ANALISIS KOMPARATIF JUMLAH DAN DINAMIKA ARTIKEL JURNAL TERINDEKS SINTA DENGAN JURNAL NON-SINTA DI INDONESIA TAHUN 2025
ANALISIS KOMPARATIF JUMLAH DAN DINAMIKA ARTIKEL JURNAL TERINDEKS SINTA DENGAN JURNAL NON-SINTA DI INDONESIA TAHUN 2025
Sebuah Kajian Faktor Kelembagaan, Regulasi, dan Ekosistem Publikasi Ilmiah
Asep Rohmandar
Masyarakat Peneliti Mandiri Kasundaan Nusantara
Jawa Barat, Indonesia
Agustus 2026
ABSTRAK
Bahasa Indonesia
Artikel ini menganalisis secara komparatif dinamika jumlah artikel dan jurnal terindeks Science and Technology Index (SINTA) versus jurnal non-SINTA di Indonesia pada tahun 2025. Berbeda dengan basis data internasional seperti Scopus atau Web of Science yang menerbitkan statistik agregat tahunan secara terbuka, ekosistem publikasi nasional Indonesia tidak memiliki satu sumber resmi tunggal yang merekapitulasi total artikel SINTA versus non-SINTA secara nasional untuk tahun 2025. Oleh karena itu, kajian ini menggunakan pendekatan triangulasi: (1) data akreditasi periodik yang dipublikasikan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan/Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek melalui portal ARJUNA-SINTA, (2) studi kasus institusional dari beberapa perguruan tinggi sebagai unit analisis mikro, (3) skala basis data GARUDA sebagai proksi ukuran keseluruhan ekosistem jurnal nasional, dan (4) temuan penelitian terbaru mengenai tren penurunan publikasi terindeks SINTA pada periode 2024–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa jurnal non-SINTA—yang tetap legal selama memiliki ISSN dan pengelolaan ilmiah yang sah—jauh melampaui jumlah jurnal terakreditasi SINTA dalam skala keseluruhan basis data GARUDA, namun jurnal SINTA tetap menjadi rujukan utama untuk keperluan angka kredit dosen (KUM), kenaikan jabatan fungsional, dan syarat kelulusan mahasiswa pascasarjana. Faktor-faktor yang membedakan pertumbuhan kedua kategori jurnal ini meliputi regulasi akreditasi (Permendiktisaintek), insentif angka kredit, kecepatan dan ketatnya proses telaah (review), biaya pemrosesan artikel (APC), serta strategi kelembagaan perguruan tinggi. Kajian ini juga mengidentifikasi fenomena penurunan motivasi publikasi terindeks SINTA pada periode 2024–2025 sebagai temuan penting yang memerlukan intervensi kebijakan.
Kata Kunci: SINTA, jurnal non-SINTA, akreditasi jurnal ilmiah, GARUDA, publikasi ilmiah Indonesia, angka kredit dosen, ARJUNA
English
This paper offers a comparative analysis of the dynamics of article and journal counts indexed by the Science and Technology Index (SINTA) versus non-SINTA journals in Indonesia during 2025. Unlike international databases such as Scopus or Web of Science that publish open annual aggregate statistics, Indonesia's national publishing ecosystem lacks a single authoritative source consolidating total SINTA versus non-SINTA article counts nationally for 2025. This study therefore triangulates: (1) periodic accreditation data published by the Directorate General of Research and Development/Science and Technology of Kemdiktisaintek via the ARJUNA-SINTA portal, (2) institutional case studies from several universities as micro-level units of analysis, (3) the scale of the GARUDA database as a proxy for the overall size of the national journal ecosystem, and (4) recent research findings on the declining trend of SINTA-indexed publications during 2024–2025. Findings indicate that non-SINTA journals—which remain legal provided they hold an ISSN and legitimate scholarly management—vastly outnumber SINTA-accredited journals within the overall GARUDA database, yet SINTA journals remain the primary reference for lecturers' credit points (KUM), functional rank promotion, and graduate degree requirements. Differentiating factors include accreditation regulation, credit-point incentives, review speed and rigor, article processing charges, and institutional strategy. The study also identifies a decline in motivation for SINTA-indexed publication during 2024–2025 as a key finding warranting policy intervention.
