DATA KEPUTUSASAAN PENGANGGURAN DI INDONESIA TAHUN 2025

DATA KEPUTUSASAAN PENGANGGURAN DI INDONESIA TAHUN 2025 :Fenomena "Discouraged Workers" dan Krisis Ketenagakerjaan yang Tersembunyi


PENDAHULUAN
Kita awali tulisan ini dengan sebuah puisi tentang keputusasaan generasi pengangguran, dengan sajak berikut bernbunyi :                                                      "Di jalan-jalan kota, mereka berjalan sendirian,
Bayang-bayang kegapaan, mengintai dari belakang,
Mereka telah mencoba, tapi tak ada hasil,
Putus asa, menjadi teman setia.

Mereka telah berjuang, dengan gigih dan tekun,
Tapi sistem yang gagal, membuat mereka terpuruk,
Jutaan kaum muda, dengan potensi yang besar,
Terjebak dalam putus asa, tanpa harapan.

Mereka telah kehilangan, harapan dan cita,
Mereka hanya ingin, hidup dengan layak,
Tapi kegagalan, telah mengambil semuanya,
Mereka hanya ingin, menghilang dari dunia.

Di negeri ini, mereka tak memiliki tempat,
Tak ada kerja, tak ada masa depan yang jelas,
Mereka hanya ingin, hidup dengan damai,
Tapi putus asa, telah mengambil semuanya.

Mereka adalah generasi, yang telah kehilangan arah,
Mereka adalah generasi, yang telah kehilangan harapan,
Kita harus bertindak, sebelum terlambat,
Membantu mereka, keluar dari putus asa."     
Di balik angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang menunjukkan tren penurunan, Indonesia menghadapi fenomena ketenagakerjaan yang lebih mengkhawatirkan: meningkatnya jumlah penduduk yang putus asa mencari pekerjaan. Laporan Labor Market Brief dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia mengungkap realitas yang jarang terlihat dalam statistik resmi—sebuah gelombang keputusasaan yang melanda berbagai generasi dan tingkat pendidikan.

Fenomena ini, yang dikenal sebagai "discouraged workers" atau pekerja yang putus asa, menggambarkan kondisi struktural pasar tenaga kerja Indonesia yang tidak tercermin dalam angka pengangguran terbuka. Mereka adalah individu yang tidak bekerja dan tidak lagi mencari pekerjaan karena merasa tidak memiliki peluang untuk mendapatkan pekerjaan.

I. POTRET KUANTITATIF KEPUTUSASAAN

A. Data Nasional 2025

Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS 2024-2025 yang diolah oleh LPEM FEB UI, kondisi keputusasaan di pasar kerja Indonesia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan:

1. Data Februari 2025:
- Jumlah penduduk yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja karena putus asa: 1,87 juta orang
- Peningkatan 11 persen dari Februari 2024 (1,68 juta orang)
- Kenaikan absolut: sekitar 190.000 orang dalam satu tahun

2. Makna Statistik:
Lonjakan belasan persen dalam satu tahun menunjukkan bahwa ada segmen penduduk yang bergeser dari posisi "mencari kerja" menjadi "menyerah", yang berarti kehilangan kepercayaan terhadap peluang pasar kerja yang tersedia.

B. Konteks Pengangguran Terbuka 2025

Untuk memahami fenomena keputusasaan, penting melihat konteks pengangguran secara umum:

1. Data Februari 2025:
- Tingkat Pengangguran Terbuka: 4,76 persen
- Jumlah pengangguran: 7,28 juta orang
- Total angkatan kerja: 153,05 juta orang
- Rata-rata upah: Rp 3,09 juta per bulan

2. Data Agustus 2025:
- Tingkat Pengangguran Terbuka: 4,85 persen
- Jumlah pengangguran: 7,46 juta orang
- Total angkatan kerja: 154,00 juta orang
- Rata-rata upah: Rp 3,33 juta per bulan

Meskipun TPT menunjukkan penurunan dan bahkan mencapai angka terendah sejak 1997, angka ini tidak menangkap realitas jutaan orang yang telah menyerah mencari pekerjaan.

