Strategi Pembelajaran Komprehensif untuk Mengatasi Krisis Literasi Mahasiswa Gen Z di Perguruan Tinggi

Strategi Pembelajaran Komprehensif untuk Mengatasi Krisis Literasi Mahasiswa Gen Z di Perguruan Tinggi

                                                                     Oleh : Presiden MPMSN                                                                                      Pendahuluan

Fenomena penurunan kemampuan literasi mahasiswa Gen Z telah menjadi tantangan serius di perguruan tinggi global, termasuk di Indonesia. Data menunjukkan bahwa mahasiswa Gen Z tidak hanya kesulitan membaca teks panjang, tetapi juga mengalami hambatan dalam pemahaman mendalam dan berpikir kritis. Di Indonesia, skor PISA 2022 menunjukkan kemampuan membaca pada level 1a (359 poin), sementara Gen Z menghabiskan rata-rata 8 jam 42 menit online tetapi hanya 8 menit untuk membaca.

Kondisi ini memerlukan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya adaptif terhadap karakteristik Gen Z, tetapi juga mampu membangun kembali fondasi literasi akademik yang solid. Artikel ini menyajikan strategi treatment pembelajaran komprehensif berbasis riset untuk mengoptimalkan kualitas proses dan luaran perguruan tinggi.

A. Diagnosis Masalah: Akar Krisis Literasi Gen Z

1. Faktor Kognitif
- Pola membaca scanning : Terbiasa membaca cepat dan dangkal di media digital
- Ketergantungan pada AI : Mengandalkan ringkasan otomatis tanpa membaca teks asli
- Fragmentasi perhatian : Kesulitan mempertahankan fokus pada teks panjang
- Defisit pemahaman kontekstual : Hanya memahami makna literal, bukan implisit

2. Faktor Struktural
- Disrupsi pandemi COVID-19 : Pembelajaran jarak jauh yang tidak optimal
- Sistem pendidikan menengah yang lemah : Kurangnya latihan literasi akademik
- Akses terbatas pada bacaan berkualitas : Khususnya di Indonesia (Indeks Literasi 64,68)

3. Faktor Perilaku
- Preferensi konten audio-visual : Pergeseran dari teks ke video dan podcast
- Budaya membaca rendah : Rata-rata hanya 5,91 buku per tahun di Indonesia
- Multitasking digital : Gangguan notifikasi dan media sosial

B. Kerangka Kerja Treatment Pembelajaran Komprehensif

Model ADAPTIVE (Adaptive, Diagnostic, Personalized, Tiered, Inclusive, Validative, Engaging)

Framework ini dirancang untuk mengakomodasi keberagaman gaya belajar sambil membangun kompetensi literasi secara bertahap.

C. Strategi Treatment Berdasarkan Gaya Belajar

1. Visual Learners (±65% Gen Z)

Karakteristik : Memproses informasi lebih baik melalui gambar, diagram, dan representasi visual.

Treatment Spesifik :
- Visual Reading Maps : Gunakan mind mapping dan graphic organizers untuk memecah teks kompleks
- Infografis Konsep : Transformasikan teks menjadi visual timeline, flowchart, atau comparison charts
- Annotation dengan Warna : Sistem highlight terstruktur (merah=konsep utama, kuning=supporting evidence, hijau=contoh)
- Video-Text Integration : Mulai dengan video pengantar 3-5 menit, lanjutkan dengan bacaan mendalam
- Sketch Notes : Mendorong mahasiswa membuat catatan visual sambil membaca

Implementasi Praktis :
```
Minggu 1-2: Bacaan 5 halaman + infografis konsep
Minggu 3-4: Bacaan 10 halaman + membuat mind map sendiri
Minggu 5-6: Bacaan 15 halaman + presentasi visual
Minggu 7-8: Bacaan 20 halaman + analisis komparatif visual
```
2. Auditory Learners (±30% Gen Z)

Karakteristik : Belajar optimal melalui mendengar, diskusi, dan verbalisasi.