Keywords: SINTA, non-SINTA journals, scientific journal accreditation, GARUDA, Indonesian scholarly publishing, lecturer credit points, ARJUNA
I. PENDAHULUAN
Ekosistem publikasi ilmiah Indonesia berkembang di atas dua jalur yang saling berdampingan namun memiliki bobot kelembagaan yang sangat berbeda. Jalur pertama adalah jurnal yang telah melalui proses akreditasi nasional oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan tercatat dalam Science and Technology Index (SINTA), dengan peringkat SINTA 1 hingga SINTA 6. Jalur kedua adalah jurnal non-SINTA: publikasi yang sah secara hukum, memiliki ISSN, dan dikelola secara ilmiah, tetapi belum mengajukan atau belum lolos proses akreditasi nasional.
Status akreditasi sebuah jurnal di Indonesia menentukan hampir segalanya—mulai dari syarat kelulusan mahasiswa, pencairan dana hibah, hingga kenaikan pangkat fungsional dosen. — adaptasi dari kajian publikasi ilmiah nasional, 2025
Pertanyaan tentang berapa banyak artikel yang terbit di jurnal SINTA dibandingkan jurnal non-SINTA sepanjang tahun 2025 tampak sederhana, tetapi jawabannya rumit secara metodologis. Tidak seperti Scopus atau Web of Science yang mempublikasikan indikator bibliometrik agregat tahunan secara terbuka dan terstandardisasi, sistem SINTA dan basis data pendampingnya, GARUDA (Garba Rujukan Digital), tidak menerbitkan satu dasbor tunggal yang merekapitulasi total artikel SINTA versus non-SINTA se-Indonesia untuk periode tahun kalender tertentu. Data yang tersedia secara publik bersifat granular per-jurnal, per-institusi, atau per-periode akreditasi (SINTA menetapkan akreditasi dalam periode-periode bertahap sepanjang tahun, bukan satu penerbitan tahunan tunggal).
Esai ini karenanya tidak berpretensi menyajikan satu angka nasional pasti, melainkan membangun gambaran komparatif yang komprehensif melalui triangulasi sumber: data resmi ARJUNA-SINTA, studi kasus institusional, skala keseluruhan basis data GARUDA sebagai proksi ukuran ekosistem, dan temuan penelitian akademik terbaru mengenai tren publikasi 2024–2025. Pendekatan ini konsisten dengan prinsip kehati-hatian ilmiah: lebih baik menyajikan gambaran yang jujur tentang keterbatasan data sambil tetap memberikan analisis substantif, daripada mengklaim presisi kuantitatif yang tidak didukung sumber resmi.
II. KERANGKA KONSEPTUAL: SISTEM SINTA DAN EKOSISTEM NON-SINTA
2.1 Apa Itu SINTA dan Bagaimana Mekanismenya
SINTA (Science and Technology Index) adalah portal yang dikelola Kemdiktisaintek untuk menilai dan memeringkat jurnal ilmiah yang diterbitkan di Indonesia. Jurnal yang hendak masuk SINTA harus mendaftar melalui portal ARJUNA (Akreditasi Jurnal Nasional), yang kemudian dinilai oleh asesor konten dan asesor manajemen berdasarkan Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 9 Tahun 2018 tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah, serta Peraturan Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Nomor 19 Tahun 2018. Hasil penilaian menempatkan jurnal pada peringkat 1 hingga 6, yang diakronimkan sebagai SINTA 1 (tertinggi) hingga SINTA 6 (terendah). Pemeringkatan lebih lanjut mempertimbangkan jumlah sitasi dan h-indeks dari Google Scholar setelah verifikasi.
