilai Strategis AI Lokal

Kehadiran AI yang memahami bahasa Sunda memiliki nilai strategis yang sangat besar. Seperti yang diungkapkan dalam sebuah analisis, “Model lokal bisa menangkap idiom, ungkapan khas daerah, dan konteks sosial-budaya yang sering tidak dipahami oleh model global”. Ini berarti AI tidak sekadar menerjemahkan kata per kata, tetapi benar-benar memahami nuansa budaya yang melekat dalam bahasa Sunda.

Sinergi Society 5.0 dan Pelestarian Bahasa Daerah

Society 5.0 menawarkan paradigma di mana “manusia dan AI hidup berdampingan secara harmonis”. Dalam konteks ini, digitalisasi bahasa bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan. Sebuah studi menegaskan bahwa “langkah ini sangat penting bagi bahasa-bahasa lokal tidak hanya untuk bertahan tetapi juga untuk berkembang seiring dengan kemajuan teknologi global”.

Pembelajaran Transformatif di Era Society 5.0

Studi tentang platform learningsundanese.com mengeksplorasi bagaimana platform tersebut dapat digunakan dalam proses pembelajaran transformatif dan bagaimana ia dapat melestarikan identitas lokal dalam paradigma Society 5.0 yang berorientasi pada manusia. Penelitian menunjukkan bahwa “pengembangan bahasa daerah melalui muatan lokal berbasis sekolah, pelatihan guru, dan keterlibatan masyarakat terbukti efektif jika didukung oleh kebijakan yang kuat dan penggunaan teknologi digital”.

Kolaborasi Multisektor

Keberhasilan pelestarian bahasa Sunda di era Society 5.0 membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pendidik, kreator digital, dan masyarakat. Seperti yang ditekankan dalam sebuah penelitian, “kolaborasi antara pemerintah, pendidik, dan kreator digital, serta peningkatan literasi digital dan kebanggaan budaya di kalangan generasi muda terbukti efektif mendukung pelestarian bahasa daerah”.

Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) yang digelar di 38 provinsi merupakan salah satu bentuk kolaborasi ini. Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat Herawati menyatakan bahwa upaya pelestarian dilakukan melalui “revitalisasi bahasa daerah, pendokumentasian, inventarisasi kosakata, bahasa, dan sastra Sunda”.

Rekomendasi Strategis

Berdasarkan analisis di atas, berikut adalah rekomendasi strategis untuk melipatgandakan eksistensi bahasa Sunda:

1. Penguatan Ekosistem Digital Berbahasa Sunda

· Pengembangan konten digital berkualitas: Mendorong kreator konten untuk memproduksi materi berbahasa Sunda yang tidak hanya menghibur tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya Sunda secara autentik.
· Integrasi aksara Sunda dalam perangkat digital: Mendorong pengembang teknologi untuk menyertakan aksara Sunda sebagai font bawaan dan mendukung input aksara Sunda di berbagai platform.

2. Optimalisasi AI Generatif untuk Bahasa Sunda

· Pengembangan corpus bahasa Sunda: Memperkaya data pelatihan untuk LLM dengan korpus bahasa Sunda yang lebih luas dan beragam, termasuk berbagai dialek dan tingkatan bahasa.
· Aplikasi AI edukatif: Mengembangkan chatbot dan asisten virtual berbahasa Sunda untuk pembelajaran interaktif.
· AI untuk pelestarian sastra: Menggunakan AI untuk mendokumentasikan, menerjemahkan, dan melestarikan naskah-naskah kuno dan sastra Sunda.

3. Penguatan Kebijakan dan Regulasi

· Implementasi Perda secara konsisten: Memastikan implementasi Perda Provinsi Jawa Barat tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah berjalan efektif.
· Integrasi kurikulum: Memperkuat muatan lokal bahasa Sunda di sekolah dengan pendekatan yang kreatif dan relevan dengan generasi digital.

4. Pemberdayaan Generasi Muda

· Menumbuhkan kebanggaan budaya: Mengkampanyekan bahasa Sunda sebagai identitas yang membanggakan, bukan sebagai sesuatu yang kuno atau “jadul”.
· Program regenerasi: Mendorong regenerasi pelaku seni dan budaya Sunda melalui program mentoring dan ruang ekspresi yang memadai.

Kesimpulan

Era Society 5.0 dan perkembangan AI generatif menghadirkan paradox bagi bahasa Sunda: di satu sisi, teknologi digital dan arus globalisasi mengancam eksistensinya; di sisi lain, teknologi yang sama menyediakan instrumen paling kuat yang pernah ada untuk pelestarian dan pengembangannya. Kunci untuk melipatgandakan eksistensi bahasa Sunda terletak pada kemampuan kita untuk memanfaatkan teknologi secara kreatif dan strategis, seraya tetap menjaga esensi dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Seperti yang diingatkan oleh sebuah refleksi budaya, “Budaya tidak diciptakan untuk disimpan semata, melainkan untuk dipraktikkan, dipentaskan, dan dihidupkan dalam keseharian”. Di era di mana batas antara dunia fisik dan digital semakin kabur, bahasa Sunda memiliki peluang untuk tidak sekadar bertahan, tetapi berkembang dan bahkan meluas penggunaannya—asalkan kita memiliki visi, komitmen, dan kreativitas untuk mewujudkannya. Sinergi antara kebijakan pemerintah, inovasi teknologi, partisipasi masyarakat, dan kebanggaan generasi muda akan menjadi fondasi bagi kebangkitan bahasa Sunda di abad digital ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skenario Anggaran PBB yang Inklusif untuk Mewujudkan Tatanan Dunia Baru dan Sustainable Development Goals 2030 serta Post-SDGs yang Berkeadilan

Esai: Teori dan Praktik Ekonomi Teonomik-Humanistik

Paradoks Terbesar Kesepakatan Resiprokal As dan Tarif Global — Negara yang Berkorban Lebih Banyak, Justru Dirugikan