Menyuburkan Metode Quick and Speed Learning untuk Mencapai Skor PISA yang Berkelanjutan di Jawa Barat

Menguburkan Metode Quick and Speed Learning untuk Mencapai Skor PISA yang Berkelanjutan di Jawa Barat

Pendahuluan

Programme for International Student Assessment (PISA) merupakan program evaluasi internasional yang digagas oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) untuk menilai kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam tiga bidang utama: literasi membaca, matematika, dan sains. Hasil studi ini menjadi tolak ukur kualitas pendidikan suatu negara di kancah global.

Indonesia telah mengikuti PISA sejak tahun 2000. Namun, skor numerasi Indonesia selama lebih dari dua dekade masih stagnan di kisaran 360–390, jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 472 pada tahun 2022. Berdasarkan PISA 2022, Indonesia berada di peringkat 68 dengan skor matematika 366, sains 383, dan membaca 359. Sementara itu, peringkat Indonesia secara keseluruhan berada di posisi 72 dari 77 negara dalam aspek literasi, matematika, dan sains.

Jawa Barat sebagai provinsi dengan populasi terbesar di Indonesia menghadapi tantangan serius dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Skor numerasi dalam Rapor Pendidikan Jawa Barat pada 2025 berada di angka 66,81, masih di bawah target 70,6. Lebih dari 75 persen siswa SMA di Jawa Barat masih berada pada level kemampuan dasar matematika, dan hanya 1,12 persen siswa yang mampu mencapai level IV (problem solving tingkat tinggi) yang menjadi standar minimum dalam asesmen internasional seperti PISA dan TIMSS.

Artikel ini membahas secara komprehensif penerapan metode quick and speed learning sebagai strategi percepatan peningkatan skor PISA yang berkelanjutan di Jawa Barat.

---

Tantangan Pendidikan di Jawa Barat

Rendahnya Kompetensi Numerasi

Pemetaan kompetensi matematika yang dilakukan FMIPA ITB terhadap 3.046 siswa dari 157 SMA di 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat mengungkapkan fakta mencengangkan: 39,40 persen siswa berada di Level I (pemahaman konseptual dasar) dan 35,78 persen di Level II (kemampuan prosedural). Ini berarti lebih dari tiga perempat siswa hanya mampu menyelesaikan soal-soal rutin dan belum memiliki kemampuan penalaran tingkat tinggi.

Sekretaris Dinas Pendidikan Jawa Barat, Deden Saepul Hidayat, mengakui bahwa data ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan alarm untuk melakukan intervensi yang lebih serius. Di jenjang SMP, dari 3.402 siswa yang terlibat, hanya sekitar 1,18 persen yang mampu mencapai Level IV tertinggi dalam kompetensi matematika. Kondisi di tingkat SD pun tidak jauh berbeda dengan angka pencapaian level tertinggi hanya 1,79 persen.

Ketimpangan Antarwilayah

Dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat, hanya 13 wilayah yang mencatat nilai di atas rata-rata provinsi. Tujuh wilayah menunjukkan kinerja tinggi dan konsisten, yaitu Kabupaten Pangandaran (542,06), Kabupaten Purwakarta (529,61), Kota Bekasi (532,83), Kota Sukabumi (531,06), Kabupaten Tasikmalaya (531,33), Kabupaten Bogor (528,64), dan Kota Bandung (527,16). Sebaliknya, lima wilayah lainnya tertinggal secara signifikan, menunjukkan ketimpangan kualitas pendidikan antar daerah di Jawa Barat.

---

Metode Quick and Speed Learning: Definisi dan Pendekatan

Metode quick and speed learning merupakan pendekatan pembelajaran yang dirancang untuk mempercepat penguasaan materi melalui optimalisasi cara kerja otak, penggunaan alat peraga, dan penciptaan suasana belajar yang menyenangkan. Beberapa metode yang relevan dengan upaya peningkatan skor PISA di Jawa Barat adalah sebagai berikut.

1. Metode GASING (Gampang, Asik, dan Menyenangkan)

Metode GASING diperkenalkan oleh Prof. Yohanes Surya sebagai metode pembelajaran langkah demi langkah yang membuat siswa menguasai materi secara mudah, menarik, dan menyenangkan. Dalam implementasinya, siswa diajak bermain dan bereksplorasi menggunakan alat peraga sehingga konsep yang disampaikan dapat dirasakan dan dibayangkan.

Salah satu ciri khas utama metode GASING adalah siswa dapat melakukan perhitungan di luar kepala (mencongak) dengan cepat. Metode ini menekankan pemahaman konkret sebelum masuk ke rumus abstrak, menggunakan permainan, alat peraga, musik, hingga gerakan tubuh agar siswa lebih mudah memahami konsep dasar.

Pemerintah pusat telah menetapkan metode GASING sebagai salah satu strategi nasional untuk meningkatkan skor PISA. Bahkan, 14 kabupaten/kota telah menyatakan kesiapan menjalankan program belajar matematika dengan metode GASING. Di Jawa Barat, metode ini telah diujicobakan di berbagai daerah, termasuk Pangandaran, di mana dalam dua minggu anak-anak sudah dapat memahami konsep perkalian, pengurangan, dan penjumlahan.