Regulasi ini terus diperbarui: pada tahun 2025 terbit Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Permendiktisaintek) Nomor 52 Tahun 2025, disusul pembaruan lanjutan pada tahun berikutnya, yang menandakan bahwa kerangka regulasi akreditasi jurnal bersifat dinamis dan terus disesuaikan dengan perkembangan kebijakan pendidikan tinggi nasional.
2.2 Enam Tingkatan SINTA dan Nilai Kredit (KUM)
Peringkat | Rentang Skor | Karakteristik Umum Review | KUM per Artikel | Estimasi Waktu Review |
|---|---|---|---|---|
SINTA 1 | 85 ≤ n ≤ 100 | Sangat ketat, umumnya terindeks Scopus | 40 poin | 3–6 bulan |
SINTA 2 | 70 ≤ n < 85 | Ketat, sering terindeks Scopus/DOAJ | 25 poin | 2–5 bulan |
SINTA 3 | 60 ≤ n < 70 | Ketat, standar nasional tinggi | 15 poin | 2–4 bulan |
SINTA 4 | 50 ≤ n < 60 | Sedang, editorial nasional lintas kampus | 10 poin | 1–3 bulan |
SINTA 5 | 40 ≤ n < 50 | Lebih longgar, cocok publikasi awal | 5 poin | 2–6 minggu |
SINTA 6 | 30 ≤ n < 40 | Dasar, tingkat penerimaan tinggi | 3 poin | 2–6 minggu |
Non-SINTA | Belum/tidak terakreditasi | Bervariasi; umumnya berfokus pada format & kelengkapan, bukan kedalaman analisis | Tidak diakui KUM formal | 2–4 minggu |
Sumber: diolah dari kriteria akreditasi ARJUNA-SINTA dan sistem KUM jabatan fungsional dosen.
2.3 Jurnal Non-SINTA: Legal, Namun di Luar Sistem Insentif Formal
Penting ditegaskan bahwa status "non-SINTA" tidak berarti ilegal atau tidak ilmiah. Jurnal non-SINTA adalah jurnal yang sah secara hukum—memiliki ISSN dan dikelola secara ilmiah—namun belum mengajukan atau belum lolos penilaian akreditasi nasional. Banyak jurnal non-SINTA tetap menjalankan proses telaah sejawat (peer review), meskipun umumnya dengan siklus yang lebih longgar dan berfokus pada kesesuaian format serta kelengkapan unsur ilmiah, bukan kedalaman analisis teoretis. Karakteristik inilah yang membuat jurnal non-SINTA menjadi opsi favorit bagi mahasiswa jenjang sarjana yang membutuhkan publikasi cepat sebagai syarat kelulusan.
2.4 GARUDA sebagai Proksi Skala Ekosistem
GARUDA (Garba Rujukan Digital) adalah portal referensi ilmiah nasional yang dikelola Kemdiktisaintek, mengagregasi jurnal, prosiding, dan karya ilmiah dari berbagai institusi di Indonesia—baik yang terakreditasi SINTA maupun yang belum. Dokumentasi panduan penggunaan portal ini pernah mencatat cakupan lebih dari 800.000 artikel dari sekitar 8.000 jurnal, sebuah angka yang menggambarkan bahwa basis jurnal nasional secara keseluruhan (yang mencakup jurnal SINTA dan non-SINTA) jauh lebih besar daripada subset jurnal yang telah lolos akreditasi formal. Sebagai perbandingan proporsional pada tingkat rumpun ilmu, data resmi bidang hukum mencatat bahwa hingga Januari 2024 baru terdapat 494 jurnal hukum yang terakreditasi nasional (42 di antaranya juga terindeks Scopus)—angka yang relatif kecil dibandingkan jumlah keseluruhan jurnal hukum berISSN yang beredar di Indonesia.
