DINAMIKA ANGKA KESAKITAN DAN KLASIFIKASI PENYAKIT DI INDONESIA : Analisis Data Time-Series 2013–2024


ESAI AKADEMIK

DINAMIKA ANGKA KESAKITAN DAN KLASIFIKASI PENYAKIT DI INDONESIA

Analisis Data Time-Series 2013–2024 dan Implikasi bagi Transisi Epidemiologi serta Kebijakan Kesehatan Nasional

“Data kesehatan bukan sekadar angka administratif, melainkan cermin transisi epidemiologi suatu bangsa — dari beban penyakit menular menuju dominasi penyakit tidak menular, tanpa pernah sepenuhnya melepaskan diri dari ancaman lama.”


Disusun oleh

Asep Rohmandar

Masyarakat Peneliti Mandiri Kasundaan Nusantara

Agustus 2026

Abstrak

Esai ini menyajikan analisis komprehensif mengenai angka kesakitan (morbiditas) penduduk Indonesia serta klasifikasi jenis penyakit yang mendominasi beban kesehatan nasional, disusun berdasarkan rangkaian data resmi dari tahun ke tahun. Sumber utama meliputi Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dan Profil Statistik Kesehatan yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dan 2018, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, data surveilans Kementerian Kesehatan untuk penyakit menular seperti demam berdarah dengue (DBD) dan tuberkulosis (TBC), serta Global Tuberculosis Report yang diterbitkan World Health Organization (WHO). Temuan menunjukkan pola 

transisi epidemiologi ganda: prevalensi penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi dan diabetes melitus tetap tinggi meski hipertensi menunjukkan tren penurunan, sementara penyakit menular seperti TBC dan DBD justru mengalami lonjakan penemuan kasus pada periode 2022–2024 akibat perbaikan sistem deteksi, dampak pemulihan pascapandemi, dan pengaruh anomali iklim El Niño–La Niña. Esai ini diakhiri dengan diskusi implikasi kebijakan bagi penguatan sistem surveilans kesehatan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Kata kunci: morbiditas, angka kesakitan, penyakit tidak menular, penyakit menular, Susenas, Riskesdas, Survei Kesehatan Indonesia, transisi epidemiologi, Indonesia

1. Pendahuluan

Kesehatan penduduk merupakan salah satu indikator fundamental pembangunan suatu bangsa. Di Indonesia, pemantauan status kesehatan masyarakat dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai instrumen survei dan sistem surveilans, mulai dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dikelola Badan Pusat Statistik (BPS), Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang kini terintegrasi menjadi Survei Kesehatan Indonesia (SKI), hingga sistem pelaporan rutin penyakit menular yang dikelola Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan.

Memahami dinamika angka kesakitan dan klasifikasi penyakit dari tahun ke tahun bukan hanya bermanfaat secara epidemiologis, tetapi juga krusial bagi perumusan kebijakan alokasi anggaran kesehatan, penguatan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dan pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) di bidang kesehatan. Indonesia saat ini menghadapi apa yang secara akademik disebut sebagai transisi epidemiologi ganda (double burden of disease) — yakni situasi ketika penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung terus meningkat kontribusinya terhadap beban kesehatan, sementara penyakit menular klasik seperti tuberkulosis, demam berdarah dengue, dan malaria belum sepenuhnya terkendali.

“Indonesia tidak sedang meninggalkan satu era penyakit untuk memasuki era penyakit yang lain, melainkan menanggung beban dari kedua era tersebut secara bersamaan.”

Esai ini disusun untuk memetakan secara komprehensif data jumlah penduduk yang sakit dan klasifikasi jenis penyakitnya dari tahun ke tahun di Indonesia, dengan merujuk pada sumber data resmi dan tautan yang dapat diverifikasi secara langsung oleh pembaca.

2. Metodologi dan Sumber Data

Esai ini disusun melalui metode kajian pustaka (literature review) dan sintesis data sekunder (secondary data synthesis) dari sumber-sumber resmi pemerintah dan lembaga internasional. Sumber data utama yang digunakan meliputi:

  • Badan Pusat Statistik (BPS) — Profil Statistik Kesehatan dan indikator Angka Kesakitan/Morbiditas dari Susenas.

  • Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) — Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dan 2018, serta Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.

  • Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes — laporan tematik dan fact sheet hasil SKI 2023.

  • Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes — data surveilans mingguan DBD, TBC, dan malaria.

  • World Health Organization (WHO) — Global Tuberculosis Report tahunan dan kantor perwakilan WHO Indonesia.

Data disusun secara time-series untuk memperlihatkan tren dari tahun ke tahun, dengan penekanan pada periode 2013–2024 sebagai rentang waktu yang mencakup dua putaran Riskesdas (2013, 2018), transisi menuju SKI (2023), serta periode pandemi dan pascapandemi COVID-19 yang berdampak signifikan terhadap pola pelaporan penyakit.

3. Klasifikasi Penyakit dalam Kerangka Surveilans Indonesia

Secara epidemiologis, klasifikasi penyakit di Indonesia mengikuti kerangka besar International Classification of Diseases (ICD) yang diadaptasi Kemenkes, namun dalam pelaporan publik umumnya dikelompokkan ke dalam dua kategori besar:

3.1 Penyakit Tidak Menular (PTM)

PTM mencakup hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), gangguan ginjal kronis, serta gangguan kesehatan jiwa. PTM umumnya bersifat kronis, berkembang secara bertahap, dan erat kaitannya dengan faktor risiko perilaku seperti pola makan, aktivitas fisik, konsumsi tembakau, dan konsumsi alkohol.

3.2 Penyakit Menular (PM)

PM mencakup tuberkulosis (TBC), demam berdarah dengue (DBD), malaria, diare, pneumonia, HIV/AIDS, serta penyakit infeksi baru yang bersifat emerging seperti COVID-19. Penyakit menular sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, sanitasi, kepadatan penduduk, dan pola migrasi.

3.3 Gangguan Kesehatan Jiwa

Kategori ini semakin mendapat perhatian khusus sejak SKI 2023 memasukkan instrumen Mini International Neuropsychiatric Interview (MINI) untuk menilai gangguan depresi, khususnya pada kelompok usia muda.

4. Angka Kesakitan (Morbiditas) Nasional dari Waktu ke Waktu

Badan Pusat Statistik mendefinisikan Angka Kesakitan atau Morbiditas sebagai persentase penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan, yakni gangguan terhadap kondisi fisik maupun jiwa — termasuk akibat kecelakaan — yang menyebabkan terganggunya kegiatan sehari-hari. Indikator ini dikumpulkan setiap tahun melalui Susenas periode Maret dan dipublikasikan dalam Profil Statistik Kesehatan yang terbit setiap dua tahun.

Publikasi Profil Statistik Kesehatan 2023 dari BPS menyajikan data kesehatan umum penduduk, kesehatan ibu, kesehatan anak dan balita, serta pengeluaran kesehatan masyarakat yang bersumber dari Susenas Maret 2023, disajikan pada level nasional dan provinsi menurut klasifikasi desa/kota, kelompok umur, tingkat pendidikan, dan status ekonomi.

Sumber: BPS, Profil Statistik Kesehatan 2023 — https://www.bps.go.id/id/publication/2023/12/20/feffe5519c812d560bb131ca/profil-statistik-kesehatan-2023.html

5. Tren Penyakit Tidak Menular (PTM): Hipertensi dan Diabetes Melitus

Data komparatif tiga putaran survei kesehatan nasional — Riskesdas 2013, Riskesdas 2018, dan SKI 2023 — memperlihatkan arah perubahan yang berbeda antara hipertensi dan diabetes melitus. Prevalensi hipertensi pada penduduk dewasa naik tajam dari 2013 ke 2018, kemudian menurun signifikan pada SKI 2023. Sebaliknya, prevalensi diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter justru menunjukkan tren peningkatan dari 2018 ke 2023.