2. Metode Mengingat (Memory Method)

Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2019 telah menginisiasi kajian metode mengingat untuk diterapkan dalam kurikulum sekolah. Gubernur Jawa Barat saat itu, Ridwan Kamil, menyatakan bahwa kemampuan mengingat yang cepat dan akurat dapat dilatih karena bukan berasal dari faktor genetik.

Metode ini mengajarkan teknik menghafal berbagai informasi seperti angka, tulisan, nama, gambar, dan benda. Dari sembilan Grand Master Memory asal Indonesia, tiga di antaranya adalah warga Jawa Barat, membuktikan potensi besar provinsi ini dalam pengembangan kecerdasan ingatan. Rencananya, metode ini akan dikaji lebih lanjut melalui seminar dan berpotensi menjadi budaya baru pendidikan di Jawa Barat.

3. WEPCET (Web-Based Fast Reader) untuk Kecepatan Membaca

Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Pendidikan Indonesia mengembangkan WEPCET (Web-Based Fast Reader), media pembelajaran berbasis web untuk meningkatkan keterampilan membaca cepat dan pemahaman membaca. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan membaca dan pemahaman siswa SD Indonesia, sebagaimana dibuktikan oleh penurunan skor PISA dari 371 poin pada 2018 menjadi 359 poin pada 2022.

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada kelompok eksperimen: skor pemahaman membaca meningkat dari 49,83 menjadi 85,00 dan kecepatan membaca dari 115,77 menjadi 139,16 kata per menit. Analisis N-Gain menunjukkan peningkatan "cukup efektif" dalam pemahaman membaca (68,25%) dan "sangat efektif" dalam kecepatan membaca (99,85%). Respons siswa terhadap WEPCET sangat positif dengan tingkat kelayakan 91,03%.

Media ini menawarkan solusi menjanjikan untuk mengatasi tantangan literasi dan mendukung kompetensi pembelajaran digital abad ke-21 di pendidikan dasar Indonesia.

4. Accelerated Learning Model

Accelerated Learning (AL) adalah pendekatan belajar alamiah yang diyakini mampu menghasilkan pembelajar orisinal dalam menghadapi era modern. Tujuan accelerated learning adalah menggugah sepenuhnya kemampuan belajar siswa melalui pendekatan yang mengasuh dan mementingkan aktivitas.

Penelitian tentang penerapan model accelerated learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir lateral matematis siswa SMP telah dilakukan, dengan latar belakang rendahnya peringkat Indonesia di PISA 2012 dalam kemampuan matematis.

---

Strategi Mencapai Skor PISA yang Berkelanjutan di Jawa Barat

1. Penguatan Kompetensi Guru

Disdik Jawa Barat menyadari bahwa "obat" dari rendahnya nilai numerasi terletak pada kualitas pengajaran. Tim ITB dan Disdik bersepakat bahwa intervensi harus menyasar guru terlebih dahulu. Sebagaimana ditegaskan, "Kita tidak bisa berharap layanan pendidikan meningkat jika kompetensi gurunya tidak kita perkuat".

FMIPA ITB dan Disdik Jabar telah menyiapkan program AMCT-Jabar untuk meningkatkan kompetensi guru matematika, menargetkan 80 persen guru memenuhi standar baru pada tahun 2028. Pelatihan Matematika GEMBIRA yang diselenggarakan oleh BBGTK Provinsi Jawa Barat juga merupakan program peningkatan kompetensi guru sebagai respons terhadap rendahnya skor matematika Indonesia berdasarkan PISA 2022.

2. Digitalisasi dan Pemanfaatan Teknologi

Pemanfaatan digitalisasi menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan peringkat PISA Indonesia, melalui pelatihan guru yang disediakan Kemendikbudristek melalui platform Merdeka Mengajar serta materi pembelajaran secara daring dan hibrida. WEPCET sebagai media pembelajaran berbasis web menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi solusi efektif untuk meningkatkan kecepatan dan pemahaman membaca.

3. Kurikulum yang Adaptif dan Berbasis Proyek

Kurikulum Merdeka mewajibkan sekolah menghabiskan 20–30 persen waktu belajar untuk pembelajaran berbasis proyek guna membangun keterampilan lunak (soft skills), dengan Sustainable Living sebagai salah satu topik yang direkomendasikan. Pendekatan ini secara langsung melatih kemampuan membaca, numerasi, dan penalaran yang menjadi inti penilaian PISA.

Untuk anak usia dasar 7-13 tahun, kurikulum difokuskan pada numerasi dan literasi kontekstual. Penelitian juga menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek dan penguasaan konten berpengaruh terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa SMA di Jawa Barat.

