JADI PENELITI KAMPUNG TANPA DONASI

JADI PENELITI KAMPUNG TANPA DONASI                                                                                                                               Pojok Kampung, 20 Agustus 2026— Riset saya bisa tembus jurnal Q1 hingga Q4, tapi soal dana, saya tetap jalan sendiri: dari hasil usaha mikro yang tak seberapa. Tapi sekalipun bisa akhirnya ngak jadi terbit karena biaya APC yang mencapai 800 -2500 USD. 
“Jurnalnya udah Scopus Q1, ya sekarang tinggal nunggu proposal hibahnya cair aja,” kata seorang kenalan suatu waktu. Saya cuma senyum. Sebab kenyataannya, sampai hari ini, saya belum pernah sekali pun menerima bantuan riset — bukan dari negara, bukan pula dari swasta.

Padahal kalau dilihat dari rekam jejak publikasi, semestinya bukan hal yang aneh jika ada pihak yang tertarik mendukung. Tulisan saya sudah tersebar di jurnal-jurnal dengan kuartil beragam — ada yang Q1, ada yang Q2, ada pula yang Q3 dan Q4. Tapi soal pendanaan, semuanya nihil. Tidak ada satu pun donasi, hibah, atau dukungan finansial yang datang mengiringi terbitnya karya-karya itu.


Riset jalan, dompet jalan sendiri

Saya melakukan riset bukan karena ditugaskan lembaga, bukan pula karena ada proyek besar yang membiayai. Semuanya berangkat dari keresahan pribadi dan kecintaan pada dunia ilmu pengetahuan. Maka wajar jika soal pembiayaan, saya juga harus memutar otak sendiri.

Sumber dana riset saya sesungguhnya sederhana saja: hasil sisihan dari usaha mikro yang saya jalankan. Bukan usaha besar, bukan pula omzet yang fantastis. Tapi dari situlah saya mengalokasikan sebagian kecil untuk keperluan riset — mulai dari biaya submit jurnal, biaya proofread, hingga sekadar membeli referensi yang tidak bisa diakses gratis.

Ironisnya, semakin rajin saya menulis dan menerbitkan, justru semakin saya sadar bahwa dunia riset independen di negeri ini nyaris tidak punya ekosistem pendukung. Tidak ada yayasan yang menghubungi. Tidak ada dinas yang menawarkan hibah. Tidak ada perusahaan yang melirik untuk CSR riset. Semua berjalan sunyi, dan saya pun terbiasa berjalan sendiri.

Syukur, meski tak ada yang mengulurkan tangan

Namun anehnya, saya tidak pernah merasa itu sebagai beban yang harus diratapi. Justru saya bersyukur. Sebab dari keterbatasan itu, saya belajar bahwa riset yang baik tidak selalu lahir dari dana besar atau fasilitas mewah. Ia bisa lahir dari kegigihan, dari waktu yang disisihkan di sela kesibukan usaha, dan dari keyakinan bahwa karya ilmiah tetap punya nilai meski tidak dibiayai siapa pun.

Setiap kali satu artikel akhirnya accepted dan terbit — entah di jurnal Q1 yang prosesnya panjang dan ketat, atau di Q3 dan Q4 yang tak kalah menuntut kesabaran — ada rasa syukur yang muncul. Bukan karena honor atau insentif, sebab memang tidak ada. Tapi karena tahu bahwa gagasan yang saya perjuangkan sendirian itu, akhirnya sampai juga ke ruang baca orang lain.


Peneliti mandiri, tetap punya tempat

Saya kira, ini bagian dari realitas yang jarang dibicarakan. Banyak orang mengira bahwa jika sudah tembus jurnal bereputasi, otomatis pintu-pintu pendanaan akan terbuka. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Ada begitu banyak peneliti mandiri di luar sana — yang tidak berafiliasi dengan lembaga besar, tidak punya akses ke hibah kementerian, dan tidak dilirik sponsor — tapi tetap menghasilkan karya yang layak disandingkan dengan riset-riset yang dibiayai penuh.

Kami menulis bukan untuk menunggu donasi. Kami menulis karena riset dan gagasan itu sendiri sudah menjadi alasan untuk terus berjalan. Kalaupun suatu hari ada pihak yang berkenan mendukung, itu akan menjadi bonus. Tapi kalaupun tidak, usaha mikro yang saya rintis akan tetap jadi sandaran, dan riset akan tetap saya lanjutkan.

Sebab bagi saya, nilai sebuah karya ilmiah tidak ditentukan oleh besar-kecilnya dana yang mengantarnya lahir, melainkan oleh sejauh mana ia mampu memberi makna dan manfaat bagi yang membacanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skenario Anggaran PBB yang Inklusif untuk Mewujudkan Tatanan Dunia Baru dan Sustainable Development Goals 2030 serta Post-SDGs yang Berkeadilan

Esai: Teori dan Praktik Ekonomi Teonomik-Humanistik

Paradoks Terbesar Kesepakatan Resiprokal As dan Tarif Global — Negara yang Berkorban Lebih Banyak, Justru Dirugikan