 II. PROFIL DEMOGRAFIS KEPUTUSASAAN

A. Distribusi Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Data LPEM FEB UI mengungkapkan distribusi penduduk yang putus asa mencari kerja berdasarkan pendidikan terakhir:

Proporsi Keputusasaan Berdasarkan Pendidikan (Februari 2025):

1. SD atau Tidak Tamat SD: 50,07%
   - Kelompok terbesar yang mengalami keputusasaan
   - Lebih dari separuh total kelompok putus asa
   - Menghadapi kombinasi keterbatasan kemampuan dasar, akses yang lebih kecil terhadap informasi pasar kerja, dan peluang mobilitas naik yang sangat terbatas

2. SMP: 20,21%
   - Kelompok terbesar kedua
   - Menghadapi hambatan struktural serupa dengan lulusan SD

3. SMA: 17,29%
   - Proporsi cukup signifikan
   - Lebih tinggi dari lulusan SMK

4. SMK: 8,09%
   - Menariknya, lebih rendah dari lulusan SMA
   - Setengah dari proporsi kelompok SMA
   - Menunjukkan bahwa pendidikan vokasional memberikan sedikit keunggulan

5. Diploma (D1, D2, D3): 1,57%
   - Proporsi kecil namun tetap ada

6. Sarjana (S1): 2,42%
   - Data LPEM FEB UI menunjukkan 45 ribu lulusan S1 putus asa mencari kerja
   - Lebih tinggi dari lulusan Diploma

7. Pascasarjana (S2 dan S3): 0,35%
   - Sekitar 6.000 lulusan S2 dan S3 dari berbagai perguruan tinggi, baik dalam negeri maupun luar negeri, dilaporkan menyerah untuk mencari pekerjaan
   - Proporsi terkecil namun fenomena yang sangat mengkhawatirkan

B. Distribusi Berdasarkan Generasi

Analisis LPEM FEB UI berdasarkan kelompok generasi menunjukkan pola yang menarik:

Proporsi Keputusasaan Berdasarkan Generasi:

1. Generasi X dan Lebih Tua: 38,17%
   - Penyumbang terbesar putus asa dalam mencari kerja
   - Menghadapi tantangan untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi, stereotip usia dalam proses rekrutmen, serta persaingan dengan pekerja yang lebih muda
   - Berada pada rentang usia yang dianggap matang secara karier, tetapi justru menghadapi hambatan

2. Generasi Milenial: 24,56%
   - Menempati posisi kedua
   - Menghadapi kesenjangan antara aspirasi karier dan realitas pasar kerja
   - Ekspektasi pekerjaan lebih tinggi terkait keamanan kerja, fleksibilitas, dan jalur karier

3. Generasi Z: 24,09%
   - Angka relatif besar mengingat mereka baru memasuki pasar kerja
   - Tingkat pengangguran kelompok usia 15-24 tahun mencapai 16,89 persen per Agustus 2025
   - Satu dari tujuh anak muda di Indonesia tidak memiliki pekerjaan

Temuan Kunci:
Total 48,6 persen Gen Z dan Milenial merupakan proporsi penduduk yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja karena putus asa, menunjukkan bahwa generasi muda juga terdampak signifikan meskipun stereotip menyebut mereka lebih adaptif dan melek teknologi.