4. Pendekatan Berkelanjutan (Sustainable Approach)

Pencapaian skor PISA yang berkelanjutan memerlukan pendekatan jangka panjang yang tidak hanya berfokus pada peningkatan angka, tetapi juga pada pembangunan kapasitas sistem pendidikan secara menyeluruh. Penelitian tentang PISA dan Sustainable Development Goals (SDGs) menunjukkan pentingnya menyelaraskan kurikulum sains dengan kerangka PISA 2025 untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghasilkan model pembelajaran literasi numerasi yang adaptif terhadap perkembangan digital namun tetap humanis dan berkelanjutan. Kolaborasi antara Disdik Jawa Barat, ITB, dan IKIP Siliwangi dalam berbagai diskusi publik dan workshop menunjukkan komitmen untuk membahas tantangan literasi numerasi di era sosial dan digital.

5. Intervensi Berbasis Data

Pemetaan kompetensi secara berkala melalui platform online testing seperti MathERA yang dilakukan FMIPA ITB memungkinkan identifikasi tepat sasaran terhadap wilayah dan kelompok siswa yang membutuhkan intervensi. Data Rapor Pendidikan menjadi dasar untuk merancang kebijakan pendidikan yang lebih tepat.

---

Rekomendasi Implementasi

1. Pengintegrasian Metode GASING secara masif di seluruh jenjang pendidikan di Jawa Barat, dimulai dari tingkat SD sebagai fondasi numerasi.
2. Pengembangan WEPCET dan platform serupa untuk meningkatkan kecepatan dan pemahaman membaca di seluruh kabupaten/kota.
3. Pelatihan guru secara berkelanjutan melalui program AMCT-Jabar dan Matematika GEMBIRA, dengan target 80 persen guru memenuhi standar baru pada 2028.
4. Penguatan kurikulum berbasis proyek dengan porsi 20–30 persen untuk membangun keterampilan berpikir tingkat tinggi.
5. Pemanfaatan teknologi digital melalui platform Merdeka Mengajar dan pembelajaran hibrida.
6. Pemetaan kompetensi rutin menggunakan platform online testing untuk identifikasi awal wilayah dan siswa yang memerlukan intervensi.
7. Pengembangan metode mengingat sebagai bagian dari kurikulum untuk memperkuat daya ingat dan kecepatan pemrosesan informasi.

---

Kesimpulan

Pencapaian skor PISA yang berkelanjutan di Jawa Barat memerlukan pendekatan komprehensif yang menggabungkan berbagai metode quick and speed learning. Metode GASING menawarkan solusi untuk percepatan penguasaan numerasi, WEPCET untuk peningkatan kecepatan dan pemahaman membaca, serta metode mengingat untuk optimalisasi daya ingat. Accelerated learning dan pembelajaran berbasis proyek melengkapi pendekatan ini dengan membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Keberhasilan implementasi sangat bergantung pada penguatan kompetensi guru, pemanfaatan teknologi digital, dan intervensi berbasis data. Kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci untuk menciptakan sistem pendidikan yang tidak hanya meningkatkan skor PISA, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang. Dengan komitmen dan strategi yang tepat, Jawa Barat dapat menjadi provinsi percontohan dalam peningkatan kualitas pendidikan dan pencapaian skor PISA yang berkelanjutan di Indonesia.

---

Referensi

1. Rahmah, N. A., Ali, E. Y., & Karlina, D. A. (2025). The Effectiveness of WEPCET (Web-Based Fast Reader) Media on Speed Reading Skills. Jurnal Ilmiah Research and Publication Education, 4(4). 
2. Aisyah, N. (2024, January 26). Pemerintah Siapkan Strategi Peningkatan PISA, Salah Satunya Pakai 'Gasing'. detikEdu. 
3. Sarjana Pendidikan Siap-siap! Agar Skor PISA Naik, Pemerintah Genjot SDM Pendidik di Seleksi ASN CPNS dan PPPK. (2024, January 31). Klik Pendidikan. 
4. FMIPA ITB Nilai Kompetensi Matematika Siswa SMA di Jabar Lemah. (2026, May 9). IDN Times Jabar. 
5. Menjemput Skor yang Tertinggal: Misi Besar Disdik Jabar Membedah Rapor Numerasi. (2026, May 8). majalahfakta.id. 
6. Pemdaprov Jabar Kaji Metode Mengingat untuk Kurikulum Sekolah. (2019, October 23). Republika Online. 
7. SMAN 2 Cianjur Masuk Daftar Sekolah Terpilih PISA 2025. (2025, May 27). detakpublik.id. 
8. Hakim, A., et al. (2025). PISA and Sustainable Development Goals: Comparing Science Curricula in Secondary Schools in Indonesia, Singapore, Australia, and Canada in the Content Aspect Based on the PISA 2025 Framework. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 14(4). 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skenario Anggaran PBB yang Inklusif untuk Mewujudkan Tatanan Dunia Baru dan Sustainable Development Goals 2030 serta Post-SDGs yang Berkeadilan

Esai: Teori dan Praktik Ekonomi Teonomik-Humanistik

Paradoks Terbesar Kesepakatan Resiprokal As dan Tarif Global — Negara yang Berkorban Lebih Banyak, Justru Dirugikan