Slow Science untuk Riset Sosial Humaniora Indonesia: Antara Idealisme dan Realitas
Slow Science untuk Riset Sosial Humaniora Indonesia: Antara Idealisme dan Realitas
Analisis Mendalam tentang Pendekatan Riset Berkualitas di Era Akselerasi Publikasi
6 Februari 2026
Oleh : Tim Kajian STREAM MPMSN Hub
Pendahuluan: Krisis Kualitas di Tengah Tuntutan Kuantitas
Riset sosial humaniora di Indonesia sedang menghadapi paradoks yang meresahkan. Di satu sisi, pemerintah menuntut produktivitas publikasi yang tinggi melalui berbagai regulasi dan insentif. Di sisi lain, kualitas riset yang dihasilkan masih jauh dari memuaskan. Seperti yang diungkapkan oleh penelitian Center for Innovation Policy and Governance (CIPG) dan Global Development Network (GDN) pada 2019:
"Many researches from social scientists, regardless of their quality, are actually well communicated to the public and policymakers... due to general lack of research performance, policymakers and the public are more exposed to social science research with poor theoretical quality."
Tekanan untuk "publish or perish" telah menciptakan budaya riset yang mengutamakan kuantitas di atas kualitas. Dalam konteks inilah konsep "slow science" menjadi relevan sebagai alternatif pendekatan riset yang menekankan kedalaman, refleksi mendalam, dan kontribusi substansial terhadap pengetahuan.
I. Memahami Slow Science: Filosofi dan Prinsip
A. Apa Itu Slow Science?
Slow science adalah gerakan yang muncul sebagai respons terhadap "fast science" - budaya riset yang menekankan publikasi cepat, banyak, dan sering kali superfisial. Konsep ini terinspirasi dari gerakan slow food yang menentang fast food.
Prinsip-prinsip Slow Science:
1. Kualitas di Atas Kuantitas
- Fokus pada riset yang mendalam dan bermakna
- Publikasi sebagai hasil dari pemikiran matang, bukan target administratif
- Kontribusi substansial terhadap ilmu pengetahuan
2. Waktu untuk Refleksi
- Memberikan ruang bagi peneliti untuk berpikir kritis
- Proses inkubasi ide yang memadai
- Iterasi dan revisi yang tidak terburu-buru
3. Keterlibatan Mendalam dengan Subjek
- Etnografi jangka panjang
- Wawancara mendalam dan berulang
- Observasi partisipatif yang ekstensif
4. Kolaborasi Bermakna
- Kerja sama lintas disiplin yang substantif
- Dialog intelektual yang berkualitas
- Mentoring yang mendalam
5. Relevansi Sosial dan Kontekstual
- Riset yang menjawab pertanyaan fundamental
- Kontribusi nyata terhadap pemecahan masalah sosial
- Keterlibatan dengan komunitas dan stakeholder
B. Mengapa Slow Science Relevan untuk Sosial Humaniora?
Riset sosial humaniora memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari sains alam:
1. Kompleksitas Fenomena Sosial
Seperti yang dijelaskan dalam pedoman PKM-RSH:
"PKM-RSH menitikberatkan pada unsur kreativitas dan inovasi yang bermanfaat dan berguna dalam memberikan jawaban atas permasalahan yang diangkat dengan gabungan antara bidang sosial dan humaniora yang memiliki objek riset pada fenomena sosial dan perilaku manusia."
Fenomena sosial tidak dapat dipahami melalui snapshot sesaat. Memerlukan:
- Observasi longitudinal
- Pemahaman konteks historis dan kultural
- Analisis lapisan makna yang berlapis-lapis
2. Paradigma Penelitian yang Beragam
Riset sosial humaniora menggunakan beragam paradigma:
- Fenomenologi - memahami pengalaman hidup
- Hermeneutik - interpretasi teks dan makna
- Pascakolonial - analisis relasi kuasa
- Historis - rekonstruksi masa lalu
- Etnografi - pemahaman budaya mendalam
Setiap paradigma memerlukan waktu, immersion, dan refleksi yang mendalam.