Indikator

Riskesdas 2013

Riskesdas 2018

SKI 2023

Arah Tren

Prevalensi hipertensi (pengukuran tekanan darah, usia ≥18 th)

25,8%

34,1%

30,8%

Menurun (2018→2023)

Prevalensi diabetes melitus (diagnosis dokter, usia ≥15 th)

2,0%

2,2%

Meningkat

Prevalensi diabetes melitus (diagnosis dokter, semua umur)

1,5%

1,7%

Meningkat

Kontribusi hipertensi terhadap disabilitas (usia ≥15 th)

22,2%

Faktor risiko utama

Sumber: Riskesdas 2018 (Balitbangkes Kemenkes); BKPK Kemenkes, "Potret Sehat Indonesia dari Kacamata SKI 2023" — https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/potret-sehat-indonesia-dari-kacamata-ski-2023/ ; Databoks Katadata — https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2024/07/05/prevalensi-hipertensi-indonesia-turun-jadi-308-pada-2023

Penurunan prevalensi hipertensi pada 2023 patut diapresiasi sebagai hasil program deteksi dini dan pengendalian faktor risiko melalui Posbindu PTM. Namun, BKPK Kemenkes mencatat adanya kesenjangan (gap) antara penduduk yang telah terdiagnosis hipertensi dengan yang secara konsisten menjalani pengobatan atau kunjungan ulang ke fasilitas kesehatan — sebuah tantangan keberlanjutan pengobatan (treatment continuity) yang menjadi perhatian dalam kebijakan Continuum of Care.

6. Tren Penyakit Menular: Tuberkulosis (TBC)

Tuberkulosis tetap menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia. Data Global TB Report yang diterbitkan WHO serta laporan penemuan kasus Kemenkes menunjukkan tren peningkatan drastis penemuan kasus TBC sejak 2020, yang oleh Kemenkes dijelaskan sebagai kombinasi antara peningkatan insidensi riil maupun perbaikan sistem deteksi dan pelaporan yang sebelumnya mengalami under-reporting.

Tahun

Estimasi Kasus (Global TB Report)

Kasus Ditemukan/Dilaporkan Indonesia

Keterangan

2020

10 juta (global)

< 600 ribu (rata-rata pra-pandemi)

Dampak pandemi menurunkan deteksi

2021

10,3 juta (global); ±969 ribu (Indonesia, estimasi WHO)

Kenaikan insiden ±14,9%/tahun (2020–2021)

Indonesia peringkat ke-2 dunia

2022

10,6 juta (global)

724.309 kasus (75% dari estimasi)

Capaian tertinggi 5 tahun terakhir saat itu

2023

1,06 juta (estimasi Indonesia)

809.000–820.789 kasus (77% dari estimasi)

Peningkatan penemuan kasus anak >2,5×

Sumber: WHO Global Tuberculosis Report 2021–2023 — https://www.who.int/teams/global-tuberculosis-programme/tb-reports ; Kemenkes RI, "Kasus TBC Tinggi Karena Perbaikan Sistem Deteksi dan Pelaporan" — https://www.kemkes.go.id/id/kasus-tbc-tinggi-karena-perbaikan-sistem-deteksi-dan-pelaporan ; ANTARA News — https://www.antaranews.com/berita/3818970/kemenkes-gencarkan-penemuan-kasus-tbc-di-indonesia

Indonesia menempati posisi kedua dunia dengan beban kasus TBC terbanyak setelah India, menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus global. Data WHO turut mencatat Indonesia sebagai kontributor terbesar peningkatan kasus TBC secara global pada periode 2020–2023, sekaligus negara dengan kesenjangan terbesar antara estimasi jumlah kasus dan kasus yang benar-benar berhasil ditemukan dan dilaporkan.

“Kenaikan kasus yang ditemukan bukanlah kabar buruk semata — ia juga menandakan sistem deteksi yang membaik, sehingga lebih banyak penderita dapat segera diobati sebelum menularkan penyakitnya kepada orang lain.”
  — Direktur P2PM Kemenkes, dr. Imran Pambudi

7. Tren Penyakit Menular: Demam Berdarah Dengue (DBD)

Kasus DBD di Indonesia menunjukkan pola fluktuatif namun dengan kecenderungan pemendekan siklus epidemi tahunan — dari yang semula bersiklus 10 tahunan menjadi 3 tahunan atau bahkan lebih pendek, sebuah fenomena yang oleh Kemenkes dikaitkan dengan pengaruh perubahan iklim dan anomali El Niño.

