Gus Dur: Ulama Progresif dan Pemimpin Kontroversial dalam Sejarah Indonesia

Gus Dur: Ulama Progresif dan Pemimpin Kontroversial dalam Sejarah Indonesia          
Oleh : Asep Rohmandar   
Presiden Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara & Sundaland Researchers Society                                                      Email : rohmandarasep54@gmail.com                                                                                                                                                 I. Pendahuluan
Saya awali tulisan ini dengan puisi  berjudul untuk Gus Dur Abdurrahman Wahid, sebagai berikut ;                                                                                                            Gus Dur, manusia keberagaman,
Nusantara, tanah air kita,
Kamu membawa cinta, dan persatuan,
Bagi bangsa, yang beragam.

Dengan mata hati, kamu melihat,
Kesatuan dalam keberagaman,
Kamu membawa harapan, bagi kita,
Bagi bangsa, yang ingin bersatu.

Gus Dur, manusia keberagaman,
Kamu membawa toleransi, dan kasih sayang,
Bagi semua, tanpa terkecuali,
Kamu membawa cinta, bagi Nusantara.

Kamu adalah, cerminan bangsa,
Yang beragam, tapi satu,
Kamu membawa, kebanggaan, bagi kita,
Bagi bangsa, yang ingin maju.

Gus Dur, manusia keberagaman,
Kami akan selalu, mengingatmu,
Kamu adalah, pahlawan bangsa,
Bagi Nusantara, yang kita cintai.                         
Dari sajak diatas bahwa Abdurrahman Wahid, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur, merupakan salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Indonesia modern. Sebagai ulama, intelektual, dan negarawan, Gus Dur meninggalkan warisan pemikiran yang mendalam tentang Islam, demokrasi, dan pluralisme. Kepemimpinannya di Nahdlatul Ulama (NU) dan sebagai Presiden Republik Indonesia keempat menunjukkan bagaimana seorang kiyai dapat menjadi agen perubahan sosial yang progresif. Pemikirannya yang sering kontroversial namun visioner telah membentuk wajah Islam Indonesia yang moderat dan toleran hingga saat ini.

II. Gus Dur sebagai Pewaris Tradisi Kenabian

Gus Dur lahir dari keluarga kiyai terkemuka yang memiliki silsilah panjang dalam tradisi keilmuan Islam Nusantara. Sebagai cucu pendiri NU, KH. Hasyim Asy'ari, dan putra Menteri Agama pertama, KH. Wahid Hasyim, Gus Dur mewarisi tradisi keulamaan yang kuat. Namun, ia tidak sekadar mewarisi gelar, melainkan benar-benar menghidupi peran ulama sebagai pewaris para nabi (al-ulama waratsatul anbiya).

Dalam konsep Islam, ulama adalah pewaris misi kenabian dalam menyebarkan kebenaran, keadilan, dan rahmat bagi semesta. Gus Dur mewujudkan peran ini dengan cara yang unik dan progresif. Ia pernah menyatakan, "Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi umat Islam saja." Pernyataan ini mencerminkan pemahamannya yang mendalam tentang universalitas ajaran Islam yang seharusnya menjadi berkah bagi semua makhluk, tanpa memandang agama, suku, atau ras.

Sebagai ulama, Gus Dur tidak hanya menguasai kitab-kitab kuning klasik, tetapi juga memiliki wawasan luas tentang filsafat, sastra, dan ilmu sosial Barat. Pendidikannya di Mesir dan Iraq, ditambah dengan kebiasaannya membaca berbagai literatur dari berbagai tradisi intelektual, membentuknya menjadi ulama yang mampu berdialog dengan modernitas tanpa kehilangan akar tradisi pesantrennya.

III. Kepemimpinan Transformatif di Nahdlatul Ulama

Ketika Gus Dur terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada tahun 1984, ia membawa angin perubahan yang signifikan. NU yang sebelumnya cenderung konservatif dan berorientasi pada politik praktis, di bawah kepemimpinannya mengalami transformasi menjadi organisasi yang lebih fokus pada pemberdayaan masyarakat dan pengembangan pemikiran Islam yang progresif.

Salah satu keputusan paling monumental dalam kepemimpinan Gus Dur adalah "kembali ke Khittah 1926," yang diputuskan dalam Muktamar NU di Situbondo tahun 1984. Kebijakan ini menarik NU keluar dari politik praktis dan mengembalikannya kepada peran sosial-keagamaan. Gus Dur menjelaskan, "NU harus kembali menjadi organisasi sosial keagamaan yang murni, bukan kendaraan politik." Keputusan ini pada awalnya kontroversial, tetapi terbukti memperkuat basis sosial NU dan membebaskannya dari kepentingan politik jangka pendek.