III. STUDI KASUS REGIONAL: KEPULAUAN RIAU

Provinsi Kepulauan Riau memberikan gambaran mikro yang mencerminkan masalah nasional:

1.Data Kepulauan Riau (Agustus 2025):
- Jumlah penduduk putus asa mencari kerja: 9.280 orang
- Peningkatan 7,47% dari Agustus 2023 (8.635 orang)
- Rata-rata berusia 15 tahun ke atas

2.Karakteristik Pengangguran Kepri:
- Total pengangguran: 65.000 orang
- Generasi Z: 60% atau 39.000 orang (penyumbang terbesar)
- Lulusan SMA/SMK per tahun: 32.000 siswa
  - 60% melanjutkan kuliah
  - 40% langsung masuk pasar kerja

3. Fenomena "Frustasi 3 Tahun":
Lulusan SMA/SMK di Kepri frustasi dan menyerah setelah tiga tahun mencari kerja, namun tak membuahkan hasil

4. Pencari Kerja Terdaftar:
- Total: 29.295 orang
- Batam: 26.412 orang (terbesar)
- Bintan: 1.607 orang
- Tanjungpinang: 712 orang
- Karimun: 368 orang
- Anambas: 181 orang
- Lingga: 111 orang
- Natuna: 4 orang


IV. PENYEBAB STRUKTURAL KEPUTUSASAAN

A. Kesenjangan Lowongan dan Pencari Kerja

Salah satu penyebab utama keputusasaan adalah ketidakseimbangan pasar kerja yang dramatis:

- Pencari Kerja (Agustus 2024): 7,47 juta orang
- Lowongan Pekerjaan Terdaftar: 1,82 juta posisi
- Rasio:  Sekitar 4 pencari kerja untuk setiap 1 lowongan

Kesenjangan ini menggambarkan masalah struktural yang lebih besar dalam perekonomian Indonesia, di mana penciptaan lapangan kerja tidak sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja.

B. Stagnasi Sektor Manufaktur

Selama tiga puluh tahun, pangsa tenaga kerja di sektor manufaktur di Indonesia hampir tidak bergerak. Padahal manufaktur adalah mesin historis yang menciptakan pekerjaan formal dan berkontribusi signifikan pada peningkatan produktivitas.

C. Rendahnya Kualitas Pekerjaan

Bank Dunia dalam laporan "Pathways to Middle Class Jobs" menyimpulkan bahwa dua pertiga pekerjaan di Indonesia masih berada pada pekerjaan berproduktivitas rendah dan mayoritas tenaga kerja hanya berpendidikan menengah pertama atau lebih rendah.

Data Pekerja Informal (Februari 2025): 
- Jumlah pekerja informal: 86,56 juta orang atau 59,40% dari total penduduk bekerja
- Peningkatan 0,23 persen poin dari Februari 2024

D. Lemahnya Sistem Informasi Pasar Kerja

Bank Dunia menyoroti lemahnya sistem informasi pasar kerja dan layanan penempatan kerja di Indonesia. Dampaknya, pencari kerja sering tidak memiliki informasi yang jelas tentang lowongan maupun keterampilan yang dibutuhkan.

E. Diskriminasi Usia dalam Rekrutmen

ILO dan OECD mencatat bahwa diskriminasi usia yang tidak diakui secara formal sering menjadi alasan mengapa pekerja usia menengah menyerah lebih cepat setelah serangkaian kegagalan seleksi.

F. Skills Mismatch dan Transisi Sekolah-Kerja

Bank Dunia mencatat bahwa transisi sekolah ke pekerjaan di Indonesia masih penuh friksi, terutama bagi lulusan baru yang tidak mendapat dukungan karier atau akses jaringan kerja.

V. KONSEP "DISCOURAGED WORKERS" DALAM PERSPEKTIF GLOBAL

A. Definisi ILO

International Labour Organization (ILO) menilai discouraged workers sebagai bagian dari labour underutilisation, yaitu kelompok yang ingin bekerja tetapi tidak terserap karena berbagai hambatan yang tidak selalu tercermin dalam angka pengangguran terbuka.

B. Indikator Dini Masalah Struktural

ILO dan Bank Dunia memandang discouraged workers sebagai gejala dini rapuhnya dinamika permintaan dan penawaran tenaga kerja.

C. Fenomena Global

ILO mencatat pola serupa muncul di banyak negara berpendapatan menengah, menunjukkan bahwa Indonesia bukan satu-satunya yang menghadapi masalah ini.