Tahun

Jumlah Kasus

Jumlah Kematian

Catatan

2019

138.127

Lonjakan kasus signifikan

2020

108.303

Penurunan pascalonjakan 2019

2021

73.518

Penurunan 32,12% dari tahun sebelumnya

2022

131.265

1.135

Kenaikan kembali

2023

114.720

894

Penurunan sekitar 35% dari puncak

2024 (s.d. minggu ke-43)

210.644

1.239

Lonjakan tajam; 482 kabupaten/kota terjangkit

Sumber: GoodStats Data — https://data.goodstats.id/statistic/jumlah-kasus-dbd-di-indonesia-periode-2013-2022-U9tXV ; Kemenkes RI, "Waspada Penyakit di Musim Hujan" — https://kemkes.go.id/id/waspada-penyakit-di-musim-hujan ; Indonesia.go.id — https://indonesia.go.id/kategori/kesehatan/8787/yuk-waspadai-penyakit-kala-musim-hujan-tiba

Direktorat P2PM Kemenkes mencatat bahwa meskipun jumlah kasus DBD cenderung meningkat, Case Fatality Rate (CFR) atau tingkat kematian dibandingkan jumlah kasus justru menunjukkan tren penurunan — mengindikasikan perbaikan pada sisi penanganan klinis meskipun pengendalian vektor nyamuk di tingkat hulu masih menjadi tantangan besar.

8. Penyakit Menular Lain: Malaria dan Diare

SKI 2023 mencatat prevalensi malaria pada penduduk semua umur berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan meningkat tipis dibandingkan Riskesdas 2018, dari 0,4 persen menjadi 0,5 persen, dengan Provinsi Papua Tengah dan Papua Selatan mencatat prevalensi tertinggi secara nasional. Di sisi lain, tren diare pada balita justru membaik, dengan prevalensi menurun dari 12,3 persen (Riskesdas 2018) menjadi 7,4 persen (SKI 2023) — penurunan sebesar 4,9 poin persentase yang mencerminkan perbaikan akses sanitasi dan air bersih.

Indikator

Riskesdas 2018

SKI 2023

Arah Tren

Prevalensi malaria (semua umur, diagnosis nakes)

0,4%

0,5%

Meningkat tipis

Prevalensi diare pada balita

12,3%

7,4%

Menurun signifikan

Prevalensi TBC paru (diagnosis dokter, semua umur)

0,4%

0,3%

Menurun

Sumber: BKPK Kemenkes, "Hasil Utama SKI 2023" — https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/daftar-frequently-asked-question-seputar-hasil-utama-ski-2023/hasil-utama-ski-2023/

9. Kesehatan Jiwa: Dimensi Baru dalam Klasifikasi Beban Penyakit

Salah satu terobosan metodologis SKI 2023 adalah dimasukkannya instrumen Mini International Neuropsychiatric Interview (MINI) untuk menilai gangguan depresi secara terstandardisasi — sesuatu yang tidak dilakukan pada Riskesdas edisi-edisi sebelumnya. Hasilnya menunjukkan proporsi depresi yang relatif tinggi pada kelompok usia muda (15–24 tahun), sebuah temuan yang menandai perlunya perluasan klasifikasi beban penyakit nasional agar tidak lagi berfokus semata pada penyakit fisik.

Sumber: BKPK Kemenkes, "Potret Sehat Indonesia dari Kacamata SKI 2023" — https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/potret-sehat-indonesia-dari-kacamata-ski-2023/

10. Analisis dan Diskusi

10.1 Transisi Epidemiologi Ganda

Data yang dipaparkan di atas menegaskan bahwa Indonesia berada dalam fase transisi epidemiologi ganda (double burden of disease). Di satu sisi, penyakit tidak menular seperti diabetes melitus terus meningkat prevalensinya sejalan dengan perubahan gaya hidup, urbanisasi, dan pola konsumsi. Di sisi lain, penyakit menular klasik seperti TBC dan DBD belum sepenuhnya terkendali, bahkan menunjukkan lonjakan kasus pada 2023–2024.