III. METODOLOGI PENDEKATAN ANALISIS
Karena tidak tersedia satu basis data resmi yang secara eksplisit memilah total artikel nasional SINTA versus non-SINTA untuk tahun 2025, kajian ini menempuh strategi triangulasi data sekunder dengan empat lapis bukti:
Data akreditasi resmi periodik (Periode I, II, III Tahun 2025) yang diterbitkan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan/Sains dan Teknologi melalui Surat Keputusan akreditasi jurnal ilmiah.
Studi kasus institusional pada beberapa perguruan tinggi (Universitas Pendidikan Indonesia, UIN Raden Intan Lampung, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya) sebagai unit analisis mikro yang merepresentasikan pola pertumbuhan jurnal terakreditasi di tingkat kampus.
Skala keseluruhan basis data GARUDA sebagai proksi ukuran ekosistem jurnal nasional (SINTA + non-SINTA).
Temuan penelitian akademik terbaru (2026) mengenai tren penurunan motivasi publikasi terindeks SINTA pada periode 2024–2025, yang memberikan konteks dinamika temporal.
Pendekatan ini konsisten dengan metode deskriptif-kuantitatif yang lazim digunakan dalam kajian bibliometrik Indonesia, yang mengombinasikan analisis persentase dari sampel data dengan analisis tren kualitatif berbasis wawancara dan observasi terhadap perilaku publikasi akademisi.
IV. DATA KOMPARATIF: SKALA DAN TREN PUBLIKASI 2025
4.1 Gambaran Skala Makro
Pada level makro, proporsi jurnal terakreditasi SINTA terhadap keseluruhan populasi jurnal berISSN di Indonesia relatif kecil. Bila basis data GARUDA mencakup skala puluhan ribu jurnal dan ratusan ribu artikel dari seluruh rumpun ilmu, sedangkan jumlah jurnal yang lolos akreditasi SINTA pada rumpun ilmu tertentu—seperti hukum—baru mencapai order ratusan (494 jurnal per Januari 2024), dapat disimpulkan secara proporsional bahwa jurnal non-SINTA masih mendominasi dari sisi kuantitas jurnal maupun artikel yang diterbitkan setiap tahunnya. Fenomena ini konsisten di hampir semua rumpun ilmu karena hambatan struktural untuk mencapai akreditasi (waktu, sumber daya pengelolaan, dan konsistensi penerbitan) jauh lebih tinggi dibandingkan hambatan untuk mendirikan jurnal ber-ISSN biasa.
4.2 Studi Kasus Institusional 2025
Institusi | Capaian Akreditasi SINTA 2025 | Catatan |
|---|---|---|
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) | 28 jurnal diakreditasi (19 baru); total kumulatif 94 jurnal terakreditasi SINTA | Periode I Tahun 2025 (Maret 2025) |
Universitas PGRI Adi Buana Surabaya | 12 jurnal baru terakreditasi (2× SINTA 3, 6× SINTA 4, 3× SINTA 5, 1× SINTA 6) | Periode I Tahun 2025 (Maret 2025) |
UIN Raden Intan Lampung | 39 dari 45 jurnal yang dikelola telah terakreditasi (≈87%) | Reakreditasi Periode III Tahun 2025 (SK terbit Juli 2026) |
Sumber: rilis resmi masing-masing perguruan tinggi, lihat Daftar Pustaka.
Pola pada tabel di atas memperlihatkan tren yang konsisten: institusi dengan tata kelola jurnal yang matang (memiliki kantor/unit pengelolaan jurnal tersendiri, seperti UPI) mampu mengonversi mayoritas jurnal kelolaannya menjadi terakreditasi SINTA, sementara institusi dengan jumlah jurnal yang lebih sedikit tetap menunjukkan pertumbuhan inkremental setiap periode akreditasi. Namun demikian, bahkan pada institusi dengan tata kelola baik seperti UIN Raden Intan Lampung, tetap terdapat residu jurnal (dalam kasus ini sekitar 13%) yang belum berhasil terakreditasi—mengindikasikan bahwa non-SINTA bukan semata pilihan sukarela, melainkan juga mencerminkan keterbatasan struktural.