D. Kesenjangan Pekerjaan (Jobs Gap)

Bank Dunia menggunakan pendekatan baru melihat masalah tenaga kerja, bukan sekadar tingkat pengangguran tetapi kesenjangan pekerjaan, yaitu keseluruhan jumlah orang yang ingin bekerja atau bekerja lebih baik, tetapi tidak memiliki kesempatan kerja produktif.

VI. PENGANGGURAN TERSELUBUNG (DISGUISED UNEMPLOYMENT)

Selain keputusasaan, Indonesia juga menghadapi masalah pengangguran terselubung yang sangat tinggi:

A. Definisi dan Kategori

Pengangguran terselubung mencakup:

1. Pekerja Informal:  Pekerjaan berproduktivitas rendah
2. Pekerja Rentan (Vulnerable Workers): Bekerja tanpa jaminan kerja dan perlindungan sosial
3. Setengah Menganggur (Underemployed): Pekerja paruh waktu
4. Orang yang Ingin Bekerja: Termasuk discouraged workers

B. Data Setengah Pengangguran

Februari 2025:
- Pekerja penuh waktu: 66,19%
- Pekerja paruh waktu: 25,81%
- Setengah pengangguran: 8,00%

Trend Positif:
Proporsi pekerja penuh meningkat dari 65,6% menjadi 66,2%, dan tingkat setengah pengangguran menurun dari 8,5% menjadi 8,0%.

VII. DAMPAK KEPUTUSASAAN TERHADAP PEMBANGUNAN

A. Ancaman Bonus Demografi

Krisis struktural ini dapat mengubah bonus demografi menjadi bencana demografi jika tidak segera ditangani dengan baik.

B. Hilangnya Modal Manusia

Jutaan orang yang putus asa mencari kerja merepresentasikan hilangnya potensi produktif dan modal manusia yang seharusnya berkontribusi pada pembangunan ekonomi.

C. Implikasi Sosial dan Mental

Keputusasaan mencari kerja tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga:
- Kesehatan mental (depresi, kecemasan, hilangnya harga diri)
- Disintegrasi sosial
- Hilangnya kepercayaan terhadap institusi
- Potensi kerawanan sosial

D. Hambatan Pencapaian SDGs

Fenomena ini bertentangan langsung dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama:
- SDG 1: Tanpa Kemiskinan
- SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
- SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan

VIII. PARADOKS STATISTIK: TPT RENDAH VS KEPUTUSASAAN TINGGI

A. Mengapa Angka TPT Tidak Menceritakan Keseluruhan?

Tingkat Pengangguran Terbuka hanya mengukur mereka yang:
- Tidak bekerja
- Aktif mencari pekerjaan
- Siap untuk bekerja

TPT tidak menangkap :
- Discouraged workers yang berhenti mencari kerja
- Pekerja informal dengan produktivitas rendah
- Pekerja yang underemployed
- Pekerja dengan upah di bawah standar

B. Kesuksesan Semu?

Meskipun pemerintah mengumumkan TPT 4,76% pada Februari 2025 sebagai angka terendah sejak 1997, angka ini menutupi realitas yang lebih kompleks:

1. 1,87 juta orang putus asa tidak termasuk dalam perhitungan pengangguran
2. 86,56 juta pekerja informal  (59,40%) bekerja dengan produktivitas dan perlindungan rendah
3. 16,89% pengangguran usia muda menunjukkan krisis di generasi produktif
4. Kesenjangan 4:1  antara pencari kerja dan lowongan


IX. SOLUSI DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN

A. Perbaikan Sistem Informasi Pasar Kerja

1. Platform Digital Terpadu: 
   - Informasi lowongan kerja real-time
   - Database keterampilan yang dibutuhkan
   - Transparansi pasar kerja

2. Layanan Penempatan Kerja:
   - Konseling karier profesional
   - Job matching berbasis AI
   - Bimbingan transisi sekolah-kerja

B. Program Reskilling dan Upskilling

1. Pelatihan Berbasis Industri:
   - Kerjasama dengan perusahaan
   - Sertifikasi kompetensi
   - Program magang berkualitas