Di bawah kepemimpinannya, NU mengembangkan konsep "Islam Nusantara" yang menekankan pada perpaduan harmonis antara ajaran Islam universal dengan kearifan lokal Indonesia. Gus Dur percaya bahwa Islam tidak harus diimpor dalam kemasan Arab, tetapi dapat berkembang dengan karakteristik lokal yang khas. Ia menyatakan, "Islam di Indonesia harus menjadi Islam yang Indonesia, bukan Arab yang kebetulan ada di Indonesia."

IV. Pemikiran Progresif dan Kontroversial

Gus Dur dikenal sebagai pemikir yang berani dan sering kontroversial. Pemikirannya tentang demokrasi, hak asasi manusia, dan pluralisme melampaui zamannya dan kadang bertentangan dengan pandangan mainstream, bahkan di kalangan umat Islam sendiri.

Dalam isu demokrasi, Gus Dur adalah salah satu ulama pertama yang secara tegas menyatakan bahwa demokrasi kompatibel dengan Islam. Ia bahkan mengatakan, "Demokrasi adalah sistem yang paling sesuai dengan Islam karena memberikan ruang bagi partisipasi dan keadilan." Pandangan ini kontroversial di era 1980-an ketika banyak ulama masih skeptis terhadap demokrasi yang dianggap sebagai produk Barat.

Gus Dur juga vokal dalam membela hak-hak kelompok minoritas, termasuk non-Muslim dan kelompok yang terpinggirkan. Sikapnya yang membela etnis Tionghoa ketika terjadi kerusuhan anti-Tionghoa menuai kontroversi, tetapi ia tetap konsisten. Ia menyatakan, "Saya membela hak-hak mereka bukan karena saya suka atau tidak suka kepada mereka, tetapi karena mereka adalah warga negara Indonesia yang harus dilindungi haknya."

Salah satu pernyataannya yang paling kontroversial adalah tentang hubungan Indonesia dengan Israel. Gus Dur berpendapat bahwa Indonesia harus memiliki hubungan diplomatik dengan semua negara, termasuk Israel, demi kepentingan nasional. Ia berargumen bahwa menolak berhubungan dengan Israel tidak membantu perjuangan Palestina, tetapi justru membatasi ruang manuver diplomasi Indonesia. Pandangan ini mendapat kritik keras dari berbagai kelompok Islam.

V. Kepresidenan yang Penuh Gejolak

Ketika terpilih sebagai Presiden pada tahun 1999 melalui pemilihan demokratis pertama pasca-Orde Baru, Gus Dur membawa harapan besar untuk reformasi. Namun, masa kepresidenannya hanya berlangsung 21 bulan dan penuh dengan gejolak politik.

Sebagai presiden, Gus Dur mengambil kebijakan-kebijakan progresif yang mencerminkan visinya tentang Indonesia yang pluralistik dan demokratis. Salah satu kebijakan paling penting adalah pencabutan Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967 yang melarang praktik kepercayaan Tionghoa. Keputusan ini memberikan kebebasan beragama yang lebih luas bagi warga Tionghoa Indonesia. Gus Dur menyatakan, "Tidak ada alasan untuk melarang seseorang merayakan hari raya agamanya sendiri."

Ia juga menjadikan Konghucu sebagai agama resmi yang diakui negara, sebuah langkah yang mencerminkan komitmennya pada pluralisme agama. Kebijakan-kebijakan ini, meskipun menuai kritik dari kelompok konservatif, menunjukkan keberanian Gus Dur dalam memperjuangkan hak-hak minoritas.

Namun, gaya kepemimpinan Gus Dur yang tidak konvensional dan sering spontan menciptakan ketegangan dengan DPR dan kekuatan politik lainnya. Konflik dengan parlemen memuncak pada Memorandum I dan II yang akhirnya berujung pada pemakzulannya melalui Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Gus Dur sendiri menolak legitimasi pemakzulan tersebut, menyebutnya sebagai "kudeta konstitusional."
Gambar : Ilustrasi Semangat Pemikiran Gus Dur ( oleh  Penulis dibuat AI)                      
VI. Warisan Pemikiran: Pluralisme dan Humanisme Universal

Warisan terbesar Gus Dur adalah pemikirannya tentang pluralisme dan humanisme universal yang berakar pada tradisi Islam. Ia percaya bahwa Islam sejati adalah Islam yang merangkul perbedaan dan menghormati kemanusiaan universal. Konsep "pribumisasi Islam" yang ia kembangkan menekankan bahwa Islam harus beradaptasi dengan konteks lokal tanpa kehilangan esensi ajarannya.