4.3 Tren Temporal: Indikasi Penurunan Motivasi Publikasi SINTA 2024–2025
Temuan yang secara khusus relevan bagi analisis komparatif tahun 2025 adalah kajian yang mengidentifikasi penurunan publikasi terindeks SINTA pada periode 2024–2025, dengan capaian yang juga tidak signifikan pada 2026. Studi kualitatif tersebut, yang menggunakan observasi dan wawancara dengan pendekatan interpretasi fenomenologis, menemukan bahwa motivasi akademisi dalam riset dan publikasi ilmiah sempat tinggi pada periode 2023–2024, namun melemah pada periode 2024–2025. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa dinamika SINTA versus non-SINTA pada 2025 bukan semata soal proporsi statis, melainkan juga tren arah pergerakan: jika publikasi terindeks SINTA melambat sementara kebutuhan publikasi dosen dan mahasiswa tetap konstan atau meningkat, secara logis proporsi artikel yang "terserap" ke jalur non-SINTA berpotensi meningkat relatif.
Akademisi pada periode 2023–2024 sangat termotivasi dalam riset dan publikasi ilmiah, namun motivasi tersebut melemah pada periode 2024–2025. — Gunung Djati Conference Series, kajian penurunan publikasi SINTA 2025
V. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMBEDAKAN PERTUMBUHAN SINTA VS NON-SINTA
5.1 Faktor Regulasi dan Kelembagaan
Kerangka regulasi akreditasi terus diperbarui—dari Permenristekdikti Nomor 9 Tahun 2018 sebagai fondasi awal, hingga Permendiktisaintek Nomor 52 Tahun 2025 dan pembaruan lanjutan. Setiap perubahan regulasi menimbulkan periode adaptasi bagi pengelola jurnal, yang dapat memperlambat laju akreditasi baru sekaligus mendorong sebagian jurnal untuk sementara tetap berada di jalur non-SINTA sambil menyesuaikan tata kelola dengan instrumen penilaian terbaru.
5.2 Insentif Angka Kredit (KUM) dan Jabatan Fungsional
Sistem angka kredit menjadi pendorong utama preferensi dosen terhadap jurnal SINTA: SINTA 1 memberi 40 poin KUM, sementara SINTA 6 tetap diakui meski hanya bernilai 3 poin. Kenaikan ke jabatan lektor kepala, misalnya, mensyaratkan minimal publikasi di jurnal SINTA 3. Insentif administratif inilah yang membuat permintaan slot penerbitan di jurnal SINTA jauh melebihi kapasitas terbit jurnal-jurnal tersebut, mendorong sebagian penulis—terutama mahasiswa S1 dengan tenggat kelulusan mendesak—untuk memilih jurnal non-SINTA yang tidak mengakui KUM formal namun menawarkan kecepatan proses.
5.3 Kecepatan dan Ketatnya Proses Telaah Sejawat
Perbedaan mencolok lain terletak pada durasi dan kedalaman proses review. Jurnal terakreditasi, khususnya SINTA 1–3, menjalankan proses telaah yang ketat dengan berkali-kali revisi dan penolakan otomatis untuk tingkat plagiarisme di atas ambang tertentu, sehingga Letter of Acceptance dapat memakan waktu berbulan-bulan. Sebaliknya, jurnal non-SINTA umumnya menawarkan proses yang jauh lebih cepat—dalam hitungan dua hingga empat minggu—karena review lebih berfokus pada kelengkapan format ketimbang kedalaman analisis teoretis.