10.2 Faktor Perbaikan Sistem Deteksi versus Peningkatan Insidensi Riil

Lonjakan kasus TBC yang ditemukan pada 2022–2023 perlu dibaca secara hati-hati: sebagian besar kenaikan mencerminkan perbaikan kapasitas skrining dan pelaporan pascapandemi, bukan semata-mata ledakan penularan baru. Namun demikian, kesenjangan antara estimasi kasus WHO dan kasus yang benar-benar ditemukan menunjukkan bahwa under-reporting masih menjadi persoalan struktural dalam sistem surveilans kesehatan nasional.

10.3 Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Penyakit Menular Vektor

Pemendekan siklus epidemi DBD dari 10 tahunan menjadi 3 tahunan atau lebih pendek merupakan indikasi kuat pengaruh perubahan iklim dan fenomena El Niño–La Niña terhadap dinamika populasi vektor nyamuk Aedes aegypti. Hal ini relevan dengan proyeksi dampak Super El Niño terhadap sektor kesehatan pada periode 2025–2026 yang perlu diantisipasi melalui penguatan program 3M (menguras, menutup, mengubur) di tingkat komunitas.

10.4 Kesenjangan Continuum of Care pada PTM

Meski prevalensi hipertensi menurun secara agregat, kesenjangan antara penduduk terdiagnosis dan penduduk yang benar-benar menjalani pengobatan rutin tetap menjadi tantangan besar. Tanpa penguatan program Continuum of Care di tingkat fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), penurunan prevalensi berisiko bersifat semu dan rentan terhadap komplikasi jangka panjang seperti stroke dan gagal ginjal.

11. Implikasi Kebijakan

  • Penguatan sistem surveilans berbasis digital untuk mengurangi under-reporting kasus TBC dan penyakit menular lain, sejalan dengan target Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis.

  • Perluasan cakupan Posbindu PTM dan skrining faktor risiko hipertensi–diabetes hingga ke tingkat desa/kelurahan, disertai penguatan program kepatuhan pengobatan (medication adherence).

  • Integrasi strategi pengendalian vektor DBD dengan sistem peringatan dini iklim (climate early warning system) dari BMKG, mengingat korelasi kuat antara anomali cuaca dan lonjakan kasus.

  • Pengarusutamaan kesehatan jiwa remaja ke dalam program kesehatan sekolah, menyusul temuan SKI 2023 mengenai tingginya proporsi depresi pada kelompok usia 15–24 tahun.

  • Publikasi data kesehatan secara terbuka (open data) dan konsisten setiap tahun, agar riset akademik dan pengawasan publik terhadap capaian pembangunan kesehatan dapat berjalan optimal.

12. Kesimpulan

Dinamika angka kesakitan dan klasifikasi penyakit di Indonesia dari tahun ke tahun memperlihatkan gambaran yang kompleks dan tidak linear. Penyakit tidak menular seperti diabetes melitus terus menunjukkan tren peningkatan, sementara hipertensi mengalami penurunan prevalensi yang perlu dijaga keberlanjutannya. Di ranah penyakit menular, TBC dan DBD menunjukkan lonjakan penemuan kasus pada 2022–2024, sebagian mencerminkan perbaikan sistem deteksi namun juga mengindikasikan tantangan riil dalam pengendalian penularan. Data-data ini menegaskan pentingnya sistem surveilans kesehatan yang kuat, konsisten, dan terbuka sebagai fondasi bagi perumusan kebijakan kesehatan berbasis bukti (evidence-based policy) menuju visi Indonesia Emas 2045.