Gus Dur sering mengutip hadis Nabi Muhammad yang menyatakan bahwa "perbedaan dalam umatku adalah rahmat." Ia menafsirkan hadis ini sebagai justifikasi teologis untuk pluralisme dan keberagaman. Dalam pandangannya, perbedaan bukan ancaman yang harus dihilangkan, tetapi kekayaan yang harus dirayakan.

Pemikirannya tentang hak asasi manusia sangat progresif untuk ukuran ulama di masanya. Ia menyatakan, "HAM adalah anugerah Tuhan yang tidak bisa dicabut oleh siapa pun, termasuk negara." Pandangan ini mencerminkan sintesis antara teologi Islam dengan prinsip-prinsip universal hak asasi manusia modern.

Gus Dur juga dikenal dengan humornya yang khas, yang sering ia gunakan sebagai alat kritik sosial dan politik. Di balik humor tersebut, terkandung pesan-pesan mendalam tentang kebebasan, keadilan, dan kemanusiaan. Ia pernah berkata, "Lebih baik kehilangan kekuasaan daripada kehilangan integritas."

VII. Relevansi Pemikiran Gus Dur di Era Kontemporer

Di tengah maraknya politik identitas, radikalisasi agama, dan intoleransi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, pemikiran Gus Dur tentang Islam moderat dan pluralisme menjadi semakin relevan. Gagasannya tentang Islam Nusantara yang toleran, demokratis, dan menghormati keberagaman menjadi benteng penting melawan fundamentalisme dan ekstremisme.

NU di bawah pengaruh pemikiran Gus Dur terus menjadi kekuatan penting dalam mempromosikan Islam wasathiyah (moderat). Organisasi ini aktif dalam dialog antar-agama, penanggulangan radikalisme, dan promosi demokrasi. Warisan intelektual Gus Dur terus hidup melalui lembaga-lembaga seperti The Wahid Institute dan Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF) Ulama yang melanjutkan perjuangannya untuk pluralisme dan hak asasi manusia.

Pemikiran Gus Dur juga mempengaruhi generasi baru intelektual Muslim Indonesia yang berusaha merumuskan Islam yang relevan dengan tantangan modernitas. Gagasannya tentang kebutuhan untuk melakukan ijtihad (pemikiran kritis) dalam merespons persoalan kontemporer terus menginspirasi diskursus Islam di Indonesia.

VIII. Kesimpulan

Gus Dur adalah sosok yang kompleks dan multidimensional—ulama yang progresif, pemimpin yang kontroversial, intelektual yang brilian, dan humanis yang tulus. Sebagai pewaris tradisi kenabian, ia menghidupi peran ulama bukan hanya sebagai ahli fikih, tetapi sebagai pembela keadilan, penyebar rahmat, dan pejuang kemanusiaan universal.

Kepemimpinannya di NU mentransformasi organisasi Islam terbesar di Indonesia menjadi kekuatan moderat yang berpengaruh dalam politik dan masyarakat. Meskipun kepresidenannya singkat dan penuh gejolak, kebijakan-kebijakannya yang progresif meninggalkan jejak penting dalam sejarah demokrasi Indonesia.

Pemikiran Gus Dur tentang Islam, demokrasi, dan pluralisme yang sering dianggap kontroversial di masanya, kini terbukti memiliki visi jauh ke depan. Di era ketika intoleransi dan ekstremisme mengancam keharmonisan sosial, gagasan Gus Dur tentang Islam yang rahmatan lil alamin menjadi semakin penting dan relevan.

Sebagai seorang kiyai pewaris para nabi, Gus Dur tidak hanya mengajarkan Islam melalui ceramah di mimbar, tetapi melalui aksi nyata dalam membela yang tertindas, memperjuangkan keadilan, dan menyebarkan kasih sayang. Warisannya bukan hanya dalam bentuk pemikiran atau kebijakan, tetapi dalam spirit perjuangan untuk Indonesia yang lebih adil, demokratis, dan menghormati keberagaman. Inilah esensi dari misi kenabian yang ia warisi dan hidupkan sepanjang perjalanan hidupnya.                                                                                Sukapura, Dayeuhkolot, Bandung, 14 Desember 2025.                                               Biodata Dapat Di scan di bawah ini! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skenario Anggaran PBB yang Inklusif untuk Mewujudkan Tatanan Dunia Baru dan Sustainable Development Goals 2030 serta Post-SDGs yang Berkeadilan

Mencari Filosofis dari Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara

Esai: Teori dan Praktik Ekonomi Teonomik-Humanistik