2. Fokus pada Keterampilan Digital:
   - Literasi digital untuk semua usia
   - Pelatihan teknologi emerging
   - Adaptasi terhadap otomasi

C. Penciptaan Lapangan Kerja Berkualitas

1. Revitalisasi Sektor Manufaktur:
   - Insentif untuk industri padat karya
   - Pengembangan klaster industri
   - Integrasi dengan rantai nilai global

2. Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Digital:
   - Dukungan startup dan UMKM
   - Ekosistem wirausaha
   - Akses pembiayaan

3. Pemerataan Pembangunan:
   - Desentralisasi ekonomi
   - Infrastruktur di daerah tertinggal
   - Pusat pertumbuhan ekonomi baru

D. Perlindungan dan Formalisasi Pekerja

1. Pengurangan Pekerja Informal:
   - Insentif formalisasi
   - Jaminan sosial universal
   - Perlindungan hukum pekerja

2. Standar Upah Layak:
   - Penegakan upah minimum
   - Transparansi kompensasi
   - Kesejahteraan pekerja

E. Kebijakan Anti-Diskriminasi

1. Eliminasi Diskriminasi Usia:
   - Regulasi rekrutmen inklusif
   - Program adaptasi teknologi untuk pekerja senior
   - Valorisasi pengalaman

2. Kesetaraan Kesempatan:
   - Akses pendidikan merata
   - Dukungan kelompok rentan
   - Affirmative action jika diperlukan

F. Dukungan Psikososial

1. Program Intervensi:
   - Konseling untuk discouraged workers
   - Support group pencari kerja
   - Pembangunan resiliensi

2. Kampanye Perubahan Narasi:
   - Normalisasi jalur karier non-linier
   - Valorisasi pembelajaran seumur hidup
   - Pengurangan stigma pengangguran

X. KESIMPULAN

Fenomena keputusasaan di pasar kerja Indonesia tahun 2025 mengungkap realitas yang jauh lebih kompleks daripada yang ditunjukkan oleh statistik pengangguran terbuka. Dengan 1,87 juta orang yang putus asa mencari kerja—meningkat 11% dalam setahun—Indonesia menghadapi krisis ketenagakerjaan tersembunyi yang mengancam berbagai generasi dan tingkat pendidikan.

Temuan Kunci:

1. Keputusasaan Melanda Semua Generasi: Dari Generasi X (38,17%) hingga Gen Z (24,09%), tidak ada kelompok yang kebal dari fenomena ini.

2. Pendidikan Bukan Jaminan: Bahkan 6.000 lulusan S2 dan S3, serta 45.000 lulusan S1 telah menyerah mencari pekerjaan, menunjukkan masalah struktural yang mendalam.

3. Kesenjangan Pasar Kerja:  Rasio 4:1 antara pencari kerja dan lowongan menggambarkan ketidakseimbangan fundamental.

4. Paradoks Statistik:  TPT 4,76% yang "rendah" menutupi realitas 1,87 juta orang putus asa, 86,56 juta pekerja informal, dan 16,89% pengangguran usia muda.

5. Tantangan Kualitas Kerja:  Bukan hanya kuantitas pekerjaan, tetapi kualitas, produktivitas, dan perlindungan yang menjadi masalah.

Urgensi Tindakan:

Data BPS 2025 seharusnya cukup mengguncang kesadaran kita: 7,46 juta warga Indonesia sedang menganggur, dengan tingkat pengangguran terbuka 4,85 persen, dan jutaan orang lain bekerja tidak penuh atau terjebak setengah menganggur. Ditambah dengan 1,87 juta orang yang putus asa, Indonesia menghadapi krisis ketenagakerjaan yang memerlukan respons komprehensif dan mendesak.

Mengatasi keputusasaan bukan hanya soal menciptakan lebih banyak pekerjaan, tetapi menciptakan pekerjaan yang berkualitas, bermartabat, dan berkelanjutan. Ini memerlukan transformasi struktural dalam sistem pendidikan, pasar tenaga kerja, dan model pembangunan ekonomi.

