Buku "Teonomi Ekonomi, Intellectual Capital, dan Strategi AI" Resmi Dirilis dalam Padang International Literacy Festival 2026

Buku "Teonomi Ekonomi, Intellectual Capital, dan Strategi AI" Resmi Dirilis dalam Padang International Literacy Festival 2026

Bandung - Padang, 26 Agustus 2026 — Sebuah karya nonfiksi yang menautkan filsafat nilai, teori modal intelektual, dan strategi kecerdasan artifisial resmi masuk dalam Daftar Rilis Buku Padang International Literacy Festival 2026 (PIL Fest 2026). Buku berjudul "Teonomi Ekonomi, Intellectual Capital, dan Strategi AI" karya Wulan Sari Dewi dan Asep Rohmandar tercatat sebagai buku nomor urut ke-306 dari ratusan judul yang dirilis dalam festival literasi internasional tersebut, di bawah naungan Masyarakat Peneliti Mandiri Kesundaan Nusantara, Bandung, Jawa Barat.

PIL Fest 2026 sendiri merupakan ajang literasi internasional yang digagas Yayasan Rumah Indonesia Menulis bersama Penyala Literasi Semesta Sumatera Barat, dengan dukungan penerbitan dari SIP Publishing. Festival ini menjadi wadah bagi ratusan penulis dari berbagai daerah di Indonesia — mulai dari guru, pelajar, akademisi, hingga komunitas literasi lokal — untuk merilis karya secara serentak, menjadikannya salah satu gerakan literasi kolektif terbesar yang pernah diselenggarakan di Sumatera Barat.

Dari sekian ratus judul yang dirilis, "Teonomi Ekonomi, Intellectual Capital, dan Strategi AI" tampil dengan pendekatan yang berbeda dari kebanyakan buku dalam daftar tersebut. Buku ini mengajak pembaca menelusuri tiga arus pemikiran sekaligus: teonomi sebagai fondasi nilai dalam kehidupan ekonomi, intellectual capital sebagai teori modal pengetahuan yang menjembatani nilai dengan produktivitas, serta strategi kecerdasan artifisial sebagai kekuatan transformatif zaman ini. Ketiganya disatukan penulis dalam sebuah kerangka analisis orisinal bernama Triangulasi Teo-Etis, yang mengajak pembuat kebijakan maupun masyarakat umum menilai setiap keputusan ekonomi dari tiga sudut: nilai, pengetahuan, dan kesiapan teknologi.

Buku ini juga memperkaya pembahasannya dengan kearifan filsafat Sunda dan Nusantara, seperti konsep Tri Tangtu di Buana, Pancacuriga, dan Pancaniti, yang didudukkan setara dengan teori-teori pemikiran Barat seperti teonomi Paul Tillich dan model intellectual capital Edvinsson-Bontis. Pendekatan lintas tradisi ini menjadi salah satu ciri khas yang membedakan buku ini dari literatur ekonomi dan kebijakan teknologi pada umumnya.

Asep Rohmandar, salah satu penulis buku ini, menyampaikan bahwa buku ini lahir dari keresahan atas kemajuan ekonomi dan teknologi yang kerap kehilangan arah makna. "Kami berharap buku ini dapat menjadi bahan renungan bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana nilai, pengetahuan, dan kecerdasan buatan sesungguhnya saling berkelindan, bukan berjalan sendiri-sendiri," ujarnya.

Sementara itu, Wulan Sari Dewi, yang turut menyumbangkan keahliannya di bidang manajemen keuangan dan riset intellectual capital dalam penyusunan buku ini, berharap karya bersama ini dapat menjangkau pembaca umum lintas latar belakang. "Topik intellectual capital sering dianggap rumit dan hanya milik dunia akademik. Lewat buku ini, kami ingin menunjukkan bahwa gagasan tersebut sesungguhnya dekat dengan persoalan sehari-hari, termasuk bagaimana kita memandang pengetahuan sebagai kekayaan yang sesungguhnya," katanya.

Perilisan buku ini menjadi bagian dari semarak Padang International Literacy Festival 2026, yang turut disorot sejumlah media lokal seperti Suara Anak Negeri News dan Negeri News. Data resmi Daftar Rilis Buku PIL Fest 2026 per 26 Agustus 2026 pukul 15.45 WIB mencatat total 20 judul buku baru dalam rentang nomor urut 301 hingga 320, dengan "Teonomi Ekonomi, Intellectual Capital, dan Strategi AI" menjadi salah satu yang mewakili genre nonfiksi reflektif bertema ekonomi, filsafat, dan teknologi dalam gelombang rilis tersebut.

(Redaksi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skenario Anggaran PBB yang Inklusif untuk Mewujudkan Tatanan Dunia Baru dan Sustainable Development Goals 2030 serta Post-SDGs yang Berkeadilan

Esai: Teori dan Praktik Ekonomi Teonomik-Humanistik

Paradoks Terbesar Kesepakatan Resiprokal As dan Tarif Global — Negara yang Berkorban Lebih Banyak, Justru Dirugikan