Nyanyian Kematian Pena Buku di NTT


Nyanyian Kematian Pena  Buku di NTT                    
Di ufuk timur, mentari menyapa,
Bukan emas yang berpijar, tapi luka.
Seorang bocah, matanya bening jelaga,
Meratap pena, merindukan aksara.
Di meja tua, buku impian mahal,
Menjadi jurang, memutus langkah awal.
Mama, dengan tangan kapalan,
Mencari receh, menghitung harapan.
"Nak, tunggulah," bisik mama lirih,
Dalam pelukan, hati teriris perih.
Tapi dunia terlampau sunyi,
Dari janji-janji yang tak terbukti.
Pena itu, bukan sekadar tinta,
Tapi jembatan mimpi, gerbang cita.
Buku itu, bukan sekadar kertas,
Tapi lentera ilmu, penerang batas.
Namun garis kemiskinan, begitu nyata,
Mencekik impian, memutus cerita.
Beban di pundak, melebihi usia,
Senyum pun layu, di ujung asa.
Di sana, di tanah berbalut nestapa,
Ada nyanyian duka, tanpa siapa.
Untuk pena yang tak tergapai,
Untuk buku yang tak terbeli,
Dan untuk mama, yang berjuang sendiri.
Semoga tangisan ini, menjadi gema,
Membangunkan hati, mengubah semesta.
Agar tak ada lagi, pena yang menangis,
Dan setiap anak, berhak atas asa.
Bandung, 8 Februari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skenario Anggaran PBB yang Inklusif untuk Mewujudkan Tatanan Dunia Baru dan Sustainable Development Goals 2030 serta Post-SDGs yang Berkeadilan

Mencari Filosofis dari Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara

Esai: Teori dan Praktik Ekonomi Teonomik-Humanistik