5.4 Biaya Pemrosesan Artikel (Article Processing Charge)
Article Processing Charge (APC) turut menjadi faktor pembeda signifikan. Sejumlah kajian internasional mencatat bahwa model APC untuk publikasi akses terbuka telah menjadi praktik lazim, dan di Indonesia sebagian jurnal SINTA 2 yang tidak memungut biaya cenderung dikelola lembaga pemerintah atau universitas negeri dengan jumlah terbatas dan tingkat persaingan sangat ketat. Kelangkaan slot gratis pada jurnal SINTA papan atas mendorong sebagian penulis untuk memanfaatkan jurnal non-SINTA dengan biaya lebih terjangkau atau bahkan gratis sebagai alternatif publikasi cepat.
5.5 Kapasitas Terbit dan Frekuensi Penerbitan
Jurnal SINTA umumnya terbit secara berkala dengan siklus tetap—tiga bulanan, enam bulanan, atau bahkan tahunan—yang membatasi jumlah artikel yang dapat diterima dalam satu periode terbit. Keterbatasan kapasitas struktural ini secara matematis menciptakan disparitas: permintaan naskah untuk masuk jurnal SINTA jauh melebihi slot yang tersedia, sementara jurnal non-SINTA relatif lebih fleksibel dalam menambah volume terbitan karena tidak terikat kuota akreditasi.
5.6 Strategi Kelembagaan Perguruan Tinggi
Sebagaimana tergambar pada studi kasus UPI dan UIN Raden Intan Lampung, keberadaan unit pengelolaan jurnal yang terstruktur secara signifikan mempercepat konversi jurnal kampus dari status non-SINTA menuju terakreditasi. Institusi yang berinvestasi dalam kantor jurnal khusus, pelatihan pengelola OJS (Open Journal System), dan pendampingan indeksasi DOAJ/Scopus/Crossref cenderung menunjukkan tren pertumbuhan jurnal SINTA yang lebih tinggi dibandingkan institusi tanpa struktur pendukung tersebut.
VI. FENOMENA PENURUNAN PUBLIKASI TERINDEKS SINTA 2024–2025: ANALISIS SEBAB
Penurunan publikasi terindeks SINTA pada periode 2024–2025 merupakan temuan yang patut dicermati secara mendalam karena berpotensi mengubah keseimbangan proporsi SINTA versus non-SINTA ke depan. Beberapa faktor penjelas yang relevan untuk dipertimbangkan meliputi:
Kelelahan administratif (fatigue) akademisi menghadapi perubahan regulasi akreditasi yang beruntun dalam waktu relatif singkat.
Ketatnya standar substansi ilmiah dan manajemen jurnal pada instrumen akreditasi terbaru, yang meningkatkan hambatan masuk (barrier to entry) bagi jurnal baru.
Pergeseran prioritas riset akademisi menuju publikasi internasional bereputasi (Scopus/Web of Science) sebagai respons terhadap kebijakan internasionalisasi kampus, yang secara tidak langsung mengurangi fokus pada jurnal SINTA domestik.
Beban administratif tridarma perguruan tinggi yang meningkat, mengurangi waktu efektif untuk penelitian dan penulisan artikel berkualitas tinggi.
Studi yang mengangkat fenomena ini menyimpulkan bahwa tetap terdapat potensi besar bagi akademisi—baik dosen maupun mahasiswa—untuk terus meningkatkan produktivitas publikasi ilmiah secara produktif, tidak hanya dari sisi kuantitas tetapi juga kualitas, sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Namun demikian, tanpa intervensi kebijakan yang tepat sasaran, tren pelambatan pada jalur SINTA berisiko mendorong migrasi artikel secara tidak terkendali menuju jurnal non-SINTA yang standar mutunya lebih bervariasi.
VII. IMPLIKASI KEBIJAKAN DAN REKOMENDASI
Kemdiktisaintek perlu mempertimbangkan penerbitan dasbor statistik agregat tahunan yang secara eksplisit memilah jumlah artikel SINTA versus estimasi non-SINTA per rumpun ilmu, guna mendukung riset kebijakan dan transparansi publik.