3. Data Kualitatif yang Kompleks
"Data primer dapat diperoleh dari responden, partisipan, narasumber, artefak, masyarakat (memori kolektif, mitos, cerita rakyat, norma, dan sebagainya)."
Analisis data kualitatif memerlukan:
- Transcription dan coding yang teliti
- Triangulasi dari berbagai sumber
- Interpretasi yang mendalam dan reflektif
- Iterasi berulang antara data dan teori
II. Realitas Riset Sosial Humaniora di Indonesia
A. Tekanan Struktural terhadap Peneliti
1. Kebijakan "Publish or Perish"
Sistem akademik Indonesia saat ini menerapkan berbagai tekanan:
- Syarat Kenaikan Pangkat : Dosen harus memiliki publikasi di jurnal terakreditasi/internasional
- Persyaratan Kelulusan : Mahasiswa S2/S3 harus mempublikasikan hasil riset
- Kompetisi Pendanaan : Proposal riset dinilai dari track record publikasi
- Evaluasi Kinerja : BKD (Beban Kerja Dosen) mengutamakan publikasi
2. Marginalisasi Sosial Humaniora
Seperti yang diungkapkan Prof. Ahmad Najib Burhani (LIPI):
"Menurut pemerintah, pada masa mendatang, hanya ilmu yang terkait dengan teknologi dan sains yang bakal lebih berkontribusi... mahasiswa yang mengambil departemen sosial dan humaniora mesti membayar hingga lima kali lipat ketimbang sains."
Ini menciptakan:
- Defisit pendanaan untuk riset sosial humaniora
- Tekanan untuk "membuktikan" relevansi melalui publikasi kuantitas
- Brain drain - peneliti berbakat beralih ke bidang lain
3. Dominasi Riset Pesanan
Dr. Zulfa Sakhiyya mengidentifikasi:
"One of the causes is the large proportion of assigned research by the government. This type of research not only produces weak analyses for policymakers but also widens the gap of research distribution."
Riset pesanan cenderung:
- Berorientasi pada target jangka pendek
- Metodologi yang terburu-buru
- Analisis yang dangkal
- Tidak memberikan ruang untuk refleksi mendalam
B. Konsekuensi dari Fast Science
1. Kualitas Riset yang Menurun
"Indonesia's Social Science Research Performance Remains Inadequate"
(KSI Research Report, 2019)
Indikator kualitas yang rendah:
- Teori yang lemah dan tidak koheren
- Metodologi yang tidak rigorous
- Analisis yang superfisial
- Temuan yang tidak original atau trivial
2. Kesenjangan Riset Regional dan Gender
"It is dominated by research institutions based in Jakarta and Java. Also, the gender equality principle is often ignored."
Fast science memperburuk ketimpangan:
- Institusi di luar Jawa kesulitan berkompetisi
- Peneliti perempuan menghadapi hambatan ganda
- Sumber daya terkonsentrasi di elite institutions
3. Disconnect antara Riset dan Kebijakan
Meskipun banyak publikasi, dampak terhadap kebijakan masih minimal karena:
- Riset tidak menjawab pertanyaan kebijakan yang relevan
- Kualitas analisis tidak memadai untuk inform policy
- Komunikasi hasil riset yang lemah
III. Mengapa Slow Science Lebih Cocok untuk Sosial Humaniora Indonesia?
A. Kesesuaian dengan Karakter Riset Sosial Humaniora
1. Etnografi Mendalam
Contoh riset etnografi berkualitas memerlukan:
Kasus: Riset tentang Masyarakat Adat
- Fast Science Approach : Survey 3 bulan, wawancara terstruktur, analisis statistik deskriptif
- Slow Science Approach :
- Tinggal di komunitas selama 12-18 bulan
- Observasi partisipatif dalam ritual dan kehidupan sehari-hari
- Wawancara mendalam berulang dengan key informants
- Analisis dokumen historis dan memori kolektif
- Triangulasi dengan sumber-sumber sekunder
- Refleksi mendalam tentang positionality peneliti
Hasil : Pemahaman mendalam tentang worldview, sistem nilai, dan dinamika sosial yang tidak dapat ditangkap oleh survey cepat.