Daftar Pustaka

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI. (2024). Hasil Utama SKI 2023. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/daftar-frequently-asked-question-seputar-hasil-utama-ski-2023/hasil-utama-ski-2023/

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI. (2024). Potret Sehat Indonesia dari Kacamata SKI 2023. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/potret-sehat-indonesia-dari-kacamata-ski-2023/

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI. (2024). SKI 2023 Dalam Angka. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/ski-2023-dalam-angka/

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI. (2024). Prevalensi, Dampak, serta Upaya Pengendalian Hipertensi dan Diabetes di Indonesia. https://repository.badankebijakan.kemkes.go.id/id/eprint/5536/

Badan Pusat Statistik (BPS). (2023). Profil Statistik Kesehatan 2023. https://www.bps.go.id/id/publication/2023/12/20/feffe5519c812d560bb131ca/profil-statistik-kesehatan-2023.html

Badan Pusat Statistik (BPS). Indikator Kesehatan 1995–2023. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTU1OSMx/indikator-kesehatan-1995-2023.html

Databoks Katadata. (2024, 5 Juli). Prevalensi Hipertensi Indonesia Turun Jadi 30,8% pada 2023. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2024/07/05/prevalensi-hipertensi-indonesia-turun-jadi-308-pada-2023

GoodStats Data. (2023). Jumlah Kasus DBD di Indonesia Periode 2013–2022. https://data.goodstats.id/statistic/jumlah-kasus-dbd-di-indonesia-periode-2013-2022-U9tXV

Indonesia.go.id. (2024, November). Yuk Waspadai Penyakit Kala Musim Hujan Tiba. https://indonesia.go.id/kategori/kesehatan/8787/yuk-waspadai-penyakit-kala-musim-hujan-tiba

Kementerian Kesehatan RI. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. https://kemkes.go.id/id/survei-kesehatan-indonesia-ski-2023

Kementerian Kesehatan RI. (2024). Kasus TBC Tinggi Karena Perbaikan Sistem Deteksi dan Pelaporan. https://www.kemkes.go.id/id/kasus-tbc-tinggi-karena-perbaikan-sistem-deteksi-dan-pelaporan

Kementerian Kesehatan RI. (2024). Waspada DBD di Musim Kemarau. https://kemkes.go.id/id/waspada-dbd-di-musim-kemarau

Kementerian Kesehatan RI. (2024). Waspada Penyakit di Musim Hujan. https://kemkes.go.id/id/waspada-penyakit-di-musim-hujan

Layanan Data Kementerian Kesehatan RI. Ketersediaan Data SKI 2023. https://layanandata.kemkes.go.id/katalog-data/ski/ketersediaan-data/ski-2023

ANTARA News. (2023, 8 November). Pakar: Kasus TBC di Indonesia Masih Tinggi, Masuk Peringkat Dua Global. https://www.antaranews.com/berita/3812787/pakar-kasus-tbc-di-indonesia-masih-tinggi-masuk-peringkat-dua-global

ANTARA News. (2023, 11 November). Kemenkes Gencarkan Penemuan Kasus TBC di Indonesia. https://www.antaranews.com/berita/3818970/kemenkes-gencarkan-penemuan-kasus-tbc-di-indonesia

ANTARA News. (2024, 14 Juni). Kemenkes: Kasus DBD Hingga Pekan Ke-22 2024 Melebihi Kasus pada 2023. https://www.antaranews.com/berita/4153017/kemenkes-kasus-dbd-hingga-pekan-ke-22-2024-melebihi-kasus-pada-2023

CNN Indonesia. (2024, 2 Mei). Kemenkes Catat Kasus DBD Melonjak 3 Kali Lipat Dibandingkan 2023. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20240502100304-20-1092919/kemenkes-catat-kasus-dbd-melonjak-3-kali-lipat-dibandingkan-2023

World Health Organization (WHO). Global Tuberculosis Report (edisi 2021, 2022, dan 2023). https://www.who.int/teams/global-tuberculosis-programme/tb-reports

World Health Organization (WHO) Indonesia. (2024). Memahami Kesehatan: Dukungan WHO untuk Survei Kesehatan Indonesia 2023. https://www.who.int/indonesia/id/news-room/item/11-01-2024-shaping-health-insights--who-s-support-for-the-indonesia-health-survey-2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skenario Anggaran PBB yang Inklusif untuk Mewujudkan Tatanan Dunia Baru dan Sustainable Development Goals 2030 serta Post-SDGs yang Berkeadilan

Esai: Teori dan Praktik Ekonomi Teonomik-Humanistik

Paradoks Terbesar Kesepakatan Resiprokal As dan Tarif Global — Negara yang Berkorban Lebih Banyak, Justru Dirugikan