Jika tidak ditangani serius, fenomena discouraged workers dapat mengubah bonus demografi Indonesia menjadi bencana demografi—sebuah generasi yang kehilangan harapan sebelum mereka sempat berkontribusi pada pembangunan bangsa.

REFERENSI

1. Badan Pusat Statistik (BPS). (2025). Unemployment rate was 4.85 percent. The average wage of employees was 3.33 million rupiah. https://www.bps.go.id/en/pressrelease/2025/11/05/

2. Badan Pusat Statistik (BPS). (2025). Unemployment rate was 4.76 percent. The average wage of employees was 3.09 million rupiah. https://www.bps.go.id/en/pressrelease/2025/05/05/

3. Trading Economics. (2025). Tingkat Pengangguran Indonesia | 1982-2025 Data | 2026-2027 Perkiraan. https://id.tradingeconomics.com/indonesia/unemployment-rate

4. Kompas.com. (2025). 1,87 Juta Rakyat Sudah Putus Asa, Negara Telat Ciptakan Pekerjaan Berkualitas. https://www.kompas.com/edu/read/2025/12/10/

5. CNBC Indonesia. (2025). Generasi X - Milenial: Warga RI yang Paling Putus Asa Cari Kerja. https://www.cnbcindonesia.com/news/

6. Brikolase.com. (2025). Fenomena Pengangguran Terselubung, Terus Bekerja tapi Tetap Miskin, Ini Laporan Bank Dunia 2025. https://www.brikolase.com/

7. iNews.id. (2025). Duh! 6.000 Lulusan S2 dan S3 Nganggur dan Putus Asa Cari Kerja. https://www.inews.id/news/nasional/

8. Kompas.com. (2025). Alarm Akhir 2025: Satu dari Tujuh Anak Muda Pengangguran. https://www.kompas.com/edu/read/2025/12/15/

9. Republika Online. (2025). Menengok Fenomena Pengangguran Gen Z. https://analisis.republika.co.id/

10. Koran Jakarta. (2025). Survei BPS Kepri Singkap Fenomena Warga Putus Asa dan Pesimis Cari Kerja. https://koran-jakarta.com/

11. Kliksumut.com. (2025). Riset LPEM UI Ungkap Ribuan Lulusan S2–S3 Putus Asa Cari Kerja. https://kliksumut.com/

12. Medcom.id. (2025). Survei Membuktikan: 48,6% Gen Z & Milenial Menganggur dan Hopeless. https://www.medcom.id/pendidikan/jobseeker/

13. Kompas.com. (2025). Mengakhiri Pengangguran. https://money.kompas.com/read/2025/12/10/

14. Tempo.co. (2025). BPS Sebut Tingkat Pengangguran Terbuka Sentuh 4,76 Persen. https://www.tempo.co/ekonomi/

15. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI. (2025). Labor Market Brief Volume 6, Nomor 11: Membaca Sinyal Putus Asa di Pasar Kerja Indonesia. 

16. Bank Dunia. (2025). World Bank East Asia and Pacific Economic Update – October 2025: Jobs.

17. International Labour Organization (ILO). (2024). Labour Underutilization and Discouraged Workers.

18. Indonesia.go.id. (2025). Pengangguran Terendah sejak 1998, Ada 3,59 Juta Lapangan Kerja Baru Tercipta di 2025. https://indonesia.go.id/


Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan data resmi BPS, riset LPEM FEB UI, dan laporan Bank Dunia serta ILO untuk memberikan gambaran komprehensif tentang fenomena keputusasaan pengangguran di Indonesia tahun 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skenario Anggaran PBB yang Inklusif untuk Mewujudkan Tatanan Dunia Baru dan Sustainable Development Goals 2030 serta Post-SDGs yang Berkeadilan

Mencari Filosofis dari Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara

Esai: Teori dan Praktik Ekonomi Teonomik-Humanistik