Uni Eropa dan Blok-Blok Global Lain: Kepemimpinan, Kesejahteraan, dan Cara Mengelola Konflik

Uni Eropa dan Blok-Blok Global Lain: Kepemimpinan, Kesejahteraan, dan Cara Mengelola Konflik

Oleh: Tim Redaksi MPMSN Hub

Pendahuluan

Dalam dunia yang semakin terfragmentasi oleh konflik geopolitik, perbedaan cara blok-blok global mengelola kekuasaan menjadi semakin kentara. Uni Eropa (UE) sering dikritik lamban dan terlalu normatif, namun justru relatif stabil secara internal dan konsisten menempatkan kesejahteraan sebagai fondasi politik. Sebaliknya, blok-blok lain—baik yang berbasis kekuatan militer, ekonomi, maupun ideologi—menunjukkan pola kepemimpinan yang lebih konfrontatif.

Pertanyaannya: apakah pendekatan UE merupakan kelemahan, atau justru model alternatif tata kelola global?


Uni Eropa: Stabilitas Melalui Hukum dan Kesejahteraan

UE dibangun bukan dari kemenangan perang, melainkan dari trauma konflik. Sejak awal, integrasi Eropa bertujuan membuat perang “tidak hanya tidak terpikirkan, tetapi secara material mustahil”, sebagaimana visi pendirinya, Jean Monnet.

“We are not forming coalitions of states, we are uniting people.”
Jean Monnet

Pendekatan ini tercermin dalam:

  • Kepemimpinan institusional (bukan personalistik)
  • Penekanan pada hukum bersama
  • Investasi besar pada welfare state
  • Penyelesaian konflik melalui negosiasi dan pengadilan

Kepemimpinan perempuan di posisi strategis UE memperkuat karakter ini, dengan fokus pada human security—keamanan manusia, bukan sekadar keamanan negara.


Blok Anglo-Amerika: Kepemimpinan Berbasis Kekuatan dan Kepentingan

Blok Anglo-Amerika (terutama AS dan sekutunya) menampilkan pendekatan berbeda:

  • Kepemimpinan lebih sentralistik
  • Kekuatan militer sebagai alat utama stabilitas
  • Konflik dipandang sebagai instrumen strategis

Joseph Nye menyebut pendekatan ini sebagai kombinasi hard power dan soft power, namun praktiknya sering condong pada yang pertama.

“Military power alone cannot produce legitimacy.”
Joseph S. Nye

Konsekuensinya:

  • Efektivitas tinggi dalam krisis cepat
  • Namun berisiko menciptakan konflik berkepanjangan
  • Dampak kesejahteraan global sering bersifat sekunder

Blok Eurasia (Rusia–Tiongkok): Stabilitas Melalui Kontrol

Blok Eurasia cenderung menekankan:

  • Stabilitas internal di atas pluralisme
  • Kepemimpinan hierarkis dan maskulin
  • Konflik sebagai alat mempertahankan pengaruh regional

Pendekatan ini efektif dalam menjaga kontrol jangka pendek, namun rapuh dalam jangka panjang karena minimnya mekanisme koreksi internal.

Hannah Arendt mengingatkan bahwa stabilitas tanpa legitimasi partisipatif memiliki batas alami:

“Power and violence are opposites; where one rules absolutely, the other is absent.”
Hannah Arendt


ASEAN dan Global South: Non-Konfrontasi, Minim Institusi

ASEAN sering dipuji karena prinsip non-interference, tetapi lemahnya institusi membuat:

  • Konflik laten tidak terselesaikan
  • Kesejahteraan bergantung pada negara masing-masing
  • Kepemimpinan kolektif kurang tegas

Berbeda dengan UE, ASEAN menghindari konflik dengan diam, bukan dengan mekanisme hukum.


Perbandingan Kunci Antarblok

Aspek Uni Eropa Anglo-Amerika Eurasia ASEAN
Model Kepemimpinan Institusional, inklusif Personalistik, strategis Hierarkis Konsensus longgar
Pendekatan Konflik Preventif & hukum Intervensif Represif Menghindar
Fokus Kesejahteraan Tinggi Menengah Rendah–selektif Tidak merata
Risiko Konflik Internal Rendah Rendah Menengah–tinggi Laten

Opini Kritis: UE Lemah atau Justru Visioner?

UE sering dianggap lemah karena:

  • Lambat mengambil keputusan
  • Enggan menggunakan kekuatan militer

Namun justru di sinilah letak keunggulannya. Seperti dikatakan Immanuel Kant dalam gagasan perpetual peace, perdamaian sejati tidak lahir dari ketakutan, melainkan dari hukum dan kerja sama.

UE menunjukkan bahwa:

  • Kesejahteraan mengurangi konflik
  • Institusi lebih tahan daripada figur kuat
  • Kepemimpinan inklusif menciptakan stabilitas jangka panjang

Kesimpulan

Uni Eropa bukan model sempurna, tetapi ia menawarkan alternatif langka di dunia modern: kepemimpinan yang mengutamakan manusia, hukum, dan kesejahteraan sebagai strategi pencegahan konflik. Di tengah dunia yang semakin maskulin dan konfrontatif, pendekatan UE mungkin bukan yang paling cepat—tetapi bisa jadi yang paling berkelanjutan.


Bandung, 16 Januari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skenario Anggaran PBB yang Inklusif untuk Mewujudkan Tatanan Dunia Baru dan Sustainable Development Goals 2030 serta Post-SDGs yang Berkeadilan

Mencari Filosofis dari Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara

Esai: Teori dan Praktik Ekonomi Teonomik-Humanistik