Lima Gagasan Brian Yuliarto dalam Konteks Tradisi Intelektual Sunda

🌿 Lima Gagasan Brian Yuliarto dalam Konteks Tradisi Intelektual Sunda
1. Dosen sebagai Arsitek Peradaban ↔ Puun dan Guru dalam Tradisi Sunda
Dalam pandangan Brian, dosen adalah arsitek peradaban. Hal ini sejajar dengan peran puun (tetua adat) dan guru dalam tradisi Sunda, yang tidak hanya mengajar tetapi juga menjaga nilai, menafsirkan naskah kuno, dan menyalurkan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Sama seperti dosen, mereka adalah penjaga carita pantun dan piwulang yang membentuk karakter masyarakat.


2. Riset sebagai Budaya ↔ Tradisi Panalungtikan (Pencarian Pengetahuan)
Brian menekankan riset sebagai budaya, bukan beban. Dalam tradisi Sunda, hal ini tercermin dalam panalungtikan atau pencarian pengetahuan melalui eksplorasi alam, mitologi, dan naskah. Misalnya, penelitian tentang Gunung Padang atau Gua Pawon bukan sekadar arkeologi modern, tetapi kelanjutan dari rasa ingin tahu yang sudah lama hidup dalam masyarakat Sunda. Riset menjadi bagian dari identitas, sama seperti ngulik (mendalami) dalam budaya Sunda.


3. Ekosistem Riset Nasional ↔ Ekosistem Pengetahuan Sunda
Brian membangun enam pilar riset nasional. Tradisi Sunda pun memiliki ekosistem pengetahuan:  
- Naskah lontar dan babad sebagai publikasi ilmiah tradisional.  
- Carita pantun sebagai media transmisi pengetahuan.  
- Paguyuban sebagai wadah kolaborasi.  
- Kearifan lokal sebagai hilirisasi pengetahuan, diterapkan dalam tata ruang, pertanian, dan hukum adat.  
Dengan demikian, ekosistem riset modern bisa belajar dari cara masyarakat Sunda menjaga kesinambungan pengetahuan.


4. Intelektualisme sebagai Imperium ↔ Kabuyutan sebagai Pusat Pengetahuan
Brian menyebut pengetahuan sebagai imperium. Dalam tradisi Sunda, konsep ini tercermin dalam kabuyutan—pusat spiritual dan intelektual yang menyimpan naskah, pusaka, dan ajaran leluhur. Kabuyutan bukan sekadar tempat sakral, tetapi juga think tank tradisional yang mengarahkan kehidupan masyarakat. Sama seperti imperium pengetahuan, kabuyutan menjadi landasan kebijakan adat.


5. Ilmuwan untuk Bangsa ↔ Intelektual Sunda untuk Masyarakat
Brian bercita-cita melahirkan ilmuwan yang bermanfaat bagi bangsa. Tradisi Sunda pun menekankan bahwa pengetahuan harus berpihak pada masyarakat. Piwulang Sunda selalu diarahkan untuk harmoni dengan alam (silih asah, silih asih, silih asuh). Intelektual Sunda tidak mengejar pengakuan luar, tetapi berusaha menjaga keseimbangan hidup. Sama seperti ilmuwan modern, mereka adalah pelayan masyarakat.

✨ Kesimpulan
Lima gagasan Brian Yuliarto menemukan resonansi dalam tradisi intelektual Sunda: dosen ↔ puun, riset ↔ panalungtikan, ekosistem riset ↔ ekosistem pengetahuan adat, imperium ↔ kabuyutan, dan ilmuwan ↔ intelektual Sunda. Keduanya menegaskan bahwa pengetahuan adalah kekuatan strategis—baik dalam bentuk modern maupun tradisional—untuk membangun masyarakat yang berdaulat, berbudaya, dan beradab.  

Bandung, 26 Desember 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skenario Anggaran PBB yang Inklusif untuk Mewujudkan Tatanan Dunia Baru dan Sustainable Development Goals 2030 serta Post-SDGs yang Berkeadilan

Mencari Filosofis dari Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara

Esai: Teori dan Praktik Ekonomi Teonomik-Humanistik