TANTANGAN LITERASI-NUMERASI DAN PEMIKIRAN KRITIS : Menakar Krisis Akses Buku dan Peran Gerakan Komunitas sebagai Solusi Literasi di Indonesia

TANTANGAN LITERASI-NUMERASI DAN PEMIKIRAN KRITIS

 Menakar Krisis Akses Buku dan Peran Gerakan Komunitas sebagai Solusi Literasi di Indonesia

Asep Rohmandar

ABSTRAK


Rendahnya kemampuan literasi dan numerasi peserta didik Indonesia, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2018, bukanlah persoalan yang berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan krisis struktural yang lebih dalam: minimnya ketersediaan bahan bacaan bermutu di tengah masyarakat. Artikel ini mengkaji dua tantangan tersebut secara bersamaan, lalu menempatkan gerakan literasi berbasis komunitas — dengan Gerakan Santri Menulis sebagai studi kasus — sebagai salah satu ikhtiar mengatasi kesenjangan tersebut. Kerangka pemikiran kritis, khususnya gagasan literasi kritis Paulo Freire, digunakan untuk membaca persoalan ini bukan sekadar sebagai defisit teknis, melainkan sebagai persoalan struktural yang menuntut kesadaran dan tindakan kolektif.


1. Pendahuluan

Kualitas sumber daya manusia sebuah bangsa banyak ditentukan oleh kemampuan warganya dalam mengolah informasi, menalar secara logis, dan membaca realitas di sekitarnya secara kritis. Literasi dan numerasi, dalam pengertian ini, bukan sekadar keterampilan teknis membaca-menulis dan berhitung, melainkan fondasi bagi kemampuan berpikir kritis itu sendiri. Ketika fondasi ini rapuh, dampaknya menjalar ke berbagai lini: daya saing ekonomi, partisipasi warga negara dalam demokrasi, hingga ketahanan masyarakat terhadap disinformasi.

Indonesia, dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, menghadapi tantangan literasi dan numerasi yang telah berulang kali dikonfirmasi oleh berbagai survei internasional. Persoalan ini diperparah oleh kendala struktural di sisi hulu, yaitu keterbatasan akses terhadap buku bacaan bermutu. Artikel ini membahas kedua persoalan tersebut secara terintegrasi, dan menelaah bagaimana inisiatif berbasis komunitas — dengan mengambil contoh Gerakan Santri Menulis — dapat menjadi bagian dari solusi, sekaligus mendudukkan keseluruhan persoalan ini dalam kerangka pemikiran kritis.

2. Tantangan Literasi dan Numerasi: Potret dari PISA 2018

Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh OECD merupakan salah satu instrumen pembanding kemampuan literasi peserta didik usia 15 tahun secara internasional, mencakup domain membaca, matematika, dan sains (OECD, 2019). Hasil PISA 2018 menempatkan Indonesia pada posisi yang jauh dari memuaskan.

Domain Literasi

Skor Indonesia (PISA 2018)

Peringkat Indonesia

Membaca (Reading Literacy)

371

72 dari 79 negara

Matematika / Numerasi

379

72–73 dari 79 negara

Sains

396

70 dari 79 negara


Data menunjukkan capaian literasi Indonesia pada PISA 2018 menempatkan Indonesia pada posisi sepuluh terbawah dari 79 negara peserta, dengan skor membaca sekitar 80 poin di bawah rata-rata negara-negara OECD (Pusat Penelitian Kebijakan Kemendikbudristek, 2021). Untuk domain literasi numerasi atau matematika, hasil serupa juga terkonfirmasi: Indonesia berada pada peringkat 73–74 dari 79 negara peserta (Yusmar & Fadilah, dikutip dalam Jurnal Cendekia, 2023).

Analisis lanjutan dari Pusat Penelitian Kebijakan menunjukkan pola menarik: siswa yang gemar membaca memiliki skor membaca 17,3 poin lebih tinggi dibandingkan siswa yang kurang gemar membaca, dan kesenangan membaca ini turut berkorelasi dengan capaian matematika (Pusat Penelitian Kebijakan Kemendikbudristek, 2021).

Temuan ini penting sebab ia menyingkap bahwa literasi membaca dan literasi numerasi bukanlah dua kompetensi yang terpisah, melainkan saling menopang. Kajian atas tren PISA Indonesia sejak tahun 2000 hingga 2018 turut menunjukkan pola stagnan yang cenderung menurun pada aspek membaca dan matematika, meskipun kurikulum nasional telah beberapa kali mengalami perubahan (Edupedika, 2022). Temuan ini menyiratkan bahwa akar permasalahan literasi-numerasi Indonesia tidak semata soal desain kurikulum, melainkan menyangkut ekosistem literasi yang lebih luas — termasuk ketersediaan bahan bacaan itu sendiri.

3. Mengatasi Keterbatasan Akses Buku: Krisis di Sisi Hulu

Jika hasil PISA menggambarkan gejala, maka keterbatasan akses terhadap buku merupakan salah satu akar persoalannya. Data Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menunjukkan rasio ketersediaan buku bacaan di Indonesia berada jauh di bawah standar UNESCO, yang menetapkan setiap individu idealnya membaca tiga buku baru per tahun (Perpustakaan Nasional RI, dikutip dalam Kompas, 2021). Kondisi riil di lapangan menunjukkan rasio satu buku untuk sekitar sembilan puluh orang — sebuah kesenjangan yang sangat lebar dari standar tersebut.

Kesenjangan ini juga tidak merata secara geografis. Di Pulau Jawa dan Bali, dengan populasi sekitar 154 juta jiwa, tersedia sekitar 11 juta eksemplar buku, sementara di Sumatera rasio ketersediaannya bahkan lebih rendah lagi, dan wilayah timur Indonesia seperti Papua dan Maluku mencatatkan rasio buku per penduduk yang paling rendah di antara seluruh kepulauan besar (Kompas.id, 2021). Ditambah lagi, Indonesia tercatat masih kekurangan hampir setengah juta pustakawan, dan baru sekitar dua puluh persen dari kebutuhan nasional perpustakaan yang terpenuhi (Kompas.id, 2023).

Krisis buku bukan sekadar krisis distribusi cetakan, melainkan krisis akses terhadap kesempatan berpikir kritis itu sendiri.

— Perspektif kritis atas data Perpusnas RI


Estimasi kekurangan bahan bacaan berskala nasional — yang dalam berbagai kajian literasi disebut mencapai ratusan juta eksemplar — mencerminkan defisit struktural yang tidak dapat diselesaikan semata melalui intervensi kurikulum di ruang kelas. Pemerintah maupun masyarakat sipil dituntut untuk memperluas produksi dan distribusi bahan bacaan bermutu, sekaligus menumbuhkan penulis-penulis baru dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk dari kalangan yang selama ini kurang terwakili dalam industri penerbitan nasional.

4. Pemikiran Kritis sebagai Kerangka Analisis

Untuk memahami persoalan literasi-numerasi secara lebih utuh, kerangka pemikiran kritis dari tradisi pedagogi kritis relevan untuk dirujuk. Paulo Freire, pemikir pendidikan asal Brasil, dalam karyanya yang paling berpengaruh menegaskan bahwa literasi sejati bukan sekadar kemampuan mengenali huruf dan angka, melainkan kemampuan "membaca kata sekaligus membaca dunia" — proses yang ia sebut sebagai conscientização atau kesadaran kritis (Freire & Macedo, dikutip dalam Pedagogy and Theatre of the Oppressed, t.t.).

Dalam pandangan Freire, pendidikan literasi seharusnya bersifat dialogis, melibatkan proses saling bertanya dan merefleksikan realitas sosial, bukan sekadar transfer pengetahuan satu arah dari pengajar ke peserta didik (Freire, 1970, sebagaimana diulas dalam Wikipedia dan berbagai kajian pedagogi kritis kontemporer). Pendekatan ini kemudian dikenal sebagai problem-posing education, sebuah alternatif terhadap model pendidikan "bank" yang memperlakukan peserta didik sekadar sebagai penerima pasif informasi (Wikipedia, entri Problem-posing education).

Kerangka ini relevan untuk membaca situasi Indonesia. Rendahnya skor PISA dan minimnya akses buku semestinya tidak hanya dipahami sebagai kegagalan teknis sistem pendidikan, tetapi juga sebagai persoalan struktural mengenai siapa yang memiliki akses terhadap pengetahuan dan siapa yang tidak. Pemikiran kritis, dalam konteks ini, menuntut agar masyarakat — termasuk komunitas keagamaan, penggiat literasi, dan lembaga penelitian independen — turut mengambil peran aktif, bukan menyerahkan sepenuhnya persoalan ini kepada negara.

5. Gerakan Santri Menulis: Terapi atas Krisis Akses Buku

Salah satu inisiatif komunitas yang relevan untuk dicermati adalah Gerakan Santri Menulis (GSM), program literasi yang digagas oleh Suara Merdeka Network dan telah berjalan lebih dari tiga dekade, menyasar pondok pesantren sebagai basis pembinaan (Kemenag Jawa Tengah, 2026). Program ini secara konsisten menargetkan sejumlah pesantren setiap tahunnya, dengan total ratusan pesantren yang telah mendapatkan pembinaan kepenulisan sepanjang perjalanan program tersebut (Kemenag Jawa Tengah, 2026).

Substansi pembinaan dalam GSM mencakup keterampilan dasar jurnalistik, teknik penulisan berita dan opini, hingga strategi memproduksi konten media yang relevan dengan konteks digital saat ini (Kemenag Jawa Tengah, 2026). Yang menarik dari pendekatan GSM adalah penekanannya bukan semata pada aspek teknis menulis, melainkan juga pada kesadaran bahwa setiap tulisan yang diterbitkan membawa tanggung jawab, terutama di tengah derasnya arus informasi yang tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya (Marifood.co.id, 2026).

Dalam salah satu momentum penyelenggaraannya, tokoh literasi pesantren dari Rembang turut menyebut wilayah tersebut sebagai "gudang penulis dari kalangan santri", seraya berharap program ini melahirkan penulis-penulis baru yang membawa nilai kesantrian ke tingkat nasional (Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, 2026).

Inisiatif semacam GSM dapat dipahami sebagai bentuk "terapi" komunitas atas kurangnya akses terhadap buku-buku bermutu — bukan dengan menunggu suplai bahan bacaan dari luar, melainkan dengan menumbuhkan kapasitas menulis dari dalam komunitas itu sendiri. Pendekatan ini sejalan dengan semangat pemikiran kritis Freire, yang menempatkan masyarakat bukan sebagai objek pasif penerima literasi, melainkan sebagai subjek yang aktif memproduksi pengetahuan dan makna dari pengalaman hidupnya sendiri.

6. Diskusi Kritis dan Rekomendasi

  • Peningkatan skor literasi-numerasi tidak dapat dilepaskan dari perbaikan ekosistem perbukuan nasional, termasuk distribusi buku yang lebih merata ke wilayah luar Jawa.

  • Program berbasis komunitas seperti Gerakan Santri Menulis perlu direplikasi lintas kelembagaan — tidak terbatas pada pesantren, tetapi juga sekolah umum, komunitas pemuda, dan lembaga penelitian mandiri seperti Masyarakat Peneliti Mandiri Kasundaan Nusantara.

  • Pendekatan pedagogi kritis Freire dapat diadaptasi dalam desain program literasi nasional, dengan menekankan dialog dan refleksi kontekstual, bukan sekadar peningkatan angka melek huruf.

  • Diperlukan basis data yang lebih transparan dan konsisten mengenai rasio ketersediaan buku, agar kebijakan penguatan literasi dapat disusun berdasarkan bukti yang valid dan termutakhirkan.


Rekomendasi-rekomendasi tersebut menegaskan bahwa persoalan literasi-numerasi Indonesia menuntut sinergi lintas aktor — pemerintah, penerbit, komunitas keagamaan, dan lembaga riset independen — dengan pemikiran kritis sebagai landasan bersama dalam merumuskan solusi yang berkelanjutan.

7. Penutup

Tantangan literasi dan numerasi Indonesia, sebagaimana terekam dalam hasil PISA 2018, tidak dapat dipisahkan dari persoalan struktural yang lebih dalam, yaitu keterbatasan akses terhadap bahan bacaan bermutu. Kedua persoalan ini menuntut respons yang melampaui pendekatan teknokratis semata. Kerangka pemikiran kritis Paulo Freire mengingatkan bahwa literasi sejati adalah proses membaca dunia, bukan sekadar membaca kata. Gerakan komunitas seperti Gerakan Santri Menulis menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kapasitas untuk menjadi subjek aktif dalam mengatasi krisis ini — sebuah pelajaran penting bagi upaya penguatan literasi nasional ke depan.


DAFTAR PUSTAKA


Direktorat Guru Pendidikan Dasar. (2022). Mengkaji Kembali Hasil PISA sebagai Pendekatan Inovasi Pembelajaran untuk Peningkatan Kompetensi Literasi dan Numerasi. gurudikdas.dikdasmen.go.id.

Edupedika: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. (2022). Analisis Capaian Siswa Indonesia pada PISA dan Urgensi Kurikulum Berorientasi Literasi dan Numerasi.

Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Herder and Herder.

Freire, P., & Macedo, D. (1987). Literacy: Reading the Word and the World. South Hadley, MA: Bergin & Garvey.

Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika. (2023). Skor Literasi Sains dan Matematika Indonesia pada PISA 2018 dan PISA 2022.

Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah. (2026). Tiga Skill Wajib Santri Gen Z: Baca, Bicara, Menulis di Era Digital.

Kompas.id. (2021). Indonesia Kekurangan Buku Bacaan.

Kompas.id. (2023). Literasi Rendah, Indonesia Kekurangan Hampir Setengah Juta Pustakawan.

Marifood.co.id. (2026). Gerakan Santri Menulis ke-32: Ketika Pesantren Mulai Bicara Lebih Keras di Dunia Digital.

OECD. (2019). PISA 2018 Results (Volume I): What Students Know and Can Do. Paris: OECD Publishing.

Pedagogy and Theatre of the Oppressed, Inc. (t.t.). A Brief Biography of Paulo Freire.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. (2026). Buka Gerakan Santri Menulis, Wabup Hanies Berharap Lahir Penulis dengan Nilai Kesantrian di Tingkat Nasional.

Pusat Penelitian Kebijakan, Kemendikbudristek. (2021). Meningkatkan Kemampuan Literasi Dasar Siswa Indonesia. Risalah Kebijakan Puslitjak No. 3.

Wikipedia. (t.t.). Pedagogy of the Oppressed.

Wikipedia. (t.t.). Problem-posing Education.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skenario Anggaran PBB yang Inklusif untuk Mewujudkan Tatanan Dunia Baru dan Sustainable Development Goals 2030 serta Post-SDGs yang Berkeadilan

Esai: Teori dan Praktik Ekonomi Teonomik-Humanistik

Paradoks Terbesar Kesepakatan Resiprokal As dan Tarif Global — Negara yang Berkorban Lebih Banyak, Justru Dirugikan