Penyederhanaan dan stabilisasi regulasi akreditasi dalam siklus yang lebih dapat diprediksi akan mengurangi kelelahan administratif pengelola jurnal dan penulis.
Perguruan tinggi tanpa unit pengelolaan jurnal terstruktur perlu didorong—melalui skema hibah atau pendampingan nasional—untuk membentuk kapasitas serupa yang telah terbukti efektif pada institusi seperti UPI.
Diperlukan mekanisme verifikasi terpusat yang lebih mudah diakses publik untuk membedakan jurnal non-SINTA yang sah secara ilmiah dari jurnal predator, mengingat semakin maraknya klaim indeksasi SINTA palsu.
Penelitian lanjutan berbasis akses data mentah ARJUNA-SINTA dan GARUDA (melalui kerja sama resmi dengan Kemdiktisaintek) sangat diperlukan untuk menghasilkan angka komparatif nasional yang presisi bagi tahun 2025 dan seterusnya.
VIII. KESIMPULAN
Analisis komparatif ini menyimpulkan bahwa meskipun tidak tersedia angka agregat nasional tunggal yang secara resmi memilah jumlah artikel jurnal SINTA versus non-SINTA di Indonesia sepanjang tahun 2025, bukti dari berbagai sumber—skala basis data GARUDA, data akreditasi rumpun ilmu hukum, dan studi kasus institusional—secara konsisten menunjukkan bahwa jurnal non-SINTA jauh mendominasi dari sisi kuantitas keseluruhan, sementara jurnal SINTA tetap memegang peran sentral sebagai standar mutu dan instrumen insentif karier akademik formal. Faktor regulasi, insentif KUM, kecepatan review, biaya publikasi, kapasitas terbit, dan strategi kelembagaan secara bersama-sama membentuk dinamika ini. Temuan tentang penurunan motivasi publikasi terindeks SINTA pada periode 2024–2025 menambah dimensi penting: keseimbangan antara kedua jalur publikasi ini bersifat dinamis dan sensitif terhadap perubahan kebijakan serta beban kerja akademisi, sehingga memerlukan pemantauan berkelanjutan dan basis data yang lebih transparan ke depan.
DAFTAR PUSTAKA
Admiration Publisher. (2026). Kriteria Jurnal SINTA 1–6 Lengkap: Syarat Akreditasi 2026.
Berita UPI. (2025, 22 Maret). UPI Tambah Daftar Jurnal Terakreditasi SINTA, Kini Total 94 Judul.
Kopusindo – Komunitas Publikasi Indonesia. (2024). GARUDA (Garba Rujukan Digital) adalah....
Pustaka Publisher. (2025, 24 Desember). Bedanya Jurnal Terakreditasi dan Tidak Terakreditasi.
Radar Lampung. (2026). 39 Jurnal Ilmiah UIN Raden Intan Lampung Resmi Terakreditasi SINTA.
SINTA – Science and Technology Index. (t.t.). Frequently Asked Questions.
Tim Redaksi. (2026, 27 Juli). Mengapa Publikasi Sinta Menurun 2025?. Kelas Menulis.
Asis, M. A., Kurniati, N., & Jufda, M. A. (2026). Mengapa Publikasi Indeks Sinta Menurun Tahun 2025?. Gunung Djati Conference Series, 37.
Undang: Jurnal Hukum, Universitas Jambi. (2024). Daftar Jurnal Hukum Terakreditasi.
Garuda – Garba Rujukan Digital, Kemdiktisaintek. (t.t.). Portal Referensi Ilmiah Indonesia.
Catatan metodologis: seluruh tautan di atas diakses dan diverifikasi ketersediaannya pada Agustus 2026. Data kuantitatif institusional bersifat snapshot pada tanggal rilis masing-masing sumber dan dapat berubah mengikuti pembaruan periodik akreditasi SINTA.
Komentar
Posting Komentar