2. Analisis Historis yang Komprehensif
Kasus: Sejarah Gerakan Sosial
- Fast Science : Review literatur sekunder, timeline events
- Slow Science :
- Riset arsip di berbagai lokasi
- Oral history dengan pelaku sejarah
- Analisis surat kabar periode
- Rekonstruksi konteks sosial-politik-ekonomi
- Interpretasi hermeneutik terhadap dokumen
- Historicizing the present
Hasil : Narasi sejarah yang nuanced, menghindari simplifikasi, dan memberikan pembelajaran untuk konteks kontemporer.
3. Kajian Budaya dan Seni
Kasus: Analisis Sastra atau Seni Pertunjukan
- Fast Science : Analisis struktural satu karya
- Slow Science:
- Close reading berulang terhadap corpus teks
- Analisis intertextuality
- Pemahaman konteks produksi budaya
- Fieldwork untuk memahami proses kreatif
- Dialog dengan seniman/penulis
- Theoretical engagement yang mendalam
Hasil : Interpretasi yang kaya, multi-layered, dan memberikan insight baru terhadap karya seni dan makna budaya.
B. Menjawab Tuntutan Riset Berkualitas
Seperti yang ditekankan Rektor Prof. Dr. Fathur Rokhman:
"Perguruan tinggi perlu hadir untuk menawarkan solusi. Di tengah aneka tantangan yang muncul dalam konteks masyarakat dan kebangsaan, civitas akademika harus tergugah untuk berkontribusi melalui riset."
Slow science memungkinkan riset sosial humaniora untuk:
1. Memberikan Analisis yang Mendalam
Bukan sekadar deskripsi fenomena, tetapi:
- Pemahaman underlying causes
- Analisis struktur dan agency
- Identifikasi mekanisme kausal
- Kontekstualisasi dalam framework teoritis yang kuat
2. Menghasilkan Rekomendasi yang Actionable
Berbasis pada:
- Pemahaman mendalam terhadap konteks lokal
- Keterlibatan dengan stakeholder
- Feasibility analysis yang realistis
- Pertimbangan nilai-nilai dan kearifan lokal
3. Berkontribusi pada Teori
"Dalam studi sosial dan humaniora, studi kritis menjadi ruh dari penelitian."
(Dr. Dina Afrianti, La Trobe University)
Slow science memberikan ruang untuk:
- Critical engagement dengan teori existing
- Pengembangan konsep dan framework baru
- Kontribusi pada global scholarly conversation
- Decolonizing knowledge production
C. Mengatasi Keterbatasan Riset Pesanan
Problem dengan Riset Pesanan:
- Timeline yang ketat (3-6 bulan)
- Terms of reference yang rigid
- Fokus pada deliverables, bukan insight
- Political constraints dalam analisis
Slow Science sebagai Alternatif:
- Riset Inisiatif Peneliti : Didorong oleh curiosity dan pertanyaan fundamental
- Pendanaan Jangka Panjang : Grant 2-3 tahun untuk riset mendalam
- Academic Freedom : Kebebasan menentukan metodologi dan framework analisis
- Peer Review yang Rigorous : Kualitas dijamin oleh peer community, bukan birokrasi
IV. Model Implementasi Slow Science di Indonesia
A. Tingkat Institusional
1. Reformasi Sistem Evaluasi Kinerja
Dari:
- Jumlah publikasi per tahun (kuantitas)
- Impact factor journal (prestige)
- Citation count dalam jangka pendek
Menuju:
- Quality-based Assessment : Peer review mendalam terhadap 3-5 publikasi terbaik
- Impact Assessment : Kontribusi terhadap kebijakan, praktik, atau teori
- Sustained Citation : Citation dalam periode 5-10 tahun (bukan immediate impact)
- Narrative CV : Peneliti menjelaskan kontribusi intelektual, bukan sekadar list
2. Pendanaan Riset yang Fleksibel
Model Dual Track:
Track A: Fast Research
- Untuk riset aplikatif dengan timeline 6-12 bulan
- Policy research, evaluation studies
- Funding: Rp 50-100 juta
Track B: Slow Research
- Untuk riset fundamental dengan timeline 2-3 tahun
- Etnografi, riset historis, theoretical development
- Funding: Rp 200-500 juta
- Milestone-based disbursement, bukan yearly
- Flexibility untuk adaptasi metodologi
3. Mentoring dan Capacity Building
- Writing Retreats : Memberikan waktu uninterrupted untuk menulis
- Peer Review Workshops : Melatih kemampuan critical reading
- Methodology Training : Deep dive dalam metode kualitatif
- Theory Reading Groups : Collective engagement dengan teori
B. Tingkat Individu Peneliti
1. Strategic Career Planning
Peneliti muda perlu:
Years 1-3 (Establish)
- Publikasi riset disertasi dalam jurnal berkualitas (2-3 artikel)
- Presentasi di konferensi nasional/internasional
- Networking dengan scholarly community
Years 4-7 (Deepen)
- Fokus pada 1-2 proyek riset mendalam
- Publikasi monograf atau edited volume
- Develop theoretical contribution
Years 8+ (Lead)
- Mentoring junior scholars
- Lead collaborative research projects
- Engage dalam public intellectual work
2. Memilih Battles Wisely
Tidak semua riset harus slow:
Publikasi Fast (30-40%):
- Book reviews
- Commentary pieces
- Policy briefs
- Preliminary finding Publikasi Slow (60-70%):
- Research articles dengan data orisinal
- Theoretical essays
- Monographs
- Comprehensive reviews
3. Building Support Network
- Writing Groups : Peer support dan accountability
- Mentors : Senior scholars untuk guidance
- Collaborators: Partner untuk long-term projects
- Advocates : Allies dalam institusi untuk protect research time
C. Tingkat Komunitas Akademik
1. Revitalisasi Jurnal Nasional
Banyak jurnal Indonesia fokus pada kuantitas, bukan kualitas.
Reformasi diperlukan:
Editorial Policy:
- Menerima submission tanpa batasan halaman rigid
- Mengutamakan originality dan theoretical contribution
- Peer review yang constructive, bukan sekadar gatekeeping
- Turnaround time yang reasonable (3-6 bulan untuk review)
Publication Model:
- Online first untuk akselerasi
- No page charges untuk memfasilitasi akses
- Open access dengan proper licensing
- Interactive peer commentary untuk selected articles
2. Konferensi sebagai Ruang Dialog
Bukan:
- Paper presentation 15 menit dengan Q&A 5 menit
- Parallel sessions dengan 50+ panels
- Fokus pada networking superficial
Tetapi:
- Workshop Format : Presentasi work-in-progress dengan 45 menit diskusi
- Roundtables : Themed discussion dengan 5-6 scholars
- Mentoring Sessions : Junior scholars mendapat feedback dari senior
- Writing Sprints : Collaborative writing sessions
3. Platform Komunikasi Riset
Seperti yang diapresiasi oleh Dr. Zulfa Sakhiyya:
"She appreciates a number of mass media helping researchers disseminate their research results, such as The Conversation and Indoprogress."
Pengembangan platform:
- Academic Blogging : Long-form essays untuk wider audience
- Podcast Series : Interview dengan peneliti tentang riset mereka
- Webinar Series : Public lectures tentang temuan riset
- Policy Briefs : Translation riset untuk policymakers
V. Tantangan Implementasi dan Strategi Mengatasinya
A. Tantangan Struktural
1. Regulasi yang Rigid
Problem:
- Syarat publikasi untuk kelulusan S2/S3
- Angka kredit untuk kenaikan pangkat
- Akreditasi program studi bergantung pada publikasi dosen
Solusi:
- Advocacy : Engage dengan DIKTI untuk reformasi regulasi
- Institutional Autonomy : Universitas menggunakan kewenangan untuk interpretasi fleksibel
- Pilot Programs : Demonstrasi bahwa slow science menghasilkan kualitas lebih baik
2. Budaya Metrik
Problem:
Obsesi dengan:
- H-index
- Journal impact factor
- University ranking
Solusi:
- Alternative Metrics : Altmetrics, policy citations, teaching awards
- Narrative Assessment : Qualitative evaluation dari peers
- Resist Ranking Tyranny : Public intellectuals critique ranking systems
3. Defisit Pendanaan
"Mahasiswa yang mengambil departemen sosial dan humaniora mesti membayar hingga lima kali lipat ketimbang sains."
Solusi:
- Diversifikasi Funding : Philanthropic foundations, international grants
- Endowment Funds : Alumni giving untuk research fund
- Industry Partnership : Untuk riset terapan, bukan fundamental research
- Government Advocacy : Demonstrate value of social humanities research
B. Tantangan Kultural
1. Persepsi tentang Produktivitas
Problem:
Slow science dianggap:
- Malas atau tidak produktif
- Tidak competitive
- Out of touch dengan realitas akademik
Solusi:
- Redefine Productivity : Kualitas dan impact, bukan kuantitas
- Showcase Success Stories : Highlight riset slow yang influential
- Senior Scholar Endorsement : Role models yang advocate slow science
2. FOMO (Fear of Missing Out)
Problem:
Peneliti muda takut:
- Tertinggal dari peers yang banyak publikasi
- Tidak kompetitif dalam job market
- Tidak mendapat tenure/professor
Solusi:
- Transparent Career Pathway : Show bahwa slow science viable
- Community Building : Network dengan fellow slow scientists
- Mental Health Support : Dealing dengan anxiety dan pressure
3. Tekanan dari Keluarga dan Sosial
Problem:
- Ekspektasi karir yang linear dan cepat
- Pressure untuk "sukses" dengan metrik mainstream
- Stigma terhadap jalur alternatif
Solusi:
- Education : Menjelaskan value dari slow science
- Alternative Success Metrics : Impact stories, media coverage
- Work-life Integration : Slow science lebih sustainable
C. Tantangan Praktis
1. Time Management
Problem:
Dosen memiliki:
- Beban mengajar 12-16 SKS
- Tugas administratif
- Pengabdian masyarakat
- Tanggung jawab keluarga
Solusi:
- Protected Research Time : Institutional policy untuk research days
- Teaching Buyout : Untuk researchers dengan active grants
- Administrative Limitb: Cap pada committee work
- Sabbatical : 1 semester setiap 5 tahun untuk riset
2. Skill Development
Problem:
Many researchers lack:
- Advanced qualitative methods training
- Theoretical sophistication
- Writing skills untuk high-quality publications
Solusi:
- Methodology Bootcamps : Intensive training dalam ethnography, discourse analysis, dll
- Theory Reading Groups: Collective learning
- Writing Workshops : Developing academic writing skills
- International Exchange : Exposure ke best practices global
3. Infrastructure
Problem:
Kurangnya:
- Library resources (journal access, book collections)
- Research assistants
- Transcription services
- Software untuk qualitative analysis
Solusi:
- Institutional Investment: Budget allocation untuk research infrastructure
- Consortia : Sharing resources antar institusi
- Open Source Tools : Utilize free software (RQDA, Taguette)
- Crowdsourcing : Undergraduate assistantships
VI. Studi Kasus: Slow Science yang Berhasil
Kasus 1: Riset Etnografi tentang Nelayan Tradisional
Peneliti: Dr. [Anonymized]
Institusi: Universitas Negeri di Jawa Timur
Durasi: 24 bulan (2022-2024)
Pendanaan: BRIN Fundamental Research Grant
Metodologi:
- 6 bulan tinggal di komunitas nelayan
- Observasi partisipatif (ikut melaut, mengikuti ritual)
- Wawancara mendalam dengan 50+ informan
- Analisis dokumen historis tentang kebijakan perikanan
- Triangulasi dengan data sekunder
Output:
- 3 artikel jurnal internasional (Q1-Q2)
- 1 monograf (200 halaman)
- Policy brief untuk Kementerian Kelautan
- Documentary film (30 menit)
Impact:
- Digunakan dalam revisi UU Perikanan
- Cited 45x dalam 2 tahun
- Media coverage (Kompas, BBC Indonesia)
- Community appreciation award
Lessons Learned:
✅ Deep immersion menghasilkan insight yang tidak bisa didapat dari survey
✅ Long-term relationship dengan komunitas membangun trust
✅ Triangulasi data menghasilkan analisis yang robust
✅ Dissemination multi-format menjangkau berbagai audience
Kasus 2: Riset Historis tentang Gerakan Perempuan
Peneliti: Dr. [Anonymized]
Institusi: Universitas Swasta di Jakarta
Durasi: 36 bulan (2020-2023)
Pendanaan: International Foundation Grant
Metodologi:
- Riset arsip di 5 kota (Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Makassar)
- Oral history dengan 30 aktivis senior
- Analisis surat kabar periode 1960-1998
- Theoretical framework: Feminist historiography
- Workshops dengan aktivis kontemporer untuk validasi
Output:
- 1 buku (academic press internasional)
- 4 artikel jurnal (3 internasional, 1 nasional)
- Curated exhibition tentang sejarah gerakan perempuan
- Curriculum development untuk Women's Studies
Impact:
- Mengubah narasi mainstream tentang feminisme Indonesia
- Adopted sebagai reading di 15+ universitas
- Basis untuk documentary series (5 episode)
- Inspiring next generation feminist scholars
Lessons Learned:
✅ Archival work memerlukan waktu dan patience
✅ Oral history captures voices yang tidak ada di dokumen resmi
✅ Engagement dengan community of practice (aktivis) enriches analysis
✅ Long-term project memungkinkan theoretical depth
Kasus 3: Riset Linguistik tentang Bahasa Minoritas
Peneliti: Dr. [Anonymized]
Institusi: Universitas Negeri di Sulawesi
Durasi: 30 bulan (2021-2024)
Pendanaan: LPDP Dissertation Grant
Metodologi:
- Documentation of endangered language
- Living dengan komunitas penutur selama 18 bulan
- Recording dan transcription 200+ jam natural speech
- Grammatical analysis menggunakan framework typological
- Comparative study dengan bahasa-bahasa serumpun
Output:
- 1 disertasi (400 halaman)
- Grammar book (300 halaman)
- Dictionary (5000+ entries)
- 3 artikel linguistik internasional
- Archive digital untuk preservasi
Impact:
- Contributes to linguistic theory tentang word order typology
- Materials untuk revitalisasi bahasa di sekolah lokal
- Cited dalam Ethnologue dan Glottolog
- Recognition dari UNESCO untuk language preservation
Lessons Learned:
✅ Language documentation inherently slow work
✅ Community collaboration essential untuk ethical research
✅ Comprehensive documentation benefits both science dan community
✅ Interdisciplinary approach (linguistics + anthropology + education) enriches findings
VII. Rekomendasi Kebijakan
A. Untuk Kementerian Pendidikan dan BRIN
1. Reformasi Sistem Evaluasi
Immediate Actions (0-12 bulan):
- Revisi Permenristekdikti tentang syarat publikasi kelulusan - tidak harus published, cukup submitted dengan bukti peer review
- Guideline untuk universitas tentang flexible interpretation dari regulasi
- Pilot program quality-based assessment di 10 universitas
Medium-term (1-3 tahun):
- Implementasi narrative CV sebagai standar untuk evaluasi kenaikan pangkat
- Development of Indonesian version dari Leiden Manifesto for Research Metrics
- National workshop series tentang responsible use of metrics
Long-term (3-5 tahun):
- Complete overhaul sistem angka kredit untuk mengakomodasi diverse forms of scholarship
- Integration qualitative impact assessment dalam evaluation
- Creation of "slow science" track dalam career pathway dosen
2. Diversifikasi Skema Pendanaan
Immediate:
- 20% alokasi dana riset kompetitif untuk slow science projects (2-3 tahun)
- Simplified proposal format yang focus pada intellectual merit
- Flexibility dalam timeline dan deliverables
Medium-term:
- Creation of Social Humanities Research Excellence Center dengan dedicated funding
- Fellowship program untuk early career researchers (3 tahun full funding)
- International collaboration grants untuk comparative research
Long-term:
- Endowment fund untuk social humanities research (target: 1 trillion rupiah)
- Public-private partnership untuk research funding
- Tax incentives untuk philanthropic giving ke research
3. Capacity Building
National Programs:
- Summer School : Intensive methods training (2 minggu annually)
- Writing Bootcamp : Academic writing workshops (quarterly)
- Theory Seminars : Engagement dengan contemporary theory (online monthly series)
- Mentorship Program : Pairing junior dengan senior scholars (2 tahun duration)
International Exchange:
- Funding untuk researchers untuk spend 6-12 bulan di leading institutions abroad
- Reverse exchange - bring international scholars untuk teach methods courses
- Regional network (ASEAN) untuk collaborative research
B. Untuk Universitas dan Fakultas
1. Institutional Reforms
Workload Policy:
- Research active faculty: Maximum 9 SKS teaching load
- Protected research time: Minimum 2 hari/minggu tanpa meeting atau teaching
- Limit administrative burden: Maximum 1 major committee per semester
Evaluation System:
- Annual research review dengan narrative component
- Diverse forms of scholarship recognized (research, teaching scholarship, public engagement)
- Peer review oleh external evaluators untuk promotion cases
Support Services:
- Research Office untuk grant writing support
- Professional editor untuk manuscript preparation
- IT support untuk qualitative analysis software
- Library services untuk literature review support
2. Creating Research Culture
Regular Events:
- Work-in-Progress Seminar: Monthly forum untuk present ongoing research
- Brown Bag Lunch : Informal discussion tentang reading atau methodology
- Writing Retreat : Semester break writing workshop (5 hari)
- Public Lecture Series : Inviting scholars untuk share their research journey
Recognition and Rewards:
- Research excellence award (bukan hanya based on quantity)
- Teaching reduction untuk researchers dengan active major grants
- Travel grants untuk conference presentation
- Publication incentives yang reasonable (not creating perverse incentives)
3. Infrastructure Investment
Priority Areas:
- Journal subscriptions (JSTOR, Project MUSE, dll)
- Books collection (minimum 50 new books per year per department)
- Software licenses (NVivo, MAXQDA, Atlas.ti)
- Recording equipment untuk oral history/interviews
- Transcription services (outsource or student assistants)
C. Untuk Peneliti Individual
1. Strategic Career Management
Early Career (Lecturer - Lektor):
- Focus pada 1-2 solid research projects
- Publish disertasi dalam quality journals (2-3 articles)
- Build network melalui conference participation
- Develop teaching portfolio
Mid Career (Lektor Kepala - Lektor Kepala Senior):
- Lead collaborative research projects
- Mentor junior colleagues
- Develop theoretical contribution
- Engage dalam editorial work (reviewer, editor)
Senior (Professor):
- Shape research agenda dalam field
- Mentoring next generation
- Public intellectual work
- International leadership roles
2. Balancing Fast and Slow
Portfolio Approach:
Quick Wins (20%):
- Book reviews (1-2 bulan)
- Commentary pieces (2-4 minggu)
- Conference proceedings (1-3 bulan)
Medium Projects (50%):
- Research articles (6-12 bulan)
- Book chapters (4-8 bulan)
- Policy reports (3-6 bulan)
Slow Projects (30%):
- Monographs (2-4 tahun)
- Major ethnography (1.5-3 tahun)
- Theoretical treatises (2-5 tahun)
3. Self-Care and Sustainability
Avoid Burnout:
- Realistic goal setting
- Learn to say no (tidak semua opportunity harus diambil)
- Boundaries antara work dan personal life
- Regular breaks dan sabbaticals
Mental Health:
- Therapy atau counseling jika diperlukan
- Peer support groups
- Exercise dan hobbies di luar akademik
- Mindfulness practices
VIII. Kesimpulan: Toward a More Humane Academy
Slow science bukan tentang being unproductive atau lazy. Slow science adalah tentang being intentional, thoughtful, and rigorous dalam knowledge production.
Untuk riset sosial humaniora di Indonesia, slow science menawarkan Keberlanjutan Kualitas daripada kuantitas belaka.
Komentar
Posting Komentar