Treatment Spesifik :
- Audiobook + Text Combo : Dengarkan sambil membaca untuk memperkuat pemahaman
- Reading Circles : Kelompok kecil 4-5 orang membaca lantang bergantian
- Podcast Summarization : Mahasiswa membuat podcast mini meringkas bacaan
- Socratic Seminars : Diskusi terpandu dengan pertanyaan kritis
- Think-Pair-Share : Baca individu → diskusi berpasangan → presentasi kelas

Implementasi Praktis :
- Pre-reading : Dengarkan overview 10 menit
- During-reading : Baca dengan suara dalam hati sambil mendengar audio
- Post-reading : Diskusi kelompok 20 menit dengan pertanyaan pemandu

3. Kinesthetic Learners (±5% Gen Z)

Karakteristik : Memerlukan aktivitas fisik dan praktik langsung untuk memahami konsep.

Treatment Spesifik :
- Active Reading Stations : Rotasi antar stasiun dengan tugas berbeda (annotate, summarize, question, connect)
- Role-Playing Concepts : Dramatisasi ide atau argumen dari teks
- Physical Sorting : Kartu konsep yang disusun, dikelompokkan, atau diurutkan secara fisik
- Walking Discussions : Diskusi sambil berjalan untuk meningkatkan kognisi
- Hands-on Application : Langsung praktik konsep yang dibaca

Implementasi Praktis :
```
Stasiun 1 (10 menit): Baca & highlight konsep kunci
Stasiun 2 (10 menit): Sortir kartu konsep berdasarkan kategori
Stasiun 3 (10 menit): Role-play argumen utama
Stasiun 4 (10 menit): Buat model fisik/diagram
```

4. Reading/Writing Learners (Berkurang di Gen Z)

Karakteristik : Preferensi pada teks tertulis dan ekspresi tertulis.

Treatment Spesifik :
- Guided Reading Logs : Jurnal refleksi terstruktur
- Progressive Writing : Dari summary → analysis → synthesis
- Peer Review Writing : Tukar-tulis-kritisi dengan teman
- Digital Annotation : Gunakan tools seperti Hypothes.is untuk anotasi kolaboratif

D. Model Pembelajaran Bertingkat (Scaffolded Learning)

Level 1: Foundation Building (Minggu 1-4)

Tujuan : Membangun kembali kemampuan membaca dasar dan stamina kognitif.

Aktivitas :
1. Micro-Reading Sessions: 
   - Mulai dengan bacaan 2-3 halaman per sesi
   - Durasi fokus 15 menit dengan Pomodoro Technique
   - Frekuensi: 3x seminggu

2. Guided Reading dengan Struktur Jelas :
   - Pre-reading: Aktivasi skema dengan pertanyaan pemandu (5 menit)
   - During-reading: Teknik SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review)
   - Post-reading: Quick quiz atau exit ticket (5 menit)

3. Vocabulary Building Kontekstual :
   - Identifikasi 10 kata kunci per bacaan
   - Buat konteks kalimat sendiri
   - Flashcard digital dengan spaced repetition

Asesmen : Reading comprehension quizzes, vocabulary tests, reading speed tracking.

Level 2: Skill Development (Minggu 5-8)

Tujuan : Mengembangkan pemahaman mendalam dan kemampuan analitis.

Aktivitas :
1. Critical Reading Strategies :
   - CAVA Method : Context, Audience, Voice, Arguments
   - Identifikasi bias, asumsi, dan logical fallacies
   - Bandingkan perspektif berbeda pada topik sama

2. Gradual Increase in Complexity:
   - Minggu 5: 10 halaman dengan panduan
   - Minggu 6: 15 halaman dengan panduan minimal
   - Minggu 7: 20 halaman mandiri
   - Minggu 8: Artikel jurnal kompleks

3. Multi-Modal Comprehension :
   - Baca teks → tonton video terkait → diskusi
   - Kombinasi sumber untuk pemahaman holistik
   - Cross-reference antar media

Asesmen : Analytical essays, comparative analysis, annotation quality review.

Level 3: Application & Synthesis (Minggu 9-12)

Tujuan : Mengaplikasikan kemampuan literasi untuk produksi pengetahuan.

Aktivitas :
1. Research-Based Reading :
   - Literature review mini (10-15 sumber)
   - Sintesis informasi dari berbagai sumber
   - Evaluasi kredibilitas sumber

2. Creative Application :
   - Buat case study berdasarkan bacaan
   - Desain solusi untuk problem yang dibaca
   - Presentasi multi-format hasil bacaan

3. Peer Teaching :
   - Mahasiswa mengajar topik yang telah dibaca
   - Memaksimalkan pemahaman melalui pengajaran
   - Kolaborasi dalam knowledge creation

Asesmen : Research papers, project-based assessment, peer teaching evaluation.

Level 4: Mastery & Independence (Minggu 13-16)

Tujuan : Membentuk pembaca mandiri dan pembelajar seumur hidup.

Aktivitas :
1. Self-Directed Reading Projects :
   - Mahasiswa memilih topik dan sumber sendiri
   - Desain pertanyaan penelitian mandiri
   - Kebebasan dalam format presentasi

2. Interdisciplinary Reading :
   - Integrasi bacaan dari berbagai disiplin
   - Koneksi antar mata kuliah
   - Real-world application

3. Reading Community Building :
   - Book club atau reading group
   - Online discussion forums
   - Berbagi rekomendasi bacaan

Asesmen : Capstone projects, portfolio assessment, self-reflection essays.

E. Integrasi Teknologi yang Mendukung

 1. AI sebagai Scaffold, Bukan Pengganti

Prinsip: Gunakan AI untuk mendukung, bukan menggantikan proses membaca.

Implementasi :
- AI Reading Assistants : Tools seperti ChatGPT untuk mengklarifikasi konsep sulit SETELAH membaca
- Batasan Jelas : AI boleh digunakan untuk 20% terakhir pemahaman, bukan 100%
- Verification Protocols : Mahasiswa harus memverifikasi ringkasan AI dengan teks asli

 2. Learning Management System (LMS) Adaptif

Fitur yang Dioptimalkan :
- Progress Tracking : Dashboard visualisasi kemajuan literasi individual
- Adaptive Quizzes : Soal menyesuaikan dengan level pemahaman
- Reading Analytics : Data waktu baca, frekuensi, dan pola belajar
- Gamification : Points, badges, leaderboards untuk motivasi

 3. Digital Reading Tools

Rekomendasi Platform :
- Hypothes.is : Anotasi kolaboratif pada teks digital
- Readwise : Highlight dan review spaced repetition
- Notion/Obsidian : Note-taking terstruktur dan interkoneksi ide
- Speechify : Text-to-speech berkualitas tinggi untuk auditory learners

 4. Anti-Distraction Technologies

Strategi :
- Focus Apps : Forest, Freedom, Cold Turkey untuk blokir distraksi
- Pomodoro Timers : Time blocking untuk sesi membaca
- Reading Mode : Browser extensions yang menyederhanakan tampilan halaman

 F. Strategi Asesmen yang Mendorong Literasi Sejati

1. Asesmen Formatif Berkelanjutan

Metode :
- Reading Journals : Refleksi mingguan tentang proses dan pemahaman
- Concept Maps : Visualisasi pemahaman yang berkembang
- One-Minute Papers : Respons cepat di akhir kelas
- Think-Alouds : Verbalisasi proses berpikir saat membaca

Frekuensi : Setiap sesi pembelajaran, bobot 30% dari nilai akhir.

2. Asesmen Sumatif yang Autentik

Alternatif dari Ujian Tradisional :
- Portfolio Literasi : Kumpulan karya terbaik selama semester
- Presentasi Multimoda : Video essay, podcast, infografis analitis
- Collaborative Research : Proyek kelompok berbasis literatur
- Public Scholarship : Artikel blog, thread Twitter akademis, video YouTube edukatif

Rubrik Penilaian :
```
1. Kedalaman Pemahaman (30%)
2. Kualitas Analisis (25%)
3. Sintesis Informasi (20%)
4. Kreativitas Presentasi (15%)
5. Refleksi Proses (10%)
```

3. Asesmen Berbasis Kompetensi

Mastery-Based Grading :
- Mahasiswa tidak dinilai berdasarkan kurva, tetapi pencapaian standar kompetensi
- Kesempatan revisi unlimited untuk mencapai mastery
- Fokus pada pertumbuhan, bukan perbandingan

Standar Kompetensi Literasi:
- Level 1: Memahami informasi eksplisit dan literal
- Level 2 : Mengidentifikasi ide utama dan supporting details
- Level 3 : Menganalisis argumen dan evaluasi bukti
- Level 4 : Mensintesis berbagai sumber dan menciptakan pengetahuan baru

G. Membangun Budaya Membaca di Kampus

1. Lingkungan Fisik yang Mendukung

Desain Ruang Belajar:
- Reading Lounges : Area nyaman khusus membaca dengan pencahayaan alami
- Silent Study Zones: Ruang bebas gangguan dengan aturan ketat
- Collaborative Spaces : Area diskusi kelompok dengan whiteboard
- Technology-Free Corners : Zona tanpa gadget untuk deep reading

2. Program Ekstrakurikuler Literasi

Inisiatif :
- Book Club Kampus : Pertemuan bulanan dengan pilihan buku beragam
- Reading Week : Seminggu tanpa tugas, fokus pada bacaan pilihan mahasiswa
- Author Talks : Mengundang penulis untuk diskusi interaktif
- Literacy Mentorship : Mahasiswa senior membimbing junior dalam reading strategies

3. Insentif dan Penghargaan

Sistem Motivasi :
- Reading Challenge : Target membaca X buku per semester dengan sertifikat
- Best Reader Awards : Penghargaan untuk mahasiswa dengan literasi terbaik
- Scholarship Opportunities : Beasiswa khusus untuk program literasi intensif
- Academic Credits : SKS untuk partisipasi aktif dalam komunitas baca

H. Peran Dosen sebagai Literacy Facilitator

1. Mindset Shift: Dari Content Deliverer ke Literacy Coach

Prinsip Pedagogi :
- Modeling : Dosen menunjukkan proses membaca dan berpikir kritis sendiri
- Scaffolding : Dukungan bertahap yang perlahan dikurangi
- Metacognitive Prompting : Pertanyaan yang mendorong kesadaran tentang proses berpikir
- Patience & Empathy : Memahami bahwa rebuilding literacy memerlukan waktu

2. Professional Development untuk Dosen

Pelatihan yang Diperlukan :
- Reading Pedagogy Workshops : Strategi mengajar literasi di level tinggi
- Technology Integration Training : Menggunakan tools digital secara efektif
- Differentiated Instruction : Mengakomodasi berbagai gaya belajar
- Assessment Literacy : Merancang asesmen yang valid dan mendorong pembelajaran

3. Kolaborasi Interdisipliner

Strategi :
- Faculty Learning Communities : Berbagi best practices antar fakultas
- Team Teaching : Kolaborasi dosen dari disiplin berbeda
- Shared Reading Assignments : Bacaan yang relevan untuk multiple courses

I. Kolaborasi dengan Pustakawan dan Learning Support

1. Information Literacy Programs

Integrasi dalam Kurikulum :
- Library Orientation : Workshop mencari, mengevaluasi, dan menggunakan sumber akademik
- Citation Management : Pelatihan Mendeley, Zotero, EndNote
- Database Navigation : Cara efektif menggunakan JSTOR, Scopus, Web of Science
- Research Consultations : One-on-one sessions dengan pustakawan

2. Learning Support Services

Program Dukungan :
- Reading & Writing Centers : Tutor sebaya untuk latihan literasi
- Academic Skills Workshops : Sesi reguler tentang teknik membaca efektif
- Study Groups : Fasilitasi kelompok belajar terstruktur
- Online Resources : Video tutorial, reading guides, practice exercises

J. Monitoring dan Evaluasi Program

1. Indikator Keberhasilan

Metrik Kuantitatif :
- Reading Speed : Peningkatan kata per menit (target: +50 wpm per semester)
- Comprehension Scores : Pre-test dan post-test standardized
- Completion Rates : Persentase mahasiswa menyelesaikan bacaan
- Library Borrowing : Statistik peminjaman buku fisik dan digital
- Academic Performance : Korelasi dengan IPK

Metrik Kualitatif :
- Reading Confidence Surveys : Self-efficacy dalam literasi akademik
- Focus Group Discussions : Feedback mendalam dari mahasiswa
- Dosen Observations : Catatan perubahan perilaku di kelas
- Portfolio Quality :  Analisis mendalam karya mahasiswa

2. Continuous Improvement Cycle

Model PDCA (Plan-Do-Check-Act) :
```
PLAN: Desain treatment berdasarkan diagnosis
  ↓
DO: Implementasi dengan fidelity
  ↓
CHECK: Evaluasi menggunakan indikator di atas
  ↓
ACT: Refine strategi berdasarkan data
  ↓
(Kembali ke PLAN untuk iterasi berikutnya)
```

Review Schedule :
- Mingguan : Quick check oleh dosen pengampu
- Mid-semester : Evaluasi formatif dan adjustment
- Akhir semester : Comprehensive assessment
- Tahunan : Program review dan strategic planning

K. Studi Kasus: Implementasi Sukses

Kasus 1: Universitas A - Flipped Classroom untuk Literasi

Konteks : Universitas swasta di Jakarta dengan 60% mahasiswa Gen Z.

Intervensi :
- Semua bacaan diberikan pre-class dengan guided questions
- Kelas tatap muka untuk diskusi mendalam, bukan lecturing
- Setiap mahasiswa membuat video eksplanasi 5 menit tentang bacaan mereka

Hasil Semester 1 :
- Completion rate bacaan meningkat dari 35% menjadi 78%
- Skor comprehension naik rata-rata 23 poin
- 92% mahasiswa melaporkan lebih percaya diri membaca teks akademik

Kasus 2: Institut B - Reading Community Approach

Konteks : Institut teknologi dengan mahasiswa mayoritas visual-kinesthetic learners.

Intervensi :
- Membentuk 20 reading circles dengan 6-8 mahasiswa per grup
- Setiap circle memilih satu buku per bulan dari daftar yang disediakan
- Pertemuan mingguan dengan facilitator terlatih
- Kompetisi antar circle untuk best discussion dan creative presentation

Hasil Semester 1 :
- 85% mahasiswa menyelesaikan minimum 4 buku
- Rata-rata peminjaman perpustakaan naik 340%
- Skor literasi PISA-style test naik dari level 1a ke level 2

Kasus 3: Politeknik C - Technology-Enhanced Scaffolding

Konteks : Politeknik vokasi dengan mahasiswa beragam latar belakang literasi.

Intervensi :
- Adaptive LMS yang memberikan bacaan sesuai level individual
- AI reading assistant dengan batasan penggunaan ketat
- Gamification dengan leaderboard dan achievement badges
- Integration dengan e-book platform dan audiobook

Hasil Semester 1 :
- 95% engagement rate dalam reading assignments
- Reading time meningkat dari rata-rata 8 menit/hari menjadi 45 menit/hari
- 73% mahasiswa mencapai target literacy competency level 3

L. Rekomendasi Kebijakan Institusional

1. Tingkat Universitas

Kebijakan Strategis :
- Mandatory Literacy Screening : Tes literasi untuk semua mahasiswa baru dengan remediation program untuk yang di bawah standar
- Literacy Across Curriculum : Semua mata kuliah wajib memiliki komponen literasi eksplisit
- Faculty Development Fund : Budget khusus untuk pelatihan dosen dalam reading pedagogy
- Library Resource Expansion : Investasi dalam koleksi digital dan fisik yang beragam

2. Tingkat Fakultas/Program Studi

Implementasi Taktis :
- Standardized Reading Load : Konsensus jumlah halaman bacaan per SKS yang realistis
- Shared Reading Assignments : Koordinasi antar mata kuliah untuk menghindari overload
- Peer Tutoring Programs : Rekrut dan latih mahasiswa senior sebagai reading tutors
- Flexible Assessment Options : Memberikan pilihan format asesmen sesuai gaya belajar

3. Tingkat Mata Kuliah

Praktik Terbaik :
- Transparent Reading Schedule : Kalender bacaan yang jelas di awal semester
- Pre-Class Engagement : Mandatory pre-reading activities dengan accountability
- Just-in-Time Teaching : Bacaan yang langsung applicable dalam aktivitas kelas
- Opt-Out Policy : Mahasiswa yang sudah menguasai materi bisa mengambil advanced reading

M. Antisipasi Tantangan dan Solusi

Tantangan 1: Resistensi Mahasiswa

Gejala : "Bacaan terlalu panjang", "Tidak ada waktu", "Tidak relevan"

Solusi :
- Jelaskan eksplisit nilai jangka panjang literasi untuk karir
- Tunjukkan koneksi bacaan dengan minat personal mahasiswa
- Mulai dengan reading load yang sangat manageable dan tingkatkan gradual
- Berikan choice dalam topik atau format bacaan

Tantangan 2: Keterbatasan Waktu Dosen

Gejala : Dosen merasa tidak ada waktu untuk implementasi strategi kompleks

Solusi :
- Pilih 2-3 strategi high-impact untuk dimulai
- Gunakan peer facilitation untuk mengurangi beban dosen
- Leverage teknologi untuk automation tugas repetitif
- Collaborative teaching untuk berbagi workload

Tantangan 3: Kurangnya Dukungan Institusi

Gejala  : Tidak ada budget, reward system, atau prioritas dari pimpinan

Solusi :
- Mulai dengan pilot project kecil dan dokumentasikan hasil
- Presentasikan data dampak negatif rendahnya literasi pada retention dan employability
- Networking dengan dosen lain untuk collective advocacy
- Cari grant eksternal untuk literacy programs

Tantangan 4: Heterogenitas Level Literasi

Gejala : Satu kelas terlalu mudah untuk sebagian, terlalu sulit untuk yang lain

Solusi :
- Tiered assignments dengan pilihan level difficulty
- Flexible grouping based on readiness
- Supplementary readings untuk yang advanced, scaffolding ekstra untuk yang struggling
- Competency-based progression, bukan time-based

N. Kesimpulan dan Tindak Lanjut

Krisis literasi mahasiswa Gen Z adalah tantangan kompleks yang memerlukan respons sistemik dan berkelanjutan. Tidak ada solusi instan, tetapi dengan kombinasi strategi yang disesuaikan dengan gaya belajar, scaffolding bertahap, integrasi teknologi yang bijak, dan komitmen institusional, perguruan tinggi dapat membalikkan tren ini.

Prinsip Kunci untuk Diingat:
1. Patience : Membangun kembali literasi memerlukan waktu, tidak bisa dipaksakan dalam seminggu
2. Differentiation : One size doesn't fit all - honor keberagaman gaya belajar
3. Scaffolding : Struktur dukungan yang secara gradual dikurangi
4. Engagement : Buat bacaan relevan, menarik, dan meaningful
5. Assessment for Learning : Gunakan asesmen untuk mendorong, bukan menghukum
6. Community : Literasi adalah aktivitas sosial, bukan hanya individual
7. Modeling : Dosen harus menjadi role model pembaca yang baik
8. Technology as Tool : AI dan digital tools adalah scaffold, bukan pengganti

Langkah Awal yang Dapat Diambil Segera :

*Untuk Dosen :
- Lakukan literacy screening informal di minggu pertama
- Kurangi reading load 30% dan tingkatkan kualitas engagement
- Implementasikan satu strategi baru (misalnya: think-pair-share) minggu depan
- Join atau bentuk faculty learning community tentang literacy pedagogy

Untuk Mahasiswa :
- Mulai dengan target sederhana: 15 menit focused reading setiap hari
- Gabung reading club atau bentuk study group
- Eksperimen dengan berbagai strategi membaca (SQ3R, Cornell notes, mind mapping)
- Manfaatkan library dan learning support services

Untuk Institusi :
- Alokasikan budget untuk faculty development dalam reading pedagogy
- Bentuk task force literasi lintas fakultas
- Investasi dalam learning analytics untuk track progress
- Buat partnerships dengan publishers untuk akses reading materials

Dengan komitmen bersama dari semua stakeholder, perguruan tinggi tidak hanya dapat mengatasi krisis literasi ini, tetapi juga menghasilkan lulusan yang menjadi pembaca kritis dan pembelajar seumur hidup yang dibutuhkan di era informasi ini.


Referensi :
1. Program for International Student Assessment (PISA) 2022
2. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Indonesia 2023
3. Fortune Magazine - "Professors Lowering Academic Standards" 
4. Kominfo - Data Literasi Digital Gen Z Indonesia
5. Universal Design for Learning (UDL) Framework
6. Scaffolded Reading Experience (SRE) Research
7. Flipped Classroom Pedagogy Studies
8. Academic Reading Strategies Research Literature

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skenario Anggaran PBB yang Inklusif untuk Mewujudkan Tatanan Dunia Baru dan Sustainable Development Goals 2030 serta Post-SDGs yang Berkeadilan

Esai: Teori dan Praktik Ekonomi Teonomik-Humanistik

Mencari Filosofis dari Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara