Soesilo Toer: Doktor yang Memulung, Sastrawan yang Merawat Memori Bangsa

Soesilo Toer: Doktor yang Memulung, Sastrawan yang Merawat Memori Bangsa

Pendahuluan: Paradoks Seorang Intelektual

Oleh : A. Rohmandar                                                                                                                  Di sudut-sudut kota Blora, Jawa Tengah, setiap malam sehabis maghrib hingga dini hari, seorang lelaki berusia 87 tahun mengayuh motor butut berkeranjangnya menyusuri jalanan. Ia bukan sekadar pemulung biasa. Pria kelahiran 17 Februari 1937 itu adalah adik kandung almarhum Pramoedya Ananta Toer, sastrawan dan penulis yang kiprahnya diperhitungkan dunia. Lebih mengejutkan lagi, Soes, sapaan karibnya, adalah penyandang gelar master jebolan University Patrice Lumumba dan doktor bidang politik dan ekonomi dari Institut Perekonomian Rakyat Plekhanov Uni Soviet.

Paradoks inilah yang membuat sosok Soesilo Toer menarik untuk dikaji. Seorang doktor ekonomi politik yang memilih hidup sebagai pemulung, seorang intelektual yang memahami Marxisme-Leninisme namun memilih kearifan lokal, seorang penulis produktif yang hidup sederhana. Dalam diri Soesilo Toer, kita menemukan sintesis antara pendidikan tinggi dan kesederhanaan hidup, antara kecerdasan intelektual dan kebijaksanaan praktis, antara trauma sejarah dan ketahanan jiwa.

Masa Kecil: Tumbuh di Bayang-bayang Kemiskinan dan Kebesaran

Soesilo Toer lahir dalam kondisi keluarga yang kontras dengan kelahiran kakaknya, Pramoedya. Ketika ia lahir, keluarganya dalam kondisi ekonomi yang sulit di mana utang menumpuk, surat-surat tanah pun dijual guna melunasi pembelian lahan dan bangunan institut tersebut. Berbeda dengan tahun 1925 ketika Pram lahir dalam keluarga berkecukupan yang memiliki 20 surat tanah tersebar di Blora.

Ayahnya, Mastoer, terjangkit hobi baru yaitu berjudi ceki, yang semakin memperburuk kondisi ekonomi keluarga. Namun di tengah kesulitan ekonomi ini, keluarga Toer tetap menjunjung tinggi pendidikan dan intelektualitas. Ayahnya adalah guru dan aktivis Boedi Oetomo, sementara ibunya, Siti Saidah, adalah seorang pedagang yang tangguh.

Saat Pram berusia 17 tahun, sang ibu meninggal, yang kemudian disusul oleh adiknya yang masih berusia tujuh bulan bernama Soesanti. Pramoedya yang masih sangat muda harus menjadi tulang punggung keluarga, membawa semua adik-adiknya ke Jakarta. Pram seolah sudah menjadi pengganti kedua orang tua, yang mengayomi adik-adiknya.

## Relasi dengan Pramoedya: Patron dan Adik Kebanggaan

Hubungan Soesilo dengan Pramoedya sangat menentukan perjalanan hidupnya. Saya pernah disebutnya sebagai adik kebanggaannya, karena kebetulan saya juga bisa sekolah sampai tinggi dan juga bisa menulis seperti dia, kenang Soesilo.

Pramoedya mendidik adik-adiknya dengan keras namun penuh kasih. Pernah suatu ketika saya usia 13 tahun, saya diberi uang sama Pram Rp 10, harus cukup selama sebulan. Hidup di Jakarta, uang segitu mana cukup. Tapi Pram dengan tegas bilang, ini uangmu, kalau tidak cukup keluarlah. Didikan keras inilah yang membentuk Soesilo menjadi mandiri dan kreatif.

Karya pertama saya pada saat itu dengan judul 'Saya Kepingin Jadi Jendral' di majalah Kunang-Kunang milik Balai Pustaka. Melalui menulis, Soesilo bisa bertahan hidup. Dan Wah hari itu Pram muji saya, bahwa tulisan saya seperti Thomas Man, Gorky dan Faulkner, kenang Soesilo tentang pujian kakaknya.

Bagi Soes, Pramoedya adalah patron. Soes mengenang Pram sebagai sosok yang idealis dan pemberani. Pram, lanjut dia, adalah sosok pejuang Indonesia yang bercita-cita tinggi untuk kejayaan nusa dan bangsanya.

Namun relasi mereka bukan tanpa ketegangan. Selama hidup saya ini, Pram meminta maaf kepada saya hanya satu kali. Ketika itu saya dapat surat dari teman Belanda, namun disobek sama si Pram. Baru kali itu dia bilang Sorry sama saya. Saya langsung merinding saat itu, mengingat sosoknya yang keras karena mungkin bawaan militer ya.

Perjalanan Pendidikan: Dari Jakarta ke Moskow

Soesilo menempuh pendidikan dengan penuh lika-liku. Sebelum hijrah ke Rusia, Soes sempat menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia (UI). Soes juga mahasiswa BI jurusan ekonomi yang beralih menjadi IKIP di Jakarta Selatan. Namun, perjalanan di kedua kampus itu terhenti di tengah jalan karena biaya kuliah terlalu tinggi baginya.

Akhirnya ia menyelesaikan diploma di Akademi Keuangan Bogor. Ketika Uni Soviet membuka program beasiswa, sekitar 9000 orang mendaftar, hanya 30 yang diterima, ia salah satunya. 

Selama 11 tahun di Rusia (1962-1973), kehidupan Soesilo sangat berbeda. Karena latar belakang pendidikannya, Soesilo Toer berpendapatan tinggi. Dia hidup bergelimang harta di Rusia. Sepekan sekali, ia bisa bersantap di restoran berkelas di Rusia. Ia bekerja sebagai penulis, penerjemah, peneliti, bahkan pekerja kasar. Selama berkuliah, dia juga dikenal sebagai penggila buku-buku Rusia yang bahkan belum dibaca oleh dosennya.

Di Moskow, Soesilo menyelesaikan gelar master dari Universitas Patrice Lumumba dan meraih gelar doktor dari Institut Perekonomian Rakyat Plekhanov dalam bidang ekonomi dan politik, dengan fokus pada filsafat ajaran Marxisme dan Leninisme terutama terkait realisme sosial.

Tragedi 1965: Dijebloskan ke Penjara Tanpa Pengadilan

Perjalanan cemerlang Soesilo terhenti tragis ketika ia pulang ke Indonesia pada 1973. Pada tahun 1973, pada masa pemerintahan Soeharto, Soesilo Toer ditangkap karena dianggap punya hubungan dengan Partai Komunis Indonesia. Dia dijebloskan ke penjara selama sekitar 5,5 tahun. Ia langsung ditangkap ketika turun dari pesawat. Tanpa pembuktian dan pengadilan mengenai penangkapannya, ia dilepas dari penjara pada 28 Oktober 1978, tepat 50 tahun Sumpah Pemuda.

Untuk kasus Soes, dua alasan sekaligus. Jurusan yang ditekuni Soes di fakultas politik dan ekonomi di Rusia disebut masuk zona merah yang membahayakan kestabilan negara. Selain itu, dia adalah adik dari Pramoedya Ananta Toer yang lebih dulu dituding berhaluan komunis.

Diketahui, sebelum ia ditangkap Kedutaan Indonesia di Moskow menggelar pengajian untuk mendoakan para korban keganasan PKI. Soesilo Toer tidak hadir kala itu karena ia tidak mendapatkan undangan. Namun, ia menduga, karena tidak hadir itulah ia dinilai terlibat PKI.

Pertemuan kembali dengan Pramoedya setelah bertahun-tahun terpisah sangat emosional. Pada tahun 1980, Pramoedya Ananta Toer keluar dari tahanan politik setelah mendekam selama 4 tahun di Nusakambangan dan 10 tahun di Pulau Buru. Pas keluarnya dia dari tahanan, banyak orang yang memberi ucapan selamat, sampai ngantri panjang itu. Termasuk saya, tapi dari kejauhan karena saya ini anaknya cengeng, sudah nangis duluan dan kabur. Pram saat itu belum sadar siapa saya, sampai dia tanya istrinya, saat itulah dia langsung ngejar saya, meluk saya.

Stigma Eks-Tapol: Survival di Tengah Diskriminasi

Keluar dari penjara dengan cap eks-tapol, kehidupan Soesilo menjadi sangat sulit. Dengan KTP berstempel Eks Tapol, ruang gerak Soesilo untuk mencari nafkah tentu menjadi terbelenggu. Berstatus sebagai eks-tapol Orde Baru menyebabkan kehidupan Soesilo Toer sulit. Beliau sulit mendapat pekerjaan yang layak, dan sulit diterima di masyarakat.

Soesilo Toer menerangkan jika dirinya sebanarnya adalah warga negara Belanda. Sebab, menurut peraturan yang berlaku zaman kolonial dulu, semua orang yang lahir sebelum tahun 1949 secara hukum adalah warga negara Belanda. Sudah banyak orang yang menawari saya bekerja di Belanda. Tapi, saya memilih Indonesia.

Namun Indonesia yang dipilihnya justru memenjarakannya tanpa pengadilan. Padahal saya anak buahnya Pak Harto. Pada saat pembebasan saya adalah seorang Letnan Batalyon serbaguna. Seharusnya saya dapat jabatan, malah dibui, ujar Soesilo dengan nada getir.

Walau begitu, Banyak hal yang dia lakoni, seperti bekerja serabutan dari mulai berdagang kain sampai menulis. Karena jasa temannya, ia dapat menjadi seorang dosen di sebuah universitas swasta selama 6 tahun. Namun kehidupan di Jakarta semakin sulit, apalagi rumahnya yang semipermanen di atas lahan 320 m2 digusur untuk pembangunan jalan tembus Cakung-Kranji.

Kembali ke Blora: Memulung sebagai Pilihan Filosofis

Pada tahun 2004, Soesilo memutuskan kembali ke kampung halamannya di Blora. Di sanalah ia memilih profesi yang mengejutkan banyak orang: pemulung. Soesilo Toer adalah adik dari sastrawan terkemuka milik Indonesia, Pramodya Ananta Toer. Dia adalah seorang doktor dan telah menerbitkan puluhan buku. Walau begitu, dia lebih menikmati hari-harinya dengan menjalani profesi sebagai pemulung.

Namun bagi Soesilo, memulung bukan sekadar profesi ekonomi, melainkan pilihan filosofis. Apa hubungannya ijazah dengen pekerjaan. Saya memulung karena ingat kisah Socrates yang memilih bunuh diri dengan caranya sendiri, yakni minum racun puhon cemara, saat dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah Yunani. Socrates berkata, kenalilah dirimu, karena kematian adalah kebahagiaan abadi. Saya ambil kalimat itu dan saya balik, kenalilah diriku, karena memulung adalah kenikmatan abadi buat saya.

Bagi Soesilo, memulung adalah kenikmatan abadi. Biasanya dia memunguti sampah yang ada di seputar kota Blora dengan menggunakan motornya pada malam hari. Dalam semalam, ia memulung setelah waktu isya sampai tengah malam, bahkan bisa sampai subuh saat banyak pungutan. Penghasilannya rata-rata Rp 25 ribu dalam sehari.

Kritik dan ejekan banyak datang. Waktu saya memulung, banyak yang mengkritik, 'doktor kok miskin, doktor kok pemulung, doktor kok segala macem itu.' tapi bagi saya itu biasa. Buat apa malu, yang terpenting adalah bagaimana pekerjaan itu punya nilai lebih. Saya sudah banyak diejek orang, tapi seolah itu sudah tawar bagi saya. Setinggi apapun pangkat Anda, jika tidak punya nilai lebih ya percuma.

Soesilo Toer mengaku kalau dia adalah pemulung internasional. Dia kemudian memamerkan barang-barang dari hasil memulungnya di antaranya sendok dan garpu yang sudah terkumpul hingga ratusan pasang, tiga buah arloji, dan juga cincin emas yang ia gunakan. Saya sudah kumpulkan ratusan sendok dan garpu di rumah. Suatu saat saya akan membuka museum bahwa saya pemulung internasional.

Karya Tulis: Produktivitas Melebihi Pramoedya

Meski hidup sebagai pemulung, Soesilo tidak pernah berhenti menulis. Pram itu lebih hebat saya, karya Pram kalau dijumlah hanya kira-kira 40. Saya sudah mau menerbitkan buku ke 50 nanti. Di usia 87 tahun, produktivitasnya bahkan melebihi kakaknya yang legendaris.

Sejak usia 13 tahun dia sudah menulis segala macam tulisan, dari cerpen sampai novel. Karya-karyanya sangat beragam, mulai dari sastra anak, novel dewasa, hingga biografi. Buku-bukunya yang sudah terbit antara lain Komponis Kecil dan Cerita-cerita Lain (1963), Suka Duka si Pandir (1963) Pram dan Seks, Pram dan Seks 2, Pram dan Seks 3, Legenda Gunung Kemukus, Pram dari Dalam (Februari, 2013), Pram dalam Kelambu (Februari, 2015), Pram dalam Tungku (April, 2016), Dunia Samin (April, 2016).

Dunia Samin: Karya Monumental

Karya yang paling fenomenal adalah novel "Dunia Samin". Buku cerita ini sudah disusun Soesilo Toer sejak 1963. Seusai belajar di Universitas Lumumba, adik nomor enam sastrawan Pramoedya Ananta Toer ini menambahkan cerita itu. Keluar dari penjara Orde Baru di tahun akhir 70-an, doktor yang menjadi pemulung di seantero Blora ini, menambahkan lagi cerita Samin ini. Jadilah tiga bagian cerita Samin ini ditulis dalam rentang waktu yang cukup lama.

Dalam penulisan buku ini, Soesilo Toer membaginya ke dalam tiga seri dari tiga zaman yang berbeda yakni buku Dunia Samin 1 ditulis sebelum bapak Soesilo Toer berangkat ke Uni Soviet pada tahun 1962 dengan nama buku Suka Duka Si Pandir. Kemudian Dunia Samin II ditulis ketika sang penulis, Soesilo Toer menempuh pendidikan di Uni Soviet. Sementara Dunia Samin III baru ditulis setelah sang penulis keluar dari penjara Orde Baru.

Membaca karya ini adalah membaca perkembangan pikiran seseorang, seperti yang digambarkan dalam tokoh Samin yang awalnya seorang bebal dan lalai kemudian menjadi semakin bijak. Karena ditulis dalam rentang waktu panjang, saya seperti melihat bagaimana pandangan penulis dipengaruhi isu aktual pada masanya.

Buku ini bertujuan untuk semakin memperkenalkan nama Samin, merehabilitasi namanya, dan mengangkat namanya ke tempat yang semestinya. Sudah sepatutnya kita bangga memiliki tokoh seperti Samin yang bahkan menurut Soesilo Toer ajarannya ditiru oleh Mahatma Gandhi dengan ajaran Ahimsa.

Novel Dunia Samin karya Soesilo Toer berhasil meraih penghargaan Prasidatama dari Balai Bahasa Jawa Tengah untuk kategori novel. Itu yang buku 'Dunia Samin' dinobatkan sebagai novel terbaik oleh Balai Bahasa Jawa Tengah. Padahal itu bukan novel tapi folklor.

Buku ini mengandung kebijaksanaan mendalam. Beberapa kutipan perkataan Samin yang patut kita renungkan dan relevan dengan kehidupan sekarang: "Aku selalu dengar orang rapat, baca koran di tembok pasar, dan mendengar dari pembicaraan orang-orang yang telah tinggi pengetahuannya yang menginginkan kehidupan kaum tani dan kaum buruh diperbaiki. Jangan Cuma jadi kelas yang ditunggangi sejak lahir sampai mati. Itulah perlunya persatuan. Perlu organisasi".

Satu hal menonjol yang menarik bagi Saya di kisah Samin ini adalah kebijaksanaan dalam kesederhanaan, misalnya "Samin tidak butuh sepatu mengkilap untuk pergi mencangkul di sawah", suatu pesan untuk tidak mengeksploitasi diri untuk kebendaan yang sebenarnya tidak substantial.

Perpustakaan Pataba: Merawat Memori Pramoedya

Di rumah masa kecilnya di Blora, Soesilo mendirikan sesuatu yang sangat berarti: Perpustakaan Pataba. Perpustakaan Pataba diresmikan tepat pada 30 April 2006, hari meninggal Pramoedya Ananta Toer. Pataba merupakan akronim dari "Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa".

Di rumah itu pula Soes membangun perpustakaan kecil yang diberi nama Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba) untuk mengenang sang kakak sekaligus mendorong generasi muda setempat gemar membaca.

Perpustakaan itu terletak pada satu ruangan yang berukuran 4 × 5 meter. Ada kurang lebih 10 ribu koleksi buku yang tersimpan di sana, termasuk 50 buku karya Toer. Perpustakaan tersebut didirikan untuk menumbuhkan semangat membaca dan menulis pada masyarakat.

Perpustakaan Pataba terkenal sampai luar daerah, bahkan luar negeri. Perpustakaan ini menjadi rujukan bagi para penulis, mahasiswa, dan para peneliti luar negeri untuk mencari rujukan sastra. Dari Amerika, Prancis, Bulgaria, Jerman, dan termasuk negara-negara Asia.

Selain sebagai penulis Soes adalah penyandang gelar master jebolan University Patrice Lumumba dan doktor bidang politik dan ekonomi dari Institut Perekonomian Rakyat Plekhanov Uni Soviet. Keduanya berada di Rusia. Ia meraih kedua gelar tersebut nyaris sempurna. Namun semua itu ia korbankan untuk merawat memori sang kakak dan mengembangkan literasi di kampung halamannya.

Filosofi Hidup: Roda Pedati dan Kebebasan

Soesilo meyakini filosofi "roda pedati kehidupan" yang dihayati sebagai hidup yang terus bergerak. Ketika ditanya tentang kondisi "roda pedati" hidupnya saat ini, ia menjawab dengan santai: "Ya di tengah, lah."

"Yang Susah Bagi Saya itu Mati," katanya sembari terkekeh. Pernyataan ini menunjukkan semangat hidup yang luar biasa dari seorang yang telah melewati berbagai trauma dan kesulitan.

"The essence of Pram's thinking is freedom. Not parties or organizations. So, a person must be brave. Right or wrong, that's another matter. Only brave people can conquer the world," said Mr. Sus, as he is affectionately called, passionately. Filosofi kebebasan inilah yang diajarkan Pramoedya dan dihidupi Soesilo.

Soesilo juga menekankan pentingnya literasi. "Reading is to gain inspiration. At the age of 60, you should be able to read 3,000 titles. You should be able to read around 20 titles a day. But don't read books like eating fried peanuts. The savory taste is gone, the content is also gone".

Soesilo Toer menguasai bahasa Jawa, Rusia, Inggris, Belanda, dan Jerman. Dan, ia menyebut dirinya sendiri diglosia, karena menguasai beberapa bahasa seperti halnya Koesalah Soebagyo Toer yang terkenal sebagai penerjemah.

Hari Tua: Tetap Produktif di Usia Senja

Di usianya yang ke-87 tahun, Soesilo masih sangat produktif. Kalau malam saya operasi (memulung) buat biaya sehari-hari, kalau siang sambil tiduran saya ya nulis. Dulu ada mesin ketik, tapi capek nulis sambil duduk kalau lama, sekarang sambil tiduran tulisan tangan, nanti yang translate jadi ketikan anak saya. Ada 30-an yang belum terbit, ditunggu saja.

There are two big stories I am currently working on, one of which is Sang Misterius. Depicting important figures behind some of the big stories in this country. Soesilo's ideas came when he was daydreaming and lying on a chair in his house.

Morning had already broken in Malang, Monday (02/03/2025), around 07:30 AM WIB. Soesilo Toer (87) rose from his bed, then sat on the edge of the foam mattress he had slept on all night. "Do not eat too much. The important thing is that the stomach is not empty. If you eat a lot, you will defecate everywhere," he explained why he does not eat much and might only have a few spoonfuls.

Kesederhanaan hidupnya bukan kemiskinan, melainkan pilihan filosofis. Ia menolak kemewahan dan keterikatan pada materi. Sebagai seseorang yang pernah hidup bergelimang harta di Rusia, ia tahu persis perbedaan antara memiliki dan menjadi.

Cerita tentang Pramoedya: Menjaga Memori Sang Kakak

Soesilo adalah salah satu saksi hidup terbaik tentang kehidupan Pramoedya. Momen itu terjadi saat Soesilo Toer bercerita soal masa-masa Pram di penjara. Waktu Pram harus menyembunyikan pensil dan kertas yang dipakainya untuk menulis di dalam tahanan. "Suatu kali ada swiping, Pram ketinggalan pensilnya di atas tempat tidur. Sebelum swiping itu dimulai, ketika Pram melihat pensil itu langsung mengambil dan digenggamnya. Terus dia pura-pura sakit, lalu jongkok di lantai. Dan ditanya oleh petugas 'kenapa kamu?' 'sakit perut' kata Pram. 'Kalau sakit perut ayo sana ke WC' sambil menendang Pram. Di WC, pensil yang dipegang dimasukkan ke anusnya, ya pantat, supaya nggak ketahuan".

Bukunya kemudian mendapat juara lomba membikin naskah, sambung Soesilo tentang Tetralogi Buru yang ditulis Pramoedya di penjara.

Soesilo Toer yang lahir 17 Februari 1937, seperti orang lanjut usia lain, rambutnya nyaris tidak ada yang berwarna hitam lagi. Ia begitu santai dengan kaos hitamnya, di depan para peserta wajahnya berseri-seri saat menceritakan kisah kakaknya. Ia berangkat dari perspektif pribadi dan mendalam tentang perjalanan dan kehidupan Pramoedya.

Buku-bukunya tentang Pram seperti "Pram dari Dalam", "Pram dalam Kelambu", "Pram dalam Bubu", "Pram dalam Belenggu", dan "Pram dalam Tungku" adalah dokumentasi berharga tentang kehidupan pribadi sastrawan besar Indonesia itu.

Penghargaan dan Pengakuan

Pada tahun 2015, dua orang mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) Visian Pramudika dan Diana Noviana, yang mengikuti Eagle Award Documentary Contest yang diselenggarakan oleh Metro TV, membuat film yang mengangkat tema tentang Soesilo Toer, dengan judul film Tinta Perajut Bangsa dan berhasil memenangkan Kategori Film Favorit Pemirsa.

Pada tahun 2018, novel Soesilo Toer yang berjudul Dunia Samin mendapatkan hadiah Prasidatama dari Balai Bahasa Jawa Tengah untuk kategori Novel Terbaik. Pada tahun ini pula Bupati Blora Djoko Nugroho memberikan hadiah kepada Soesilo Toer sebagai Mentor kepada Para Penulis Muda.

Pada tahun 2019, Soesilo Toer diundang ke acara Hitam Putih Trans 7 yang dibawakan oleh Deddy Corbuzier setelah berita tentang hobinya sebagai pemulung diangkat ulang oleh Jawa Pos Radar Kudus dan viral.

Pada tahun 2024, buku anak-anak Soesilo Toer berjudul Komponis Kecil yang mengangkat kisah tentang Idris Sardi masuk dalam Rekomendasi Buku Sastra Masuk Kurikulum untuk SD/MI yang diluncurkan oleh Mendikbudristek, Nadiem Makarim.

Makna Hidup Soesilo Toer: Pelajaran bagi Generasi Sekarang

Hidup Soesilo Toer adalah antitesis dari materialisme yang mendominasi zaman kita. Ia adalah seorang doktor yang memilih memulung, seorang yang pernah bergelimang harta namun memilih kesederhanaan, seorang intelektual yang tidak terjebak pada arogansi akademis.

Dalam dirinya, kita melihat resiliensi yang luar biasa. Dipenjara tanpa pengadilan, diasingkan dari pekerjaan layak, dicap sebagai simpatisan komunis—namun ia tetap produktif, tetap menulis, tetap merawat literasi. Tahun 2018, ada wacana dari Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Blora bahwa rumah masa kecil Pramoedya di Blora bakal menjadi salah satu Destinasi Wisata Sastra di Kabupaten Blora. Namun wacana tinggal wacana.

Soesilo mengajarkan bahwa pendidikan sejati bukan tentang gelar atau status, melainkan tentang kebijaksanaan dan kontribusi. Ia mengajarkan bahwa kebebasan sejati adalah kebebasan dari keserakahan dan ambisi material. Ia mengajarkan bahwa menulis adalah cara untuk melawan lupa, untuk merawat memori kolektif bangsa.

Soesilo adalah satu dari banyak tahanan politik Orde Baru (Orba) yang dipenjara tanpa pengadilan. Setelah akhirnya dilepaskan pada tahun 1978, ia hidup berpindah-pindah dari Jakarta, Bekasi, hingga akhirnya kembali ke kota kelahirannya, Blora. Di sana, Soesilo yang kini berusia 87 tahun mengelola Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba) sambil mencari penghidupan untuk keluarganya dengan menjual hasil panen dan memulung.

Penutup: Warisan yang Hidup

Soesilo Toer bukan sekadar adik dari Pramoedya Ananta Toer. Ia adalah seorang intelektual dengan integritas, seorang penulis produktif dengan visi, seorang pemulung dengan martabat. Dalam paradoks hidupnya—doktor yang memulung, intelektual yang sederhana, korban sejarah yang tidak dendam—kita menemukan pelajaran tentang apa artinya hidup bermakna.

Seperti tokoh Samin dalam novelnya yang memilih kesederhanaan dan kebijaksanaan, Soesilo hidup sesuai dengan apa yang ia tulis. Ia adalah bukti bahwa kebesaran seseorang tidak diukur dari jabatan atau kekayaan, melainkan dari kontribusi dan integritas.

Di usia 87 tahun, dengan rambut putih dan tubuh yang mulai lemah, Soesilo tetap menulis. Masih ada 30-an naskah yang belum terbit, masih ada kisah-kisah yang ingin ia sampaikan. Perpustakaan Pataba tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar. Dan setiap malam, jika kondisi tubuhnya memungkinkan, motor butut berkeranjangnya masih mengayuh di jalanan Blora.

Soesilo Toer adalah paradoks yang hidup, kontradiksi yang indah, anomali yang inspiratif. Dalam dunia yang mengukur kesuksesan dengan materi dan status, ia mengukur hidup dengan kebijaksanaan dan kontribusi. Dalam masyarakat yang melupakan sejarah, ia merawat memori. Dalam zaman yang individualistis, ia memikirkan generasi mendatang.

Warisan Soesilo Toer bukan hanya puluhan buku yang ia tulis, melainkan juga cara hidup yang ia tunjukkan: bahwa pendidikan sejati menghasilkan kebijaksanaan, bahwa kesederhanaan adalah bentuk kebebasan, dan bahwa menulis adalah cara melawan lupa. Seperti yang ia katakan dengan rendah hati namun penuh makna: "Yang Susah Bagi Saya itu Mati"—selama masih hidup, selama masih bisa berkarya, itulah kebahagiaan sejati.

Referensi:
1. Kompas.com, "Kisah Soesilo Toer, Adik Pramoedya Ananta Toer yang Bergelar Doktor dan Kini Jadi Pemulung" (2018)
2. Detikcom, "Kisah Soesilo Toer, Doktor yang Kini Memulung Sampah di Blora" (2018)
3. Wikipedia Indonesia, "Soesilo Toer" (2025)
4. Tempo, "Buku Dunia Samin Karya Soesilo Toer Terbit, Ini Resensinya" (2017)
5. Tatkala.co, "Soesilo Toer, 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer, dan Cerita Tak Biasa di UWRF 2024" (2024)
6. Kompas.id, "Soesilo Toer: Menulis adalah Karya Keabadian" (2025)
7. Berbagai sumber media massa lainnya
Bandung, 7 Februari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skenario Anggaran PBB yang Inklusif untuk Mewujudkan Tatanan Dunia Baru dan Sustainable Development Goals 2030 serta Post-SDGs yang Berkeadilan

Mencari Filosofis dari Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara

Esai: Teori dan Praktik Ekonomi Teonomik-Humanistik