Dari Sunda untuk Nusantara

Dari Sunda untuk Nusantara

                                                            Menyusun visi kebangkitan Tanah Sunda tak bisa lepas dari akar sejarah perjuangannya. Bukan sekadar kemerdekaan fisik, tetapi juga pembebasan akal budi dan martabat. Visi ini saya rumuskan dalam "Sang Saka Sunda: Merdeka Lahir Batin, Jaya Kertaraharja" —sebuah visi yang memadukan spirit revolusioner para leluhur dengan cita-cita keadilan sosial.


Mukadimah: Dari Sunda untuk Indonesia

Kami, putra-putri Tanah Sunda—tanah yang subur makmur, gemah ripah repeh rapih—menyadari bahwa kemerdekaan yang telah diraih belum sepenuhnya menghadirkan keadilan lahir dan batin bagi seluruh rakyat. Ketimpangan fiskal atas kekayaan alam yang diekstraksi tanpa manfaat adil bagi rakyat, kebudayaan yang terpinggirkan, pendidikan yang tertinggal, serta ekonomi rakyat yang rapuh penuh kemiskinan, adalah tantangan nyata yang harus dijawab.

Maka, dengan berpijak pada falsafah leluhur Tri Tangtu Di Buana—Rama (legislatif), Ratu (eksekutif), dan Resi (yudikatif)—serta meneladani semangat perjuangan para pahlawan Sunda seperti Dewi Sartika yang membebaskan perempuan dari belenggu kebodohan, Otto Iskandardinata sang Jalak Harupat yang pemberani, dan Tan Malaka yang menolak kompromi terhadap penindasan, kami rumuskan visi besar:


"Sang Saka Sunda: Merdeka Lahir Batin, Jaya Kertaraharja"

Kami berikrar untuk mewujudkan Tanah Sunda yang berdiri bermartabat, dengan keadilan fiskal, budaya yang mulia, kesejahteraan rakyat, dan kepemimpinan yang terhormat demi masa depan anak cucu.


Empat Pilar Revolusi Sunda

Pertama: Ngadegkeun Jati Diri—Penguatan Jati Diri dan Pemajuan Kebudayaan Sunda.

Kami akan merevolusi pendidikan karakter Sunda, memberlakukan kebijakan afirmatif bahasa dan toponimi, serta menginisiasi dana abadi kebudayaan Sunda Raya. Sebab merdeka batin dimulai dari pengenalan akan jati diri. Seperti ajakan Dewi Sartika, kemerdekaan suatu bangsa perlu membuat jendela kehidupan yang baru dengan mempertajam kecerdasan melalui pendidikan.

Kedua: Sunda jeung Sarakan, Sunda jang Negara—Penataan Ulang Hubungan Pusat dan Daerah.

Kami menuntut reforma keadilan fiskal nasional, integrasi Sunda Raya, pencabutan moratorium pemekaran yang selektif, serta peninjauan kembali kebijakan strategis nasional di tatar Sunda. Kekayaan alam Sunda harus kembali berpihak pada rakyatnya, bukan diekstraksi tanpa keadilan.

Ketiga: Perduli Kaum Papa—Prioritas Pembangunan dan Kesejahteraan.

Kami akan mengaudit secara sistemik Proyek Strategis Nasional di wilayah Sunda, melakukan reforma agraria kultural dan ekonomi rakyat, serta membangun berbasis data presisi dan Indeks Kesejahteraan Sunda Raya. Ekonomi rakyat yang rapuh dan penuh kemiskinan harus diakhiri.

Keempat: Kapamimpinan Koléktif—Menciptakan Sistem Sunda dan Kepemimpinannya.

Kami akan membentuk Sunda Leadership Institute, mengkonsolidasikan fraksi Sunda Raya di lembaga perwakilan, menyusun buku putih perjuangan Sunda, serta mengakui Majelis Musyawarah Sunda sebagai mitra strategis negara dan daerah. Kepemimpinan kolektif yang tumbuh harus dikonsolidasikan untuk menjawab tantangan zaman.


Penutup: Revolusi yang Berlanjut

Visi ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan tanpa henti. Seperti pesan Tan Malaka: "Setelah aku mati, baru aku akan benar-benar hidup." Warisan revolusi tidak diukur dari pengakuan zaman, tetapi dari bagaimana gagasan dan perjuangan terus hidup—dalam setiap langkah menuju keadilan, dalam setiap nafas yang memperjuangkan kemerdekaan lahir dan batin bagi seluruh rakyat di bumi Sunda.

Sunda jaya! Indonesia jaya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengidentifikasi Dinamika Asimetris dan Non-Linear dalam Ketimpangan Perkotaan–Pedesaan melalui Kerangka Teonomik Di Indonesia

Esai: Teori dan Praktik Ekonomi Teonomik-Humanistik

Skenario Anggaran PBB yang Inklusif untuk Mewujudkan Tatanan Dunia Baru dan Sustainable Development Goals 2030 serta Post-SDGs yang